Adakah di antara kalian yang pernah merasa tercekik dengan kabut asap ketika membuka jendela di pagi hari? Bukan, ini bukan plot cerita film dystopia yang kalian tonton di Netflix, tapi kenyataan pahit yang kerap dialami oleh penduduk di beberapa daerah Indonesia akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Peristiwa Karhutla Besar di Indonesia

Masih ingat dengan suatu tragedi ekologi memilukan yang terjadi di Indonesia pada tahun 2015? Bayangkan kawasan hutan hijau yang subur, yang mendukung kehidupan tak terhitung banyaknya, tiba-tiba berubah menjadi lautan api. Sebuah kombinasi buruk dari aktivitas manusia dan fenomena alam. Pembukaan lahan untuk perusahaan bubur kayu, minyak sawit, karet, dan peternakan—terutama di area rawa gambut—bersamaan dengan dampak El Nino, menjadi biang keladi bencana ini.

Dari barat hingga timur, api mengamuk, melahap lebih dari 2,6 juta hektar lahan di 32 provinsi. Sumatera Selatan, Riau, Jambi, dan sejumlah daerah di Kalimantan serta Papua menjadi saksi bisu kehancuran terbesar. Alam mengalami kerugian yang tidak terhitung: kayu, produk non-kayu, habitat satwa, hingga harta karun keanekaragaman hayati dengan kerugiannya diperkirakan mencapai $295 juta. Ribuan hektar yang menjadi rumah bagi orangutan dan sejumlah spesies yang hampir punah hilang dalam sekejap dilahap si jago merah. 

Kabut asap membelenggu negeri ini, mencapai hampir 80% wilayah Indonesia, dan bahkan menyusup ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Seakan-akan seluruh negeri dilingkupi oleh selimut hitam pekat, menyulitkan nafas. Pemerintah dan relawan bekerja keras berusaha memadamkan 120 ribu titik api lewat berbagai cara. Dan seperti mukjizat, hujan besar turun pada Oktober, menghentikan amukan api.

Namun, dampaknya tak hanya pada alam. Hampir setengah juta jiwa mengalami gangguan pernapasan, dengan racun asap yang merasuki setiap celah udara, menyebabkan mata perih, kulit gatal, dan penderitaan khusus bagi anak-anak hingga kaum lanjut usia. Beberapa bahkan meninggal. Jika itu belum cukup memilukan, bayangkan 5 juta siswa yang harus melewatkan hari-hari belajar akibat sekolah yang ditutup. Dan puncaknya, tragedi ini menghasilkan emisi 1,1 gigaton setara CO2, memperparah krisis pemanasan global yang kita hadapi hari ini. 

Peran Penting Lahan Gambut

Pernahkah kamu membayangkan potret hutan yang rimbun, rawa yang mengundang, dan ekosistem yang kaya? Lahan gambut punya peranan penting di dalamnya. Lantas, apa saja peranan penting lahan gambut?

  1. Mengurangi Dampak Bencana Banjir dan Kemarau

Tutuplah mata sejenak dan bayangkan lautan air yang meresap dalam keheningan, lalu tiba-tiba menghilang tanpa jejak saat musim kemarau tiba. Inilah pesona daya serap lahan gambut. Seperti tandon raksasa, gambut mampu menampung air sebesar 450-850 persen dari berat keringnya. 

Sepintas, lahan gambut terlihat seperti penyerap alami yang mengatur aliran air. Saat hujan melanda, ia dapat menampung air di dalamnya; saat kemarau menyerang, ia melontarkan cadangan airnya untuk mendinginkan dahaga tanah. Namun, ini bukan hanya tentang jumlah air yang dia tampung, melainkan bagaimana ia menjadi penyeimbang alamiah yang menghindari banjir mendalam dan kemarau melarat.

  1. Menunjang Perekonomian Masyarakat Lokal

Bayangkan sebuah desa yang hidup rukun di tengah hamparan lahan gambut. Di sana, rakyatnya menjalin harmoni dengan flora dan fauna yang melimpah. Tanaman dan hewan yang tinggal di lahan gambut bukan hanya sekadar tetangga, tetapi juga sahabat yang menyumbang pangan dan pendapatan. 

Masyarakat lokal menggantungkan hidup pada hasil bumi yang deras di lahan ini. Di antara semak-semak dan rawa-rawa, mereka meramu potensi yang tak ternilai dari lahan gambut, mengubahnya menjadi ladang yang berlimpah dan hutan rakyat yang menghidupkan mata pencaharian.

  1. Habitat untuk Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Selain itu, berbagai macam flora dan fauna dapat tumbuh dan tinggal di lahan gambut.  Flora berkembang dengan gemilang, beberapa di antaranya membawa manfaat bagi manusia. Begitu juga dengan fauna, yang menjadi pemain utama dalam pentas ekosistem. Burung-burung berkicau lepas, serangga bersahutan, dan mamalia menjalankan peran penting dalam menjaga keseimbangan. Mereka adalah penjaga keberlanjutan ekosistem gambut, menjaga permainan alami yang terjadi di atas panggung lumpur dan air.

  1. Lahan Gambut Menjaga Perubahan Iklim

Gambut menyimpan karbon dalam jumlah yang tak terhingga. Mengandung dua kali lipat lebih banyak karbon daripada hutan di seluruh dunia, lahan gambut adalah penjaga cadangan karbon yang tak ternilai. Sayangnya, ketika terancam —dikeringkan atau mengalami alih fungsi—simpanan karbon di dalam gambut terlepas ke udara, meracuni atmosfer dengan gas rumah kaca yang berbahaya.

Dampak Karhutla

  • rantai makanan rusak
  • satwa liar masuk ke perkampungan
  • fungsi ekologis hutan gambut rusak
  • hilangnya keanekaragaman hayati
  • Kesehatan
  • aktivitas perekonomian terhambat
  • sekolah diliburkan
  • akses transportasi udara terhambat
  • Petani tidak punya lahan garap
  • Terpaksa menjadi buruh
  • anomali cuaca
  • gagal panen
  • munculnya virus/penyakit baru
  • hilangnya dataran pesisir

Bagaimana Lahan Gambut Bisa Terbakar?

Lahan gambut, yang terlihat sejuk, ternyata bisa berubah menjadi panggung kobaran api yang mengerikan. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? 

Pernah melihat lahan gambut yang mengering, dengan tumbuhan yang kering berjatuhan? Pemandangan ini mungkin terlihat sepele, tetapi inilah panggung awal bagi pemicu kebakaran yang bisa terjadi. Sebercak api kecil, mungkin bahkan sebatang rokok yang belum padam, bisa berubah menjadi penyulut api mematikan. Lapisan gambut yang kering seperti sekam mudah terbakar, dan api ini dengan cepat menjalar.

Lapisan gambut adalah suatu jenis tanah yang umumnya terdiri dari bahan-bahan organik yang terbentuk dari tumbuhan yang terurai seiring waktu. Lapisan ini sering kali memiliki kemampuan untuk menyimpan air dan bahan organik dalam jumlah besar, membuatnya menjadi bahan yang sangat mudah terbakar. Ketika kebakaran terjadi di atas permukaan gambut, api dapat merambat melalui lapisan-lapisan atas yang kering dengan cepat karena adanya materi organik yang mudah terbakar.

Namun, ketika api menjalar melalui lapisan-lapisan atas ini, ia dapat membakar dan mengeringkan lapisan gambut tersebut. Meskipun api di permukaan telah padam, beberapa bagian dalam lapisan gambut mungkin masih berisi sisa-sisa panas dan bara.

Nah, lapisan gambut yang dalam ini memiliki ciri-ciri tertentu yang membuatnya rentan terhadap pembakaran yang dalam:

  • Isolasi Termal: Gambut punya kemampuan bagus dalam menjaga panas tetap berada di permukaan. Ini berarti panas dari atas tak mudah menyebar ke dalam, menjadikannya sulit untuk dipadamkan.
  • Kadar Air: Lapisan gambut yang dalam seringkali lebih lembap daripada bagian permukaan yang terbakar. Kelembapan ini berperan sebagai penghalang terhadap api. Namun, dalam situasi tertentu, panas yang tersisa di dalam gambut bisa mengeringkan kelembapan ini, menciptakan kondisi rawan pembakaran kembali.
  • Pembusukan Lambat: Proses perombakan dan pembusukan material organik di dalam gambut berjalan lambat. Inilah yang membuat sisa panas dari api bisa bertahan lebih lama di dalam gambut, bahkan setelah api di atasnya sudah mati.
  • Sulit Diakses: Menjangkau lapisan gambut yang dalam sering kali lebih sulit dilakukan dengan metode pemadaman seperti air atau usaha manual. Ini membuat proses memadamkan sisa panas di dalam lapisan gambut jadi lebih rumit.

Semua ciri-ciri di atas menciptakan fenomena yang sering disebut “hotspots” atau titik panas, di mana di dalam lapisan gambut masih terus bersemi bara meski api di atas permukaan telah berhasil dipadamkan. Inilah alasan mengapa, walaupun api di permukaan sudah mati, kita masih harus waspada dan berupaya mengatasi sisa panas yang bisa saja masih bersarang di dalam gambut. Tujuannya? Mencegah api kembali berkobar dan menelan alam yang sudah kita usahakan melindungi.

Daerah Rentan Karhutla di Indonesia

Selanjutnya, mari kita tenggelam dalam dunia data dan fakta yang diungkapkan oleh Almi Ramadhi, Peneliti dan Analis Data Pantau Gambut. Dari tahun 2015 hingga 2019, Pantau Gambut telah menemukan bahwa sebanyak 16,4 juta hektare area lahan gambut di Indonesia, rentan terbakar. Dari angka yang begitu besar itu, sekitar 3,8 juta hektare termasuk dalam kategori risiko tinggi (high risk), sedangkan 12,6 juta hektare berada dalam kategori risiko sedang (medium risk). Begitu banyaknya area yang rapuh terhadap ancaman kebakaran menjadi cermin pahit dari tantangan nyata yang harus dihadapi.

Saat sorotan diberikan pada proporsi area rentan terbakar, Provinsi Papua Selatan muncul sebagai pemeran utama dengan risiko paling tinggi. Menakjubkan, 97% dari total 1.421 hektare area di Sungai Ifuleki Bian–Sungai Dalik berada pada tingkat risiko tinggi.

Seiring dengan itu, pandangan pada sejumlah besar lahan gambut yang terancam tak terhindarkan, Provinsi Kalimantan Tengah muncul sebagai sentral risiko tinggi dengan luasan lebih dari 1,13 juta hektare tersebar pada 13 Kawasan Hutan Gambut (KHG). Yang mengejutkan, Kawasan Hutan Gambut Sungai Kahayan–Sungai Sebangau, yang merangkak pada batas risiko tinggi ini, berada di bekas bekas Proyek Pengembangan Lahan Gambut satu juta hektare pada era Soeharto dan saat ini, sebagian dari daerah ini diubah menjadi bagian dari proyek Food Estate.

Pantau Gambut juga melakukan analisis titik panas (hotspot). Tiga citra satelit dan tumpukan data telah digunakan untuk menganalisis titik-titik panas ini, menggambarkan tren yang lebih dalam. Tercatat, ada 1.275 titik panas yang muncul, yang mengindikasikan kebakaran lahan gambut pada periode empat minggu dari Januari hingga Februari 2023. Jumlah ini menunjukkan indikasi yang mengkhawatirkan, dengan 381 titik panas berkeliaran di wilayah risiko tinggi dan 520 titik panas mengincar wilayah risiko sedang.

Tak hanya itu, kerentanan yang tinggi juga terdeteksi pada area yang pernah diperuntukkan sebagai Proyek Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan Tengah, yang gagal dalam usahanya sekitar 20 tahun lalu. Wacana ini menjadi sinyal kuat bahwa langkah-langkah harus diambil, kebijakan perlu dievaluasi ulang, dan pandangan harus dipindahkan dari ritual seremonial ke aksi nyata. Dengan tantangan di depan mata, kesinambungan bukanlah kata-kata semata, tetapi jalan yang harus dijalani untuk menjaga hutan, gambut, dan masa depan generasi mendatang.

Papua Selatan

KHG Sungai Ifuleki Bian - Sungai Dalik 97%

Kalimantan Timur

KHG Sungai Kedupan - Sungai Layah 96%

Papua Tengah

KHG Sungai Siriwo 94%

Sumatera Selatan

KHG Sungai Beberi - Sungai Way Mesuji 89%

Papua Selatan

KHG Sungai Sungai Ifuleki Onam - Sungai Lekiage 88%

Sumber: Pantau Gambut

Mengatasi Ancaman Kebakaran Hutan: Upaya dan Tindakan Nyata

  • PENCEGAHAN

Yang paling baik untuk mencegah kebakaran hutan adalah dengan beraksi sebelum kebakaran benar-benar terjadi. Gimana caranya? Nah, kita bisa mulai dengan memberitahu orang-orang tentang bahaya kebakaran hutan, memperbarui aturan tentang izin penggunaan lahan, dan memeriksa dengan saksama daerah-daerah yang sering terjadi kebakaran.

  • PEMADAMAN

Kalau kebakaran sudah terjadi, ada beberapa cara untuk memadamkannya:

  1. Buat jalur yang bebas dari bahan yang bisa terbakar di daerah yang sering terkena kebakaran. Tujuannya? Biar api tidak mudah menyebar apabila kebakaran terjadi.
  2. Menggunakan mobil pemadam dan tangki air untuk memadamkan api.
  3. Menggunakan helikopter untuk melempar bom air ke area yang terbakar.
  4. Menggunakan teknologi khusus untuk membuat hujan di area yang terbakar dengan cara menaburkan garam di udara.
  • PENANGANAN SETELAH KEBAKARAN

Nah, setelah kebakaran, ada langkah-langkah yang harus kita lakukan. Kita harus memeriksa daerah yang terbakar, pantau kondisinya, dan buat perencanaan agar daerah tersebut pulih kembali. Salah satu cara untuk memulihkan daerah tersebut adalah dengan perbaikan lahan gambut yang rusak. 

Pemulihan gambut adalah cahaya di ujung terowongan. Seperti penyembuh yang merawat luka, gambut yang terdegradasi diberi kesempatan untuk pulih. Dengan rewetting, revegetation, dan revitalization, alam perlahan-lahan pulih dari luka dan mengembalikan kehidupan. 

Aksi Kecil Menuju Lingkungan Lebih Aman

Kita semua punya peran penting dalam menjaga alam kita dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Meski seringkali terasa seperti langit dan bumi, setiap langkah kecil pun bisa punya dampak besar. Inilah beberapa tindakan simpel yang bisa kita lakukan untuk melindungi lingkungan:

1. Menjaga Bersih Area Sekitar

Mulailah dari lingkungan sekitarmu. Jaga kebersihan rumah dan pekaranganmu dari sampah atau material yang mudah terbakar. Begitu juga dengan lingkungan umum, seperti taman kota atau area perkemahan. Sampah-sampah yang tercecer bisa jadi sumber api yang tidak diinginkan.

2. Berhati-hati dengan Api

Jangan pernah merokok sembarangan, terutama di daerah yang rawan kebakaran. Pastikan bahwa api dalam rokok atau puntung benar-benar padam sebelum dibuang. Selalu periksa perapian di rumahmu, dan pastikan api padam sebelum meninggalkannya.

3. Pentingnya Kampung Siaga Api

Dalam komunitas, kamu bisa ikut serta dalam program Kampung Siaga Api. Ini artinya kamu belajar cara-cara menghadapi risiko kebakaran dan mempersiapkan diri dengan alat pemadam sederhana seperti ember berisi air atau sekop.

4. Pahami Musim Kering

Ketika musim kemarau tiba, risiko kebakaran meningkat. Hindari membuat api unggun atau barbekyu di luar ruangan selama periode ini. Jika memang harus, pastikan lokasi aman dan ada alat pemadam dekat.

5. Laporkan Titik Api atau Asap

Jika kamu melihat titik api atau asap yang mencurigakan, cepat-laporkan kepada otoritas setempat atau pihak berwenang. Hal ini dapat membantu tindakan cepat untuk mengatasi potensi kebakaran.

6. Jaga Edukasi

Edukasi tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan penting. Kamu bisa berbagi informasi dengan teman, keluarga, atau di media sosial. Semakin banyak orang yang tahu, semakin besar kesadaran kolektif yang bisa terbangun.

7. Dukung Upaya Pemerintah dan LSM

Dukung program-program pemerintah dan LSM yang berfokus pada pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Ini bisa berupa partisipasi dalam kampanye atau penggalangan dana untuk membantu upaya mereka.

8. Peduli Terhadap Penggunaan Lahan

Saat berada di alam terbuka, gunakan lahan dengan bijak. Jangan merusak atau membuang puntung rokok sembarangan. Pastikan api yang kamu gunakan terkontrol dan telah padam sepenuhnya.

Dalam menjaga alam dari kebakaran, setiap langkah kecil sangat berarti. Jadi, mari kita bersama-sama menjaga bumi kita agar tetap aman dari ancaman api yang mungkin terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *