Bisnis & Kewirausahaan

7 Kebiasaan Pengusaha Sukses yang Bisa Anda Tiru

Kebiasaan pengusaha sukses yang bisa Anda tiru meliputi memulai hari dengan terencana, terus belajar, menjaga kesehatan, mengatur waktu, mengambil risiko terukur, membangun relasi, dan konsisten mengevaluasi usaha. Kebiasaan ini membantu Anda menjalankan bisnis dengan lebih terarah, meskipun hasilnya tetap bergantung pada kondisi pasar, strategi, dan sumber daya yang tersedia.

Bagi saya, pembahasan tentang pengusaha sukses terasa lebih berguna ketika bisa diterapkan dalam keseharian. Saat mengembangkan usaha di bidang penulisan, misalnya, pertanyaannya bukan hanya bagaimana mendapatkan klien, tetapi juga bagaimana membagi waktu antara mengerjakan pesanan, mengembangkan layanan, dan belajar.

Anda tidak perlu mengikuti seluruh rutinitas pengusaha terkenal untuk mulai memperbaiki cara bekerja. Berikut tujuh kebiasaan yang bisa disesuaikan dengan kondisi usaha Anda, termasuk jika saat ini bisnis masih dijalankan sambil bekerja.

1. Memulai Hari Lebih Awal dengan Prioritas yang Jelas

Bangun lebih awal bisa memberi Anda waktu untuk mempersiapkan pekerjaan sebelum pesan pelanggan, rapat, dan urusan lain mulai berdatangan. Namun, manfaatnya bergantung pada cara Anda menggunakan waktu tersebut. Bangun pagi lalu langsung tenggelam dalam media sosial belum tentu membuat pekerjaan lebih terarah.

Menurut saya, hal yang bisa ditiru adalah kebiasaan menyediakan waktu tenang sebelum mulai bekerja. Gunakan waktu ini untuk melihat jadwal, memeriksa pekerjaan yang mendekati tenggat, dan menentukan tugas yang paling penting. Dengan begitu, Anda punya arah sebelum merespons berbagai permintaan sepanjang hari.

Cobalah menuliskan tiga prioritas harian. Untuk usaha jasa, prioritasnya bisa berupa menyelesaikan pesanan klien, mengirim penawaran, dan menindaklanjuti pembayaran. Pilih tugas yang memang berpengaruh terhadap kelangsungan usaha, bukan sekadar membuat daftar panjang.

Jika ingin bangun lebih awal, sesuaikan juga waktu tidur Anda. Mulailah dengan perubahan kecil, misalnya 15 menit lebih awal, tanpa mengurangi kebutuhan istirahat. Tidak perlu memaksakan jadwal orang lain jika jam kerja dan kondisi Anda berbeda.

2. Terus Belajar Sesuai Kebutuhan Bisnis

Salah satu kebiasaan pengusaha sukses yang layak ditiru adalah menyediakan waktu untuk belajar. Kebutuhan pelanggan, cara pemasaran, dan persaingan dapat berubah. Pengetahuan yang membantu Anda memulai usaha belum tentu cukup untuk menghadapi tahap berikutnya.

Saya melihat belajar sebagai cara menjawab persoalan yang sedang dihadapi. Jika banyak calon pelanggan bertanya tetapi belum membeli, Anda bisa mempelajari cara menyusun penawaran. Jika pesanan bertambah tetapi keuntungan terasa kecil, mungkin Anda perlu memahami penetapan harga dan biaya operasional.

Belajar juga bisa membantu Anda menilai rencana pengembangan usaha. Ketika ingin membuka cabang atau meluncurkan layanan baru, memahami fungsi jasa studi kelayakan dapat menjadi langkah awal untuk mengetahui aspek yang perlu dianalisis, seperti pasar, biaya, dan risiko. Hasil kajian bisa menjadi bahan pertimbangan, meskipun tidak menjamin usaha akan berhasil.

Jika membutuhkan proses belajar yang lebih terstruktur, Anda bisa mempertimbangkan sekolah bisnis online. Periksa materi, pengalaman pengajar, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan usaha sebelum memilih program.

Agar pengetahuan tidak berhenti sebagai catatan, pilih satu hal untuk dipraktikkan. Misalnya, setelah belajar tentang penawaran jasa, perbaiki satu proposal lalu amati respons calon pelanggan. Dari situ, Anda bisa menilai apa yang perlu disesuaikan.

3. Menjaga Kesehatan dan Memberi Ruang untuk Istirahat

Saat menjalankan usaha, selalu ada pekerjaan yang terasa belum selesai. Setelah melayani pelanggan, Anda masih perlu mengurus administrasi, membuat konten promosi, atau memikirkan produk berikutnya. Tanpa batas kerja yang jelas, waktu istirahat mudah tersisih.

Bagi saya, kebiasaan menjaga kesehatan perlu masuk ke dalam rencana kerja. Jangan hanya menjadwalkan pesanan dan rapat, tetapi sisakan juga waktu untuk makan, bergerak, dan berhenti sejenak dari layar. Rutinitas ini membantu Anda membangun cara kerja yang lebih berkelanjutan.

Mulailah dari aturan sederhana yang memungkinkan untuk dijalankan. Tentukan jam selesai bekerja, ambil jeda di antara tugas, dan hindari menjadikan begadang sebagai rutinitas. Jika pekerjaan terus melampaui waktu yang tersedia, periksa kembali jumlah pesanan dan kapasitas Anda.

Anda juga bisa menetapkan jam layanan agar pelanggan mengetahui kapan pesan akan dibalas. Komunikasikan batas tersebut dengan sopan sejak awal. Menjalankan usaha tidak berarti Anda harus selalu tersedia sepanjang hari.

4. Mengatur Waktu dan Membagi Tanggung Jawab

Mengatur waktu bukan hanya soal menyusun jadwal yang padat. Anda perlu menentukan pekerjaan yang harus didahulukan, ditunda, disederhanakan, atau dibagikan kepada orang lain. Tanpa keputusan ini, hari bisa habis untuk urusan mendesak sementara pengembangan bisnis terus tertunda.

Saya suka membedakan pekerjaan untuk menjaga usaha tetap berjalan dan pekerjaan untuk mengembangkannya. Membalas pelanggan serta menyelesaikan pesanan termasuk kegiatan operasional. Sementara itu, mengevaluasi harga, memperbaiki layanan, dan mencari pasar baru membutuhkan waktu khusus.

Anda bisa membuat pembagian waktu mingguan yang sederhana:

  • Setiap hari: mengerjakan pesanan dan merespons pelanggan.
  • Pada waktu yang ditentukan: mengurus keuangan, dokumen, dan administrasi.
  • Setiap minggu: mengevaluasi hasil serta merencanakan pengembangan usaha.

Gunakan kalender atau daftar tugas yang mudah Anda perbarui. Pilihan alat tidak perlu rumit; yang penting, pekerjaan, tenggat, dan penanggung jawabnya jelas.

Ketika mulai bekerja bersama tim, delegasi perlu disertai arahan. Jelaskan hasil yang diharapkan, batas waktu, dan cara memeriksa pekerjaan. Jika tugas sering tumpang tindih atau keputusan selalu menunggu pemilik usaha, Anda bisa mengevaluasi tanda bisnis Anda membutuhkan restrukturisasi organisasi untuk memahami persoalan pembagian peran lebih lanjut.

5. Berani Mengambil Risiko yang Terukur

Mengembangkan usaha sering membutuhkan keputusan yang hasilnya belum pasti. Anda mungkin ingin menaikkan harga, menawarkan layanan baru, atau mencoba saluran pemasaran berbeda. Kebiasaan yang perlu dibangun adalah menilai risiko sebelum mengambil langkah.

Menurut saya, keberanian akan lebih berguna jika disertai batas yang jelas. Sebelum mencoba sesuatu, tentukan biaya yang bisa dialokasikan, waktu pengujian, dan hasil yang ingin diamati. Dengan begitu, Anda punya dasar untuk melanjutkan, memperbaiki, atau menghentikan percobaan.

Misalnya, Anda ingin menawarkan kelas menulis online. Mulailah dengan satu kelas berkapasitas terbatas untuk melihat minat peserta, kebutuhan materi, dan biaya pelaksanaannya. Catatan dari percobaan tersebut bisa membantu Anda menyusun program berikutnya.

Sebelum mengambil keputusan, tanyakan:

  • Apa tujuan langkah ini?
  • Berapa biaya dan waktu yang perlu disiapkan?
  • Apa dampaknya jika hasilnya tidak sesuai harapan?
  • Kapan keputusan ini akan dievaluasi?

Jika risiko yang sedang dipertimbangkan adalah meninggalkan pekerjaan untuk berbisnis, persiapannya perlu lebih menyeluruh. Anda bisa membaca pertimbangan sebelum resign dari kantor untuk membuka usaha sebelum menentukan langkah.

6. Membangun Relasi dengan Saling Memberi Manfaat

Networking dapat membantu Anda mengenal calon pelanggan, mitra, dan orang yang memahami tantangan usaha. Namun, relasi yang baik membutuhkan lebih dari sekadar bertukar kontak. Ada proses mengenal, berkomunikasi, dan membangun kepercayaan.

Bagi saya, networking terasa lebih nyaman ketika dimulai dari percakapan yang relevan. Anda bisa berbagi pengalaman, menanggapi pertanyaan, atau membantu sesuai kemampuan. Hubungan tidak harus langsung menghasilkan transaksi agar tetap bernilai.

Mulailah dari lingkungan yang dekat dengan bidang usaha Anda. Penulis, misalnya, bisa berinteraksi dengan editor, pemilik bisnis, pengelola media, atau sesama penyedia jasa kreatif. Komunitas dan kegiatan belajar juga bisa menjadi tempat untuk mengenal orang dengan kebutuhan yang berkaitan.

Setelah bertemu, jaga komunikasi secara wajar. Jika ada pembahasan kerja sama, tindak lanjuti dengan pesan yang jelas dan sesuai percakapan sebelumnya. Hindari mengirim promosi berulang tanpa mengetahui apakah orang tersebut membutuhkannya.

Relasi juga terbangun melalui cara Anda bekerja. Menepati janji, menyampaikan kendala, dan menyelesaikan tanggung jawab dapat memberi alasan bagi orang lain untuk kembali bekerja sama atau merekomendasikan Anda.

7. Konsisten Menjalankan Usaha dan Terbuka pada Evaluasi

Konsistensi membantu Anda menjalankan rencana setelah semangat awal mulai menurun. Ada hari ketika promosi tidak mendapat respons atau penawaran belum menghasilkan pesanan. Pada situasi seperti itu, kebiasaan kerja yang realistis lebih mudah dipertahankan daripada target yang terlalu berat.

Namun, saya tidak mengartikan konsistensi sebagai mengulang cara yang sama tanpa melihat hasil. Anda perlu mengamati apa yang berjalan, apa yang belum efektif, dan apa yang harus diubah. Bertahan menjalankan usaha tetap membutuhkan keluwesan dalam memilih strategi.

Luangkan waktu setiap minggu untuk memeriksa beberapa hal:

  • Jumlah pertanyaan atau calon pelanggan yang masuk.
  • Penawaran yang berubah menjadi pesanan.
  • Pendapatan dan biaya yang dikeluarkan.
  • Kendala yang paling sering muncul.
  • Pekerjaan yang menghabiskan waktu terlalu banyak.

Gunakan catatan tersebut untuk memilih satu perbaikan. Jika calon pelanggan sering bingung dengan layanan Anda, perjelas deskripsinya. Jika pekerjaan sering terlambat, sesuaikan kapasitas pesanan atau alur pengerjaannya.

Kemajuan kadang muncul dari perbaikan kecil yang dilakukan berulang. Anda tidak harus mengubah seluruh sistem sekaligus. Yang penting, ada langkah yang dijalankan dan hasil yang diperiksa.

Mulai dari Kebiasaan yang Paling Anda Butuhkan

Meniru kebiasaan pengusaha sukses bisa dimulai dengan memilih persoalan yang paling mengganggu usaha Anda saat ini. Jika pekerjaan berantakan, mulailah dari prioritas harian. Jika pengembangan usaha terasa mandek, sediakan waktu untuk belajar dan mencoba pendekatan baru.

Saya lebih menyarankan satu kebiasaan yang benar-benar dijalankan daripada tujuh rencana yang berhenti di catatan. Pilih langkah kecil, tentukan waktu pelaksanaannya, lalu evaluasi setelah beberapa minggu. Dengan cara ini, Anda bisa menemukan rutinitas yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas usaha.

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *