Dari Mangrove Raja Ampat, Saya Belajar Melihat Sumber Pangan di Sekitar Kita
Sebuah refleksi tentang akar mangrove, buah aibon, batang sagu, dan pelajaran bahwa menjaga hutan berarti menjaga apa yang akan kita makan.
Sebelum mengikuti Eco Blogger Squad Online Gathering bertema “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat”, saya lebih sering melihat mangrove dari fungsi ekologisnya. Mangrove identik dengan kawasan pesisir, tempat hidup berbagai biota, sekaligus benteng alami yang membantu melindungi pesisir.
Ternyata, cerita mangrove tidak berhenti di sana.
Bagi masyarakat Kampung Friwen di Raja Ampat, mangrove juga menjadi bagian dari ruang hidup, sumber pangan, hingga sumber penghidupan. Bahkan, buah mangrove tertentu dapat diolah menjadi tepung dan berbagai makanan.
Insight ini membuat saya memikirkan ulang hubungan antara alam dan makanan yang selama ini ada di meja kita. Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa melihat makanan dalam bentuk akhirnya, beras, tepung, sayuran, atau makanan yang sudah tersaji. Namun, jarang sekali kita menarik ceritanya jauh ke belakang: dari ekosistem mana makanan itu berasal? Siapa yang menjaga pengetahuan tentang cara mengolahnya? Dan apa yang terjadi ketika lingkungan tempat sumber pangan itu tumbuh perlahan berubah?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus terlintas di kepala saya setelah mengikuti gathering ini.
Mangrove dan Kehidupan Masyarakat Kampung Friwen
Salah satu cerita yang paling menarik perhatian saya dalam gathering datang dari Wawiyai Steve, seorang peneliti di Perkumpulan Kawan Pesisir. Ia bercerita tentang perjalanan masyarakat Kampung Friwen dan Yenbeser dalam menjaga kawasan mangrove mereka.
Sekitar 2018, muncul kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi mangrove yang mengalami tekanan akibat pengambilan kayu, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pembangunan homestay dan resort seiring berkembangnya pariwisata.
Masyarakat kemudian melakukan pemetaan partisipatif dan mulai mengembangkan berbagai upaya perlindungan, restorasi, serta pemanfaatan mangrove yang lebih berkelanjutan. Dalam proses tersebut teridentifikasi 16 jenis mangrove sejati dan 28 jenis mangrove asosiasi.
Saya cukup tertarik dengan cerita ini karena memperlihatkan sebuah situasi yang tidak sesederhana “alam harus dilindungi dan manusia tidak boleh menyentuhnya”. Masyarakat tetap mempunyai kebutuhan hidup. Pariwisata berkembang. Kayu dibutuhkan. Pada saat yang sama, ketika pemanfaatan dilakukan terus-menerus tanpa mempertimbangkan kemampuan alam untuk pulih, sumber daya yang menjadi penopang kehidupan masyarakat justru bisa berkurang.
Di kawasan Mangrove Doredor, misalnya, materi yang dipaparkan Wawiyai Steve mencatat kerusakan sekitar 57% atau 133 hektare dari total 233 hektare. Padahal, kawasan tersebut juga memiliki peran penting sebagai area pemijahan ikan di Selat Dampier.
Dari sini saya mulai memahami mengapa menjaga mangrove di Kampung Friwen tidak hanya bicara tentang menyelamatkan pohon. Ada kehidupan masyarakat yang ikut bergantung padanya.
Ketika Menjaga Mangrove Berarti Menjaga Sumber Pangan
Daniel Kbarek, dari The Asia Foundation, memaparkan bahwa mangrove memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan berbagai biota. Struktur akarnya menjadi tempat berlindung dan berkembang bagi ikan dan organisme perairan lainnya. Kawasan ini juga berfungsi sebagai nursery ground bagi larva ikan dan krustasea.
Material organik dari mangrove pun ikut menjadi bagian dari rantai makanan, sementara ekosistemnya membantu menyaring sedimen dan polutan sehingga turut menjaga kualitas perairan.
Jadi, saya pikir, menjaga hutan ternyata juga bisa berarti menjaga apa yang kelak tersedia sebagai pangan. Sebab sumber pangan masyarakat pesisir tidak berdiri sendiri. Ikan membutuhkan habitat. Kepiting dan berbagai biota lain membutuhkan ekosistem yang mendukung kehidupannya.
Ketika habitatnya rusak, yang terdampak pada akhirnya bukan hanya biodiversitas, tetapi juga manusia yang bergantung pada sumber daya tersebut.
Buah Mangrove Ternyata Bisa Diolah Menjadi Tepung
Ternyata, bukan hanya biota di sekitar mangrove yang dapat menjadi sumber pangan. Buah mangrovenya sendiri juga bisa dimanfaatkan.
Salah satu jenis mangrove yang dibahas adalah Bruguiera gymnorrhiza. Buahnya dapat diolah menjadi tepung yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan berbagai makanan, termasuk kue dan keripik.
Dalam diskusi, Daniel Kbarek bilang kalau buah tersebut dikenal masyarakat setempat sebagai aibon. Yang membuat saya semakin tertarik, pengetahuan tentang aibon sebenarnya bukan sesuatu yang baru diperkenalkan kepada masyarakat, ada cerita dan pengetahuan mengenai pemanfaatannya sebagai pangan yang telah diwariskan. Liputan Mongabay Indonesia bahkan mencatat bahwa para tetua Kampung Friwen dulu membawa tepung aibon sebagai bekal perjalanan karena bisa disimpan lama — sebelum pengetahuan itu perlahan tergeser oleh perubahan pola makan.
Namun, pola konsumsi masyarakat berubah. Pangan lokal perlahan berhadapan dengan makanan yang dianggap lebih praktis atau lebih umum dikonsumsi, termasuk beras. Daniel menceritakan adanya upaya untuk kembali menghidupkan pangan lokal yang sebenarnya tersedia lebih dekat dengan masyarakat desa.
Bagaimana kalau pangan lokal sebenarnya punya peran yang jauh lebih besar daripada sekadar makanan khas?
Dalam konteks masyarakat kepulauan, misalnya, bahan pangan yang harus didatangkan dari luar berarti ada perjalanan dan biaya transportasi yang menyertainya. Sementara di sekitar mereka sebenarnya ada sumber pangan yang telah lama dikenal oleh masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan itu tidak hilang.
Ketika Mangrove yang Tetap Berdiri Bisa Memberikan Nilai Ekonomi
Ada satu cerita Wawiyai Steve yang menurut saya sangat manusiawi. Ketika salah satu produk pangan mangrove diperkenalkan kepada Bupati Raja Ampat, makanan tersebut justru mengingatkannya pada makanan masa kecil.
Cerita sederhana ini terasa menarik bagi saya karena memperlihatkan bahwa hubungan manusia dengan makanan tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan kandungan gizi atau nilai ekonominya. Makanan juga menyimpan ingatan. Ada identitas. Ada budaya. Ada cerita keluarga dan masyarakat. Ada pengetahuan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan di Kampung Friwen adalah pemanfaatan hasil mangrove non-kayu. Konsepnya menarik: masyarakat tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi tanpa menjadikan penebangan kayu sebagai satu-satunya cara mendapatkan nilai dari hutan.
Dalam materi Daniel Kbarek, KUPS Sinya Lep di Desa/Kampung Friwen disebut mendapatkan pelatihan pengolahan buah mangrove atau aibon menjadi tepung yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk pangan. Pengembangan itu tidak berhenti pada proses produksi — ada pula upaya meningkatkan rasa dan kemasan agar produk lebih menarik bagi pasar.
Wawiyai Steve juga menceritakan keberadaan empat kelompok usaha perhutanan sosial yang bergerak dalam pengolahan mangrove, kerajinan, hasil hutan bukan kayu, dan jasa lingkungan. Bahkan terdapat kelompok patroli perempuan beranggotakan sekitar sepuluh orang yang ikut menjaga kawasan mangrove.
Perempuan di Kampung Friwen bukan hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat. Mereka ikut memproduksi, mengembangkan produk, menjaga kawasan — bahkan membawa pengetahuan yang sangat detail tentang ruang hidup mereka. Dalam proses pemetaan partisipatif, misalnya, perempuan memiliki pengetahuan mengenai lokasi sumber pangan, bahan untuk membuat tikar, area berkebun, hingga berbagai sumber daya yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi saya, ini salah satu bagian paling penting dari cerita Kampung Friwen. Sebab menjaga alam ternyata tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang hidup paling dekat dengannya.
Dari Tepung Mangrove sampai Mi Mangrove
Hal lain yang saya suka dari cerita ini adalah bagaimana pengetahuan tradisional tidak berhenti menjadi nostalgia, tapi juga dikembangkan. Perempuan di Kampung Friwen, misalnya, juga mulai mengembangkan mi berbahan mangrove. Saat gathering berlangsung, produk tersebut disebut sedang berada pada tahap pengembangan kemasan.
Produk masyarakat juga mulai diperkenalkan kepada homestay dan resort di sekitar kawasan. Daniel Kbarek menjelaskan adanya kerja sama dengan pemilik resort untuk membantu membuka pasar bagi produk lokal. Namun, pengembangan pemasaran digital masih menghadapi tantangan yang sangat konkret, termasuk ketersediaan listrik dan jaringan internet yang belum stabil. Kalau kamu berencana berkunjung ke kawasan seperti ini, saya juga pernah menulis beberapa tips traveling ramah lingkungan yang bisa jadi bahan pertimbangan — termasuk soal mendukung produk dan usaha masyarakat lokal saat berwisata.
Detail seperti ini membuat cerita Kampung Friwen terasa lebih nyata bagi saya. Kita sering mengatakan bahwa masyarakat lokal perlu “mengembangkan produk”. Namun, kenyataannya ada banyak lapisan di balik kalimat sederhana itu: produknya harus dikembangkan, kemasan perlu diperbaiki, pasar harus ditemukan, infrastruktur juga harus mendukung — dan semuanya tetap harus berjalan tanpa membuat sumber daya alam dieksploitasi berlebihan.
Memanfaatkan Bukan Berarti Mengambil Sebanyak-banyaknya
Kalau mangrove bisa menghasilkan pangan dan produk ekonomi, bagaimana memastikan pemanfaatannya tidak justru menjadi ancaman baru? Jawabannya kembali pada cara pengelolaannya.
Di Kampung Friwen terdapat pembagian ruang berdasarkan fungsi kawasan. Dalam pemaparan Wawiyai Steve, sekitar 473,41 hektare merupakan ruang lindung, sekitar 269 hektare ruang pemanfaatan, dan sekitar 283 hektare ruang pemanfaatan berbasis konservasi atau perlindungan tradisional.
Ada pula praktik sasi, yaitu pembatasan pemanfaatan sumber daya dalam periode tertentu. Daniel Kbarek menjelaskan bahwa sasi memberi kesempatan kepada ikan, udang, dan sumber daya lainnya untuk berkembang biak. Setelah waktunya memungkinkan, masyarakat dapat kembali memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
Alam tetap bisa memberi manfaat. Manusia tetap bisa memperoleh pangan dan penghidupan. Namun, ada kesadaran bahwa tidak semua yang tersedia harus diambil saat itu juga.
Masyarakat Bukan Objek Konservasi
Ada satu kalimat dari sesi diskusi yang juga saya catat: masyarakat perlu ditempatkan sebagai subjek, bukan objek. Daniel menyampaikan gagasan tersebut ketika membicarakan rehabilitasi mangrove dan keterlibatan masyarakat adat.
Menurut saya, ini penting. Sebab akan sulit meminta masyarakat menjaga sebuah kawasan jika pembicaraan tentang konservasi hanya berisi larangan, sementara kebutuhan dan hak masyarakat yang hidup di sekitarnya tidak ikut dipertimbangkan.
Karena itulah pengelolaan mangrove di Kampung Friwen juga berkaitan dengan penguatan hak dan kelembagaan masyarakat. Wawiyai Steve menjelaskan bahwa kawasan Hutan Desa Kampung Friwen memperoleh persetujuan sekitar 1.025 hektare. Status tersebut memberikan dasar legal bagi masyarakat untuk mengelola dan melindungi kawasan secara berkelanjutan.
Namun, menurutnya, status legal saja tidak cukup — kelembagaan masyarakat dan kelompok usaha juga perlu diperkuat. Melalui dukungan The Asia Foundation (TAF) bersama PKPRA, pendekatan PAPeDA juga diarahkan pada penguatan kelembagaan, usaha, jejaring, kemitraan, dan dukungan kebijakan dalam pengelolaan perhutanan sosial di Kampung Friwen.
Semakin lama mendengarkan cerita ini, semakin saya merasa bahwa kalimat “jaga mangrove” sebenarnya menyimpan persoalan yang jauh lebih luas.
Lalu Saya Terpikir Sagu
Di akhir gathering, saya mencoba membawa semua cerita tadi lebih dekat dengan kehidupan saya sendiri. Saya sempat berpikir tentang beberapa tanaman. Namun, akhirnya pilihan saya jatuh pada sagu (Metroxylon sagu).
Alasannya justru karena sagu terasa familiar. Salah satu olahannya yang saya kenal adalah kapurung, makanan khas Tana Luwu di Sulawesi Selatan. Saya mengenal kapurung sebagai makanan. Saya tahu bahan dasarnya sagu. Tapi, seperti apa sebenarnya tanaman yang berada di balik semangkuk kapurung?
Mengenal Sagu Lebih dari Sekadar Bahan Kapurung
Sagu merupakan tanaman penghasil pati yang telah lama menjadi bagian dari pangan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Di Sulawesi Selatan, kawasan Luwu Raya — meliputi Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur — memiliki potensi pengembangan sagu yang besar. Kajian Pengembangan dan Pelestarian Sagu di Sulawesi Selatan dari Bappelitbangda Sulsel juga menempatkan sagu sebagai komoditas yang strategis untuk diversifikasi pangan daerah.
Sebuah kajian dalam Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian milik Kementerian Pertanian bahkan menggambarkan sagu bukan hanya sebagai sumber pangan di Tana Luwu, tetapi juga sebagai bagian dari identitas, budaya, dan sumber ekonomi masyarakat. Membaca fakta tersebut membuat pilihan sagu terasa semakin relevan bagi saya — ternyata hubungan masyarakat dengan sagu jauh lebih panjang daripada makanan yang saya lihat ketika sudah berada di mangkuk.
“Double Job” Sagu: Menjadi Bagian dari Lingkungan sekaligus Pangan
Sagu menarik karena ia dapat tumbuh di lingkungan yang basah. Tanaman sagu dapat tumbuh pada lahan rawa dan daerah pasang surut.
Sementara itu, sebuah kajian etnobotani BRIN mengenai sagu di lahan basah Air Sugihan, Sumatera Selatan, menyimpulkan bahwa tanaman sagu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, terutama berkaitan dengan kestabilan air tanah.
Tentu saya tidak ingin menyederhanakan seolah-olah setiap pohon sagu otomatis menjadi solusi bagi semua persoalan lingkungan. Namun, temuan tersebut cukup membuat saya melihat tanaman ini dengan perspektif baru. Sebelum menjadi pangan, sagu adalah bagian dari lingkungan tempatnya tumbuh. Lalu ada fungsi lainnya yang mungkin lebih kita kenal: menghasilkan pangan.
Bagian Mana dari Sagu yang Kita Makan?
Menariknya, bagian yang dimanfaatkan untuk menghasilkan tepung sagu bukan buahnya. Pati diperoleh dari empulur batang sagu. Kajian BRIN mengenai etnobotani sagu juga mencatat pemanfaatan empulur sebagai bahan pangan berupa tepung sagu.
Secara umum, ketika tanaman sudah siap dipanen, batang ditebang lalu empulurnya dihancurkan. Material tersebut kemudian diolah dengan air dan disaring. Pati yang terbawa air selanjutnya diendapkan hingga menghasilkan pati sagu.
Dari sinilah perjalanan kulinernya dimulai. Pati sagu bisa diolah menjadi berbagai makanan. Pedoman Budidaya Sagu Kementerian Pertanian mencatat papeda dan kapurung sebagai contoh pemanfaatan pati sagu sebagai pangan utama. Seiring perkembangan pengolahan pangan, sagu juga digunakan untuk berbagai kue hingga bahan pembuatan mi dan bihun.
Jadi satu batang yang mungkin hanya terlihat seperti bagian dari lanskap ternyata menyimpan bahan pangan di dalamnya. Dan di sinilah saya kembali teringat pada mangrove Kampung Friwen.
Dari Aibon di Raja Ampat sampai Kapurung di Sulawesi Selatan
Saya tidak ingin menyamakan mangrove dan sagu karena keduanya memiliki karakteristik, habitat, dan konteks masyarakat yang berbeda. Tetapi keduanya membuat saya melihat pola yang sama.
Di Raja Ampat, ada aibon yang pengetahuan pengolahannya telah diwariskan masyarakat. Di Sulawesi Selatan, ada sagu yang telah menjadi bagian dari pangan dan budaya masyarakat Tana Luwu.
Berapa banyak sumber pangan lokal yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita, tetapi perlahan hanya kita kenali sebagai “makanan tradisional”?
Kita menikmati hasil akhirnya. Namun, kita mungkin semakin jauh dari cerita tanamannya — dari cara mendapatkannya, dari lingkungan tempatnya tumbuh, dari orang-orang yang menyimpan pengetahuan tentang cara mengolahnya.
Padahal ketika pengetahuan tersebut hilang, kita tidak hanya kehilangan resep. Kita juga bisa kehilangan satu cara masyarakat membaca dan memanfaatkan alam di sekitarnya.
Ketahanan Pangan Tidak Selalu Harus Dimulai dari Sesuatu yang Baru
Salah satu hal yang saya bawa pulang dari gathering ini adalah cara pandang baru terhadap ketahanan pangan. Saya awalnya membayangkannya sebagai persoalan bagaimana memastikan makanan cukup tersedia. Sekarang saya melihatnya sedikit lebih luas.
Ketahanan pangan juga bisa dimulai dari mengenali kembali sumber pangan yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat. Sagu adalah salah satu contohnya. Kementerian Pertanian telah lama mencatat sagu sebagai pangan spesifik lokal di sejumlah daerah Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan. Sagu juga dinilai memiliki potensi dalam diversifikasi pangan sehingga ketergantungan terhadap satu jenis pangan pokok dapat dikurangi.
Namun, seperti pelajaran dari Kampung Friwen, memanfaatkan sumber pangan lokal juga tidak boleh berhenti pada pertanyaan: “Apa yang bisa kita ambil dari alam?”
Pertanyaannya perlu dilanjutkan: “Bagaimana kita mengambil manfaat tanpa menghilangkan sumbernya?”
Pedoman budidaya sagu dari Kementerian Pertanian bahkan mengingatkan bahwa eksploitasi hutan sagu tanpa upaya memulihkan populasinya dapat berdampak negatif bagi masyarakat yang bergantung pada sagu sebagai sumber pangan.
Di sinilah pesan dari mangrove dan sagu kembali bertemu. Pemanfaatan dan pelestarian tidak seharusnya dipertentangkan. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan — prinsip yang sebenarnya juga jadi inti dari green living yang pernah saya bahas: bukan soal perubahan besar yang instan, tapi kebiasaan kecil yang konsisten dan tidak berlebihan mengambil dari alam.
Setelah Gathering Ini, Saya Jadi Ingin Lebih Sering Bertanya: “Makanan Ini Berasal dari Mana?”
Mungkin ini refleksi paling personal yang saya dapatkan dari seluruh pembahasan. Setelah ini, ketika melihat kapurung, saya mungkin tidak hanya akan melihatnya sebagai makanan berbahan sagu.
Saya akan teringat bahwa ada pohon sagu sebelum menjadi tepung. Ada lingkungan tempat pohon itu tumbuh. Ada proses panjang untuk mengambil patinya. Ada masyarakat yang menyimpan pengetahuan pengolahannya. Dan ada budaya yang membuat pangan tersebut terus hadir dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Persis seperti cerita aibon di Kampung Friwen yang membawa saya sampai pada pertanyaan tentang sagu.
Bagi saya, mungkin inilah kekuatan terbesar dari cerita Wawiyai Steve dan masyarakat Kampung Friwen. Mereka tidak hanya menunjukkan bahwa buah mangrove bisa dimakan. Cerita mereka menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan hutan bisa jauh lebih kompleks dan bermakna. Hutan bisa menjadi ruang hidup, habitat berbagai biota, sumber pangan, sumber penghidupan, tempat pengetahuan lokal disimpan — sekaligus warisan yang perlu tetap tersedia untuk generasi berikutnya.
“Menjaga mangrove tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Di dalamnya ada persoalan hak masyarakat, legalitas kawasan, kelembagaan, pangan, ekonomi lokal, pengetahuan tradisional, perubahan iklim, pariwisata, gender, serta kolaborasi berbagai pihak.”— Wawiyai Steve, Perkumpulan Kawan Pesisir
Dan mungkin kita tidak perlu tinggal di Kampung Friwen untuk mulai memahami pesan itu. Kita bisa mulai dari makanan yang paling dekat dengan kehidupan kita. Cari tahu bahan dasarnya. Kenali tanaman atau sumber daya alamnya. Pelajari bagaimana masyarakat memanfaatkannya. Dan jangan lupa bertanya apa yang perlu dijaga agar sumber pangan tersebut masih bisa dinikmati bertahun-tahun dari sekarang — sama seperti beberapa kebiasaan sehat sehari-hari yang ternyata tanpa disadari sudah mendukung eco living.
Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan.
Karena akhirnya saya memahami satu kalimat dari gathering ini dengan cara yang jauh lebih personal.
Sekarang giliran kamu 🌿
Kalau melihat makanan lokal di daerahmu, tumbuhan apa yang ternyata punya “double job” — bermanfaat bagi lingkungan atau kehidupan, sekaligus menjadi sumber pangan?

Yapp bener banget
udah saatnya kita kembali melihat alam, mengenali bahwa tumbuh-tumbuhan sekitar kita itu ternyata sudah dirancang Allah SWT untuk kita nikmati ya kak tinggal kita yg tetap harus menjaga alam kita apalagi dengan perubahan iklim yg semakin nyata dampaknya