Saya sudah cukup lama mendalami gimana cara menerapkan growth mindset dalam kehidupan sehari-hari. Bukan cuma dari buku Carol Dweck, tapi juga lewat proses jatuh bangun menerapkannya sendiri, baik di kerjaan maupun di hubungan personal.
Satu hal yang saya sadari bahwa paham growth mindset tidak sesederhana mengetahui definisinya saja. Mempraktikkannya di momen-momen kecil sehari-hari, waktu dikritik, waktu gagal, waktu pengen nyerah, itu yang sebenarnya sulit.
Di artikel ini saya nggak cuma mau ulang teorinya. Saya mau bagikan 7 cara konkret menerapkan growth mindset yang sudah saya coba sendiri, saya lengkapi juga dengan temuan riset psikologi dari literatur internasional.
1. Ganti “Saya Tidak Bisa” dengan “Saya Belum Bisa”
Setiap kali muncul pikiran “saya nggak bisa melakukan ini,” coba sadar dan ganti kalimatnya jadi “saya belum bisa melakukan ini, tapi bisa saya pelajari.” Perubahan satu kata ini kecil, tapi efeknya besar terhadap cara otak memproses kegagalan sebagai sesuatu yang sementara, bukan permanen.
Dalam National Study of Learning Mindsets di jurnal Nature tahun 2019, David Yeager dan tim penelitinya (termasuk Carol Dweck sendiri) menguji intervensi growth mindset singkat (kurang dari satu jam) pada hampir 12.500 siswa kelas 9 di seluruh Amerika Serikat.
Hasilnya, siswa yang awalnya berprestasi rendah menunjukkan peningkatan nilai akademik setelah diajarkan bahwa kemampuan intelektual bisa berkembang, bukan sesuatu yang tetap.
Saya pertama kali coba teknik “belum bisa” ini waktu awal jadi content writer freelance dan berkali-kali ditolak klien karena tulisan saya dianggap kurang tajam.
Alih-alih mikir “saya emang nggak bisa nulis yang tajam,” saya paksa diri ganti jadi “saya belum terbiasa menulis dengan sudut pandang yang lebih tajam.”
Kedengarannya sepele, tapi itu yang bikin saya nggak berhenti belajar dan akhirnya nemuin gaya nulis saya sendiri.
2. Terapkan Growth Mindset di Tempat Kerja Lewat Cara Merespons Feedback
Waktu dapat kritik dari atasan atau klien, tahan dulu keinginan buat langsung membela diri.
Tanya ke diri sendiri, “bagian mana dari masukan ini yang bisa bikin kerjaan saya lebih baik?”, baru setelah itu putuskan mau ambil bagian mana.
Riset dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa karyawan di perusahaan dengan budaya growth mindset 34% lebih mungkin merasa punya komitmen kuat terhadap organisasi tempat mereka bekerja. Sedangkan 47% lebih mungkin menganggap rekan kerja mereka bisa dipercaya, daripada karyawan di perusahaan dengan budaya fixed mindset.
Artinya, growth mindset di tempat kerja bukan cuma soal performa individu, tapi juga membentuk budaya tim yang lebih sehat.
Contoh growth mindset di tempat kerja yang saya alami sendiri. Dulu saya pernah dapat revisi besar-besaran dari editor untuk salah satu artikel yang saya kira sudah bagus.
Reaksi pertama saya jelas kecewa. Tapi begitu saya baca ulang catatannya sebagai “bahan belajar” bukan “bukti saya nggak becus,” saya jadi lihat pola kesalahan yang sama yang selama ini saya nggak sadari. Dan itu justru mempercepat kualitas tulisan saya di project-project berikutnya.
3. Puji dan Evaluasi Proses, Bukan Cuma Hasil Akhir
Waktu menilai diri sendiri (atau orang lain, kalau kamu seorang mentor/atasan), coba fokus dulu ke usaha dan strategi yang mereka pakai, baru ke hasil.
Misalnya, alih-alih cuma bilang “kerjaanmu bagus,” coba tambahkan “cara kamu riset sebelum menulis ini kelihatan effort-nya.”
Ini bukan saran asal-asalan, ya. Studi klasik oleh psikolog Claudia Mueller dan Carol Dweck yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa anak-anak yang dipuji karena kecerdasannya (“kamu pasti pintar”) justru cenderung menghindari tantangan baru setelah gagal, dibanding anak-anak yang dipuji karena usahanya (“kamu pasti kerja keras”).
Pujian yang menyasar proses membuat seseorang lebih berani mencoba hal sulit, karena kegagalan tidak dianggap mengancam identitas dirinya.
Saya menerapkan ini waktu membimbing mentee saya yang baru belajar SEO writing. Alih-alih bilang “artikelmu udah oke,” saya sengaja bilang “cara kamu breakdown search intent di outline ini udah jauh lebih rapi dari minggu lalu.”
Dari situ saya lihat dia jadi lebih berani eksperimen dengan gaya penulisan baru, bukan cuma meniru template yang aman.
4. Cari Tantangan yang Sedikit di Luar Kemampuanmu Saat Ini
Pilih satu tugas atau proyek yang levelnya sedikit di atas kemampuanmu sekarang. Cukup menantang untuk memaksa belajar hal baru, tapi jangan sampai bikin kamu putus asa duluan sebelum mencoba.
Konsep ini dalam psikologi kognitif sebagai desirable difficulty, istilah yang dipopulerkan peneliti Robert Bjork dari UCLA. Idenya, kesulitan yang “pas” justru mempercepat proses belajar jangka panjang, daripada tugas yang terlalu mudah (bikin bosan) atau terlalu sulit (bikin menyerah).
Saya coba terapkan ini waktu mulai menerima klien dengan niche yang benar-benar baru buat saya, finansial. Namun, saya nggak langsung ambil proyek teknis-berat soal analisis saham, tapi juga nggak cuma nulis topik yang sudah saya kuasai.
Saya ambil proyek personal finance dasar yang butuh riset ekstra, tapi masih masuk akal buat saya kerjakan. Hasilnya, sekarang niche finansial jadi salah satu spesialisasi tambahan saya.
5. Jadikan Kegagalan sebagai Bahan Cerita, Bukan Rahasia yang Kamu Sembunyikan
Coba biasakan cerita ke orang lain (mentor, teman, atau bahkan lewat tulisan) tentang apa yang gagal dan apa yang kamu pelajari dari situ, bukan cuma pencapaian yang berhasil.
Riset dalam artikel Harvard Business Review soal budaya organisasi growth mindset menyebutkan bahwa perusahaan dengan budaya fixed mindset cenderung punya karyawan yang lebih sering menyembunyikan kesalahan dan mengambil jalan pintas untuk terlihat kompeten.
Sebaliknya, organisasi dengan budaya growth mindset lebih terbuka soal kegagalan karena dianggap bagian normal dari proses belajar bersama.
Saya pribadi mulai rutin menulis “retrospective” bulanan di jurnal saya sendiri, bagian yang saya tulis bukan cuma pencapaian, tapi juga proyek yang gagal saya kerjakan atau klien yang saya kecewakan.
Awalnya berat, tapi lama-lama itu bikin saya nggak lagi defensif setiap kali sesuatu nggak berjalan sesuai rencana.
6. Refleksikan Progres Secara Berkala, Bukan Cuma di Akhir Tahun
Luangkan waktu mingguan (bukan cuma tahunan) untuk menulis satu hal yang berubah dari cara berpikirmu dibanding minggu sebelumnya. Nggak perlu panjang, cukup 3-5 kalimat jujur.
Growth mindset itu abstrak kalau cuma jadi konsep di kepala. Otak kita butuh bukti konkret supaya benar-benar percaya bahwa perubahan itu nyata terjadi. Refleksi rutin adalah cara paling murah untuk menyediakan bukti itu ke diri sendiri.
Saya pakai metode ini setiap Minggu malam, biasanya cuma 10 menit sambil bikin kopi. Saya tulis satu situasi di minggu itu yang dulu bakal bikin saya baper atau nyerah, tapi sekarang saya hadapi dengan cara berbeda.
Kalau nggak saya catat, saya sering lupa dan malah merasa “kok nggak ada progres” padahal sebenarnya ada, cuma nggak kelihatan kalau nggak saya tuliskan.
7. Kelilingi Diri dengan Orang yang Juga Bertumbuh, Bukan yang Menghakimi
Perhatikan siapa yang paling sering ada di sekitarmu waktu kamu gagal atau baru mulai belajar sesuatu. Kalau mereka cenderung menghakimi atau meremehkan, coba pelan-pelan cari lingkar pertemanan atau komunitas yang lebih mendukung proses belajar, bukan cuma hasil akhir.
Ini konsisten dengan temuan soal budaya organisasi tadi. Growth mindset lebih gampang tumbuh di lingkungan yang secara kolektif menghargai usaha dan proses, bukan cuma individu yang berusaha sendirian di tengah lingkungan yang menghakimi.
Saya ngerasain bedanya waktu pindah dari circle pertemanan lama yang sering banding-bandingin pencapaian, ke komunitas sesama freelance writer yang justru saling cerita kegagalan proyek.
Growth mindset saya jauh lebih gampang saya latih di lingkungan kedua, karena saya nggak takut kelihatan “belum jago.”
Ketujuh cara menerapkan growth mindset dalam kehidupan sehari-hari di atas nggak perlu kamu lakukan semuanya sekaligus. Dari pengalaman saya pribadi, cara paling realistis adalah pilih 1-2 poin yang paling relevan dengan situasi kamu sekarang, lalu latih konsisten selama beberapa minggu sebelum nambah poin baru.
Growth mindset bukan tentang siapa yang paling cepat berubah, tapi siapa yang paling konsisten mengulang prosesnya.
Kalau kamu masih bingung bedanya growth mindset dan fixed mindset di berbagai situasi, saya sudah bahas lebih detail di panduan lengkapnya: Growth Mindset: Panduan Lengkap Mengubah Cara Berpikir untuk Hidup Lebih Baik.
