Health

Belajar Mendengarkan Tubuh Sendiri: Cara Saya Mengatasi Mata Kering Tanpa Harus ke Dokter

cara mengatasi mata kering

Ada fase dalam perjalanan akademik yang terasa begitu laten. Bertahun-tahun dinantikan, lalu hadir nyaris tanpa aba-aba.

Bagi saya, fase itu datang ketika akhirnya memasuki tahap penyelesaian tesis yang sudah lama saya perjuangkan. Jika berhasil dituntaskan, tesis tersebut bukan sekadar menjadi syarat kelulusan, melainkan gerbang menuju babak baru yang selama ini saya ikhtiarkan perlahan dari sudut meja kerja sederhana di rumah.

Tujuh hari menjelang target penyelesaian, ritme hidup saya nyaris sepenuhnya dipenuhi revisi. Bab demi bab terus disempurnakan, literatur diperluas, lalu setiap argumen dipoles berkali-kali hingga terasa presisi.

Malam berganti dini hari tanpa benar-benar saya sadari. Yang justru paling membekas adalah sensasi ganjil pada mata, setiap kedipan terasa serupa butiran debu yang menggesek kelopak.

Mula-mula saya menganggapnya sebagai konsekuensi lumrah dari begadang dan tenggat penyelesaian tesis yang semakin mendesak. Namun ternyata, saya salah.

Ketika Mata Memberi Isyarat yang Terlambat Disadari

Dua hari menjelang target penyelesaian tesis, ada yang terasa ganjil pada mata saya. Awalnya hanya sedikit sepet, lalu berubah menjadi perih setiap kali menatap layar lebih dari beberapa menit. 

Saya menganggapnya sebagai keletihan biasa yang akan luruh setelah tidur. Namun, saat menyelesaikan revisi terakhir di malam sebelum pengumpulan, mata saya justru terasa semakin berat. Seolah daya tahannya telah terkikis dan tak lagi sanggup menopang fokus.

Belakangan saya baru mencari tahu bahwa tiga gejala itu (mata sepet, perih, dan cepat lelah) bukanlah keluhan biasa. Ketiganya merupakan manifestasi khas mata kering yang kerap luput dari perhatian, terutama bagi mereka yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar. 

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Investigative Ophthalmology & Visual Science menunjukkan bahwa penggunaan perangkat digital dalam durasi panjang dapat menurunkan frekuensi berkedip. 

Akibatnya, lapisan air mata menjadi labil, sehingga permukaan mata kehilangan perlindungan alaminya dan memunculkan rasa perih, sepet, serta kelelahan visual.

Yang paling saya sesalkan adalah kecenderungan untuk menganggap semua itu sebagai perkara remeh. Saya terus meyakinkan diri bahwa rasa tidak nyaman itu akan lenyap dengan sendirinya setelah tesis selesai dikumpulkan. 

Padahal, memaksa mata yang sudah mengalami iritasi untuk terus menatap layar hanya akan memperbesar risiko hilangnya konsentrasi. Bukan isi tesis yang menjadi persoalan, melainkan kemampuan saya untuk tetap fokus di tengah gangguan yang terus menginterupsi.

Saya masih mengingat momen ketika akhirnya menutup laptop beberapa menit. Saya memejamkan mata, berharap sensasi mengganjal itu perlahan mereda. 

Sayangnya, begitu layar kembali menyala, rasa perih hadir lagi dengan intensitas yang lebih tajam. Saya refleks mengucek mata, meski sadar tindakan itu hanya memperparah iritasi. 

Di situlah kecemasan mulai merambat. Bukan lagi sekadar tentang kondisi mata, tetapi tentang apakah saya masih mampu menyelesaikan tesis dengan hasil terbaik setelah perjuangan panjang yang telah saya tempuh.

BACA JUGA: Coba Insto Dry Eyes, Solusi Mata Kering Depan Laptop!

Kenapa Gejala Sekecil Ini Sering Dianggap Angin Lalu?

Sejak mengalami kejadian itu, ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepala saya. Mengapa mata sepet, perih, dan cepat lelah begitu mudah dianggap angin lalu, padahal dampaknya bisa menjalar ke momen yang sangat menentukan. 

Rasa penasaran itu akhirnya membawa saya menelusuri berbagai jurnal dan publikasi ilmiah. Dari sanalah saya menemukan bahwa penyebabnya jauh lebih kompleks daripada sekadar kurang tidur.

Gejala digital eye strain ternyata tidak datang secara tiba-tiba. Karena muncul sedikit demi sedikit, banyak orang keliru menganggapnya sebagai keletihan biasa yang akan pulih dengan sendirinya. 

Padahal, kondisi ini memiliki mekanisme biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah sekaligus ditangani dengan cara yang tepat.

Salah satu kajian mengenai kesehatan mata digital menguraikan proses tersebut dengan cukup gamblang. Ketika seseorang terlalu lama memusatkan perhatian pada layar, frekuensi berkedip akan merosot cukup signifikan. Kedipan yang masih terjadi pun sering kali tidak menutup sempurna. Akibatnya, lapisan air mata gagal tersebar merata di permukaan mata.

Padahal, setiap kedipan merupakan semacam “penyegar alami” bagi mata. Ia bertugas menjaga permukaan mata tetap lembap sekaligus terlindungi. Saat proses itu terhambat (persis seperti yang saya alami ketika berjam-jam merevisi tesis tanpa benar-benar beranjak dari depan laptop) permukaan mata mulai kehilangan kelembapannya. Dari situlah sensasi sepet, perih, hingga cepat lelah perlahan mengambil alih.

Saya seolah ditampar oleh sebuah kenyataan. Selama ini saya selalu menganggap mata kering hanyalah ongkos yang harus dibayar ketika menyusun tesis. Seolah begadang dan menatap layar berjam-jam memang pasti berakhir seperti itu. 

Padahal, kondisi tersebut memiliki penyebab yang sangat jelas. Yang lebih melegakan lagi, gejalanya ternyata bisa dicegah maupun diringankan jika tidak terus-menerus disepelekan.

Penyelamat Mata Kering

Pagi ketika hari bimbingan sekaligus pengumpulan tesis akhirnya tiba, saya terbangun dengan mata yang masih terasa berat. Pantulan di cermin memperlihatkan semburat kemerahan yang sulit diabaikan. Seketika berbagai kemungkinan berkelebat di kepala. 

Bagaimana jika nanti saya harus menatap layar sambil terus menahan rasa perih, sementara profesor meminta saya membuka kembali beberapa bagian naskah untuk direvisi saat itu juga?

Ini bukan lagi soal rasa tidak nyaman. Yang saya khawatirkan justru kemampuan untuk tetap jernih membaca, berpikir, dan menjawab setiap masukan dengan kepala dingin. Saya berdiri beberapa saat di depan cermin, memandangi mata yang tampak letih. Rasanya ironis jika perjuangan berbulan-bulan menyusun tesis justru tersendat oleh sesuatu yang sebenarnya masih bisa dicegah.

Dalam perjalanan menuju kampus, saya memutuskan singgah ke sebuah apotek. Begitu sampai di meja pelayanan, saya langsung bertanya, “Mbak, mata saya lagi perih dan agak sepet. Ada rekomendasi obat tetes mata?”

Apotekernya mengangguk pelan, lalu meraih sekotak Insto Dry Eyes dari rak di belakangnya. Produk itu sebenarnya sudah tidak asing bagi saya. Namun, saya memang tidak pernah sembarangan menggunakan obat tetes mata. Sejak SMP saya memiliki mata minus, sehingga setiap produk yang berkaitan dengan kesehatan mata selalu saya pilih dengan penuh kehati-hatian.

Melihat saya masih tampak ragu, apotekernya tersenyum tipis. “Kalau keluhannya seperti itu, Kak, coba pakai Insto Dry Eyes. Formulanya memang dirancang untuk membantu meredakan gejala mata kering seperti mata sepet, perih, dan cepat lelah. Cocok juga buat yang aktivitasnya banyak di depan layar,” jelas si Apoteker, seolah tahu apa yang saya pikirkan.

Saya masih sempat memastikan sekali lagi. “Efeknya lumayan cepat nggak, ya?” tanya saya. Ia mengangguk mantap. “Coba diteteskan dulu, aja, kak. Biasanya cuma beberapa menit setelah ditetesi, mata bisa terasa lebih nyaman, jadi aktivitas bisa dilanjutkan tanpa terlalu terganggu.”

Jawaban itu membuat keraguan saya perlahan mencair. Saya membawanya, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju kampus.

Beberapa menit sebelum masuk ke ruang bimbingan, saya coba tetesin Insto Dry Eyes. Responsnya terasa cukup sigap. Sensasi sepet dan perih yang sejak pagi membayangi mulai berangsur surut, sementara mata terasa jauh lebih ringan. 

Saat akhirnya duduk berhadapan dengan profesor sambil membuka kembali naskah tesis di layar laptop, perhatian saya sepenuhnya tertuju pada setiap catatan dan diskusi yang berlangsung. 

Kekhawatiran yang sejak semalam memenuhi kepala perlahan menguap, berganti dengan rasa lega karena momen penting itu akhirnya dapat saya jalani dengan fokus yang utuh.

Belajar Merawat Kesehatan Mata

Hari itu akhirnya saya berhasil menyelesaikan sidang tesis dengan lancar. Naskah yang berbulan-bulan saya rawat, revisi, dan perjuangkan akhirnya sampai di garis akhir. 

Namun, pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang justru bukan tentang kelulusan itu sendiri. Saya baru menyadari betapa rapuhnya jarak antara sebuah momen yang telah lama dinantikan dengan kemungkinan buyar hanya karena saya sempat menganggap remeh gejala mata yang tampak begitu sederhana.

Sejak pengalaman itu, saya mulai lebih bersungguh-sungguh mencari cara mengatasi mata kering tanpa harus tergesa-gesa mendatangi dokter setiap kali keluhan muncul.

Saya memahami bahwa ikhtiar kecil yang dijalankan secara ajek sering kali menghadirkan dampak yang jauh lebih nyata dibanding tindakan yang baru dilakukan ketika kondisinya telah terlanjur memburuk. 

Perlahan, beberapa kebiasaan baru pun bersemayam dalam rutinitas harian saya.

Mendisiplinkan jeda saat menatap layar

Kini saya berusaha setia menerapkan aturan 20-20-20. Setiap dua puluh menit menatap layar, saya mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar dua puluh kaki atau kurang lebih enam meter selama dua puluh detik. 

Kebiasaan yang tampak sederhana itu ternyata bertumpu pada landasan ilmiah yang cukup kuat. Ada sebuah penelitian yang membandingkan berbagai perilaku visual menemukan bahwa kepatuhan terhadap aturan tersebut menjadi salah satu penanda yang berkaitan dengan membaiknya gejala mata kering pada pengguna perangkat digital jangka panjang. 

Faktor itu bekerja beriringan dengan durasi penggunaan layar yang tetap berada dalam batas moderat. Temuan tersebut membuat saya semakin percaya bahwa jeda singkat bukan sekadar ritual.

Pada awalnya saya nyaris selalu lupa melakukannya. Pekerjaan yang menyita perhatian membuat waktu menguap tanpa terasa. Karena itu, saya memasang pengingat di ponsel yang berbunyi setiap dua puluh menit. Barangkali terdengar berlebihan. 

Namun justru pengingat kecil itulah yang perlahan mengubah niat menjadi laku yang menetap, bahkan ketika tenggat sedang menghimpit.

Membiasakan kedipan mata yang utuh

Saya juga mulai melatih diri untuk berkedip secara lebih sempurna ketika bekerja di depan layar dalam waktu lama. 

Setelah memahami bahwa frekuensi sekaligus kualitas kedipan cenderung merosot saat seseorang terlalu larut menatap monitor, saya berusaha lebih sadar memberi ruang bagi mata untuk menutup dengan utuh. Terutama ketika sedang tenggelam dalam sesi membaca jurnal atau merevisi naskah selama berjam-jam.

Selain itu, saya ikut menata ulang posisi meja kerja. Ternyata letak monitor yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dari garis pandang dapat memengaruhi pola kedipan tanpa disadari. 

Penyesuaian yang nyaris tak terlihat itu justru menghadirkan kenyamanan yang jauh lebih terasa selama bekerja.

Menata ruang kerja agar lebih ramah bagi mata

Hal lain yang kini tidak lagi saya abaikan adalah pencahayaan ruang kerja dan jarak pandang ke layar. Keduanya kerap diperlakukan sebagai perkara sepele. 

Padahal, pencahayaan yang kurang memadai serta posisi layar yang terlalu dekat dapat memperberat gejala mata kering meskipun durasi penggunaan perangkat tidak berubah.

Dulu saya sering bertahan hingga larut malam hanya ditemani cahaya dari layar laptop. Lampu kamar yang redup terasa sudah memadai. 

Kini saya selalu memastikan meja kerja memperoleh pencahayaan tambahan yang cukup agar mata tidak dipaksa bekerja melampaui batas yang semestinya.

Menyiapkan solusi cepat sebelum keluhan memburuk

Satu kebiasaan lain yang kini tidak pernah saya tinggalkan adalah menyediakan Insto Dry Eyes di atas meja kerja. 

Kehadirannya menjadi bentuk antisipasi ketika gejala mulai muncul sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih mengusik. Saya tidak lagi menunggu sampai mata terasa sangat perih atau terlalu lelah seperti yang dahulu kerap saya lakukan.

Begitu sensasi sepet, perih, atau lelah mulai menyapa, terutama ketika pekerjaan sedang menumpuk, saya langsung menggunakan Insto Dry Eyes

Dari pengalaman pribadi, saya merasakan produk ini membantu meredakan keluhan dengan cukup sigap pada saat-saat yang benar-benar genting. Ukurannya yang ringkas juga membuatnya mudah diselipkan ke mana saja. 

Karena itu, bukan hanya menetap di meja kerja, tetapi juga selalu ikut bepergian di dalam tas saya sebagai bekal sederhana setiap kali harus bekerja dari luar rumah.

Jangan Tunggu Momen Pentingmu Terganggu #MataSePeLeJanganSepelein

Saya membagikan pengalaman ini bukan untuk membesar-besarkan keadaan. Justru saya baru menyadari betapa gampangnya kita (terutama yang saban hari berhadapan dengan layar) menganggap enteng gejala mata kering. 

Padahal, gangguan yang tampak sepele itu nyaris merusak momen yang sangat berarti bagi saya. Bagi saya, #MataSePeLeJanganSepelein sebuah alarm yang lahir dari pengalaman pribadi: rasa sepet, perih, atau lelah pada mata tidak semestinya diabaikan, terlebih saat ada pencapaian penting yang sedang kamu perjuangkan.

Kalau rutinitasmu juga dipenuhi aktivitas di depan layar, entah untuk bekerja, mengerjakan tugas, atau sekadar menikmati scrolling harian, jangan menunggu sampai gejalanya mengusik momen pentingmu seperti yang hampir saya alami. 

Kenali sinyal-sinyalnya sedini mungkin. Biasakan merawat kesehatan mata secara berkesinambungan. Dan siapkan solusi praktis seperti INSTO DRY EYES di dekatmu agar tetap #BebasMataKering kapan pun gejalanya mulai terasa. Sebab pada akhirnya, setiap momen berharga dalam hidup maupun perjalanan kariermu terlalu bernilai untuk dipertaruhkan hanya karena masalah yang sejatinya dapat diantisipasi sejak awal.

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *