Pertimbangan sebelum resign mencakup alasan meninggalkan pekerjaan, kesiapan rencana usaha, kondisi keuangan, calon pelanggan, dan rencana cadangan. Jika tujuanmu adalah membuka bisnis, pastikan kamu sudah memahami bagaimana usaha akan berjalan dan bagaimana kebutuhan hidup dipenuhi ketika pendapatan belum stabil.
Rutinitas kantor yang berulang memang bisa membuat kita pengen resign. Apalagi ketika melihat orang lain menjalankan bisnis sendiri, rasanya menarik membayangkan bisa mengatur pekerjaan dan mengembangkan sesuatu sesuai keinginan. Namun, kegiatan di balik usaha tersebut belum tentu terlihat dari luar.
Bagi saya, rasa jenuh perlu didengarkan, tetapi keputusan meninggalkan pekerjaan membutuhkan persiapan. Kalau kamu pengen resign tapi bingung harus mulai dari mana, coba gunakan lima pertimbangan berikut untuk menilai kesiapanmu.
1. Pastikan Alasan Resign dan Rencana Usahamu Sudah Jelas
Pertimbangan sebelum resign kerja yang pertama adalah memahami alasanmu ingin keluar. Apakah kamu ingin mengembangkan usaha yang sudah berjalan, membutuhkan perubahan karier, atau sedang lelah menghadapi situasi kantor? Jawaban ini membantu kamu menentukan apakah membuka bisnis memang langkah yang sesuai.
Menurut saya, penting untuk membedakan persoalan pekerjaan dengan tujuan berbisnis. Kalau masalah utamanya adalah beban kerja atau lingkungan kantor, kamu mungkin perlu mengevaluasi pilihan lain juga. Sementara itu, jika ingin fokus pada usaha, kamu perlu mengetahui pekerjaan apa yang akan dilakukan setelah resign.
Cobalah menuliskan rencana usaha secara sederhana. Tidak harus berupa proposal panjang, tetapi setidaknya kamu bisa menjelaskan beberapa hal berikut:
- Produk atau layanan yang akan dijual.
- Target pelanggan dan kebutuhan mereka.
- Harga serta biaya untuk memenuhi pesanan.
- Cara menjangkau calon pelanggan.
- Kebutuhan peralatan, waktu, dan tenaga.
- Langkah kerja dalam beberapa bulan pertama.
Misalnya, kamu ingin membuka jasa penulisan artikel. Tentukan jenis tulisan yang ditawarkan, cakupan pekerjaan, waktu pengerjaan, dan ketentuan revisi. Dengan begitu, kamu bisa mulai menguji penawaran sebelum menjadikannya sumber penghasilan utama.
Untuk memperjelas persiapan, kamu bisa membaca hal yang harus dipertimbangkan sebelum memulai usaha baru. Gunakan pembahasan tersebut sebagai bahan untuk meninjau bagian yang belum siap.
Jika rencana usahamu membutuhkan analisis lebih mendalam, kamu dapat mempertimbangkan jasa studi kelayakan. Sesuaikan kajiannya dengan kebutuhan, seperti pasar, operasional, dan keuangan. Hasilnya dapat membantu pengambilan keputusan, meskipun tidak menjamin bisnis pasti berhasil.
2. Hitung Kesiapan Keuangan Sebelum Meninggalkan Gaji Tetap
Saat mengambil keputusan resign kerja, kamu perlu mengetahui bagaimana pengeluaran akan dipenuhi setelah gaji berhenti. Usaha mungkin sudah memiliki pesanan, tetapi pendapatannya belum tentu rutin. Ada pula kemungkinan pembayaran pelanggan masuk lebih lambat daripada jadwal pengeluaran.
Bagi saya, kesiapan keuangan perlu dilihat dari angka yang nyata. Catat kebutuhan hidup, tanggungan, kewajiban rutin, dan biaya usaha. Jangan hanya mengandalkan perkiraan bahwa bisnis akan segera menghasilkan.
Pisahkan dana untuk kebutuhan pribadi dan dana usaha. Jika seluruh tabungan dianggap sebagai modal, kamu bisa kehilangan gambaran tentang dana yang masih tersedia untuk kehidupan sehari-hari. Pemisahan ini juga membantu kamu menilai biaya bisnis dengan lebih jelas.
Mulailah dengan mencatat:
- Kebutuhan pribadi: makan, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, dan kewajiban rutin.
- Modal awal: peralatan, bahan, atau kebutuhan untuk mulai beroperasi.
- Biaya operasional: pengeluaran yang muncul selama usaha berjalan.
- Pendapatan yang tersedia: penghasilan atau pesanan yang sudah ada.
- Dana cadangan: dana untuk menghadapi pendapatan yang lebih rendah dari rencana.
Setelah itu, coba hitung kondisi ketika penjualan sepi atau pembayaran terlambat. Apakah kebutuhan pokok masih bisa dipenuhi? Berapa lama dana yang tersedia dapat menopang pengeluaran tersebut?
Jumlah dana yang dibutuhkan setiap orang berbeda. Kamu perlu menyesuaikannya dengan tanggungan, biaya tetap, dan jenis usaha. Jika perhitungannya belum jelas, gunakan waktu sebelum resign untuk memperbaiki catatan dan menambah persiapan.
3. Uji Kesiapan Menghadapi Cara Kerja dan Pendapatan yang Berubah
Punya usaha sendiri memberi ruang untuk menentukan arah pekerjaan. Namun, kamu juga perlu menangani tanggung jawab yang sebelumnya mungkin dikerjakan oleh bagian lain di kantor. Pemasaran, pelayanan pelanggan, administrasi, dan pengerjaan pesanan bisa menjadi tugasmu sekaligus.
Saya melihat kesiapan berbisnis sebagai kemampuan yang bisa dilatih. Kamu tidak harus selalu percaya diri, tetapi perlu belajar merespons masalah dengan langkah yang jelas. Misalnya, mencari penyebab penawaran ditolak atau memperbaiki proses ketika pekerjaan terlambat.
Sebelum resign, cobalah menjalankan usaha dalam skala yang sesuai kapasitasmu. Dari pengalaman tersebut, kamu bisa mengetahui berapa lama pekerjaan selesai, kendala yang berulang, dan bagian yang membutuhkan bantuan. Gambaran ini lebih berguna daripada hanya membayangkan kebebasan menjadi pemilik bisnis.
Pertimbangkan juga bagaimana kamu menghadapi pendapatan yang berubah. Ketika pesanan menurun, apakah kamu punya cara untuk mengevaluasi pemasaran dan mengendalikan biaya? Ketika pesanan meningkat, apakah kamu mampu menjaga kualitas dan memenuhi tenggat?
Kalau usaha dijalankan sambil bekerja, perhatikan aturan tempat kerja serta tanggung jawab pekerjaanmu. Buat batas waktu yang memungkinkan keduanya dikelola. Setelah itu, nilai apakah tambahan waktu setelah resign benar-benar akan membantu menyelesaikan hambatan utama usaha.
4. Pastikan Ada Calon Pelanggan dan Uji Penawaranmu
Salah satu pertimbangan sebelum resign yang sering terlewat adalah keberadaan pelanggan. Teman mungkin menyukai ide bisnismu, tetapi belum tentu membutuhkan produknya. Kamu perlu mengetahui apakah ada orang yang bersedia membayar penawaran tersebut.
Menurut saya, pengujian kecil bisa membantu mengurangi asumsi. Kalau menjual produk, tawarkan dalam jumlah terbatas. Kalau membuka jasa, mulailah dengan beberapa pesanan yang memiliki harga, cakupan, dan jadwal pengerjaan jelas.
Perhatikan respons setelah penawaran dibuat. Apakah orang hanya bertanya, membeli, atau kembali memesan? Cari tahu juga alasan mereka memilih layananmu dan hal yang membuat mereka ragu.
Catatan sederhana bisa mencakup:
- Sumber datangnya calon pelanggan.
- Pertanyaan yang paling sering muncul.
- Jumlah penawaran yang menjadi pesanan.
- Kendala dalam proses pembelian.
- Masukan setelah produk atau layanan digunakan.
Kamu juga bisa menggunakan jasa sebar kuesioner untuk membantu menjangkau responden sesuai target pasar. Susun pertanyaan yang menggali kebutuhan, kebiasaan membeli, dan masalah yang mereka hadapi. Bandingkan hasil survei dengan respons terhadap penawaran nyata karena ketertarikan belum tentu menjadi pembelian.
Jaringan pertemanan dan komunitas dapat membantu memperkenalkan usaha. Namun, cobalah membangun cara mendapatkan pelanggan di luar lingkungan terdekat. Dengan begitu, kamu bisa menilai apakah permintaan terhadap usahamu dapat berkembang.
5. Siapkan Rencana Cadangan dan Batas Evaluasi
Rencana cadangan adalah bagian penting dari pertimbangan sebelum resign kerja. Meskipun persiapan sudah dilakukan, hasil usaha bisa berbeda dari perkiraan. Kamu perlu mengetahui langkah yang akan diambil ketika penjualan, biaya, atau kebutuhan pribadi berubah.
Bagi saya, plan B akan lebih berguna jika disertai kondisi yang jelas. Tentukan kapan kamu akan mengevaluasi penawaran, mengurangi pengeluaran, atau mencari pendapatan tambahan. Dengan begitu, keputusan tidak harus dibuat terburu-buru ketika situasi sudah mendesak.
Beberapa alternatif yang bisa disiapkan antara lain:
- Memperkecil skala usaha untuk mengurangi biaya.
- Menyesuaikan produk atau layanan berdasarkan masukan pelanggan.
- Mengambil pekerjaan freelance sesuai keterampilan.
- Menunda penambahan tim atau pembelian peralatan.
- Mempertimbangkan pekerjaan tetap kembali jika diperlukan.
Periksa juga asumsi dalam rencana bisnis. Apakah target penjualan terlalu tinggi, ada biaya yang belum dihitung, atau pemasaran bergantung pada satu saluran? Pembahasan tentang kesalahan saat membuat rencana usaha bisa menjadi bahan untuk meninjau persiapan tersebut.
Jika masih banyak bagian yang belum teruji, kamu bisa melanjutkan usaha sampingan terlebih dahulu. Gunakan tahap ini untuk memahami pelanggan, mencatat hasil penjualan, dan memperbaiki proses kerja. Kemudian, evaluasi kembali keputusan resign berdasarkan perkembangan yang benar-benar terjadi.
Pengen Resign tapi Bingung? Mulai dari Hal yang Belum Siap
Kalau kamu pengen resign tapi bingung, coba tuliskan alasan ingin keluar dan persiapan yang sudah dilakukan. Pisahkan hal yang sudah terbukti dari hal yang masih berupa harapan. Misalnya, “sudah ada pelanggan berulang” berbeda dengan “sepertinya banyak orang akan tertarik”.
Setelah itu, pilih bagian yang paling perlu diperbaiki. Kamu mungkin perlu menghitung pengeluaran, menguji harga, mencari pelanggan pertama, atau menyusun jadwal kerja. Langkah kecil tersebut bisa memberi informasi yang membantu kamu mengambil keputusan resign kerja.
Menurut saya, kamu tidak harus langsung menemukan jawaban akhir hari ini. Yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan dasar keputusan yang lebih jelas. Tentukan apa yang ingin diuji dan kapan hasilnya akan dievaluasi.
Kapan Sebaiknya Resign untuk Membuka Usaha?
Resign untuk membuka usaha lebih layak dipertimbangkan ketika rencana bisnis bisa dijalankan, kebutuhan keuangan sudah dihitung, penawaran telah diuji, dan pilihan cadangan tersedia. Kamu juga perlu memahami mengapa bisnis membutuhkan perhatian penuh serta bagaimana tambahan waktu akan digunakan.
Tidak ada waktu resign yang cocok untuk semua orang. Sebagian orang masih perlu memperkuat dana cadangan, sementara yang lain perlu memperbaiki layanan atau membangun pelanggan. Kondisi inilah yang sebaiknya menjadi dasar keputusanmu.
Bagi saya, pertimbangan sebelum resign membantu kita melihat kesiapan dengan lebih jujur. Sebelum mengajukan pengunduran diri, periksa kembali alasan, angka, dan hasil pengujian usahamu. Dari sana, kamu bisa menentukan apakah sudah waktunya beralih penuh ke bisnis atau masih perlu melanjutkan persiapan.
