#SaveEarth Article

Sistem Pangan Berkelanjutan: Menjaga Bumi Lewat Makanan yang Kita Konsumsi

Saat ini, kita hidup di dunia yang semakin sadar akan isu-isu keberlanjutan. Salah satu aspek penting dari isu ini adalah sistem pangan berkelanjutan (SFS). Sistem ini menciptakan ketahanan pangan dan gizi bagi semua orang, tanpa mengorbankan ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi generasi mendatang. 

SFS bukan hanya tugas pemerintah atau produsen makanan; peranmu sebagai konsumen sangat penting dalam mewujudkannya!

Sistem Pangan Berkelanjutan: Apa dan Mengapa?

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), Sustainable Food System (SFS) adalah sistem pangan yang memastikan ketahanan pangan dan gizi untuk semua tanpa merusak landasan ekonomi, sosial, dan lingkungan. 

Tidak sekadar tentang makanan yang mengenyangkan perut kita, SFS juga harus menjaga bumi yang kita tinggali. Ini memastikan makanan yang kita makan sehat, serta menjaga keberlangsungan usaha pertanian dan ekonomi yang menggantungkannya.

Tapi apa sih sebenarnya di balik konsep ini, dan bagaimana kita, sebagai konsumen, bisa berkontribusi?

Isu-Isu Utama dalam Pangan Berkelanjutan

Sebelum kita bahas kontribusinya, ada tiga isu utama dalam pangan berkelanjutan. Apa itu?

1. Pertanian Berkelanjutan

Pertanian adalah salah satu pemain utama dalam peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK).

Tahukah kamu, sepertiga emisi GRK global berasal dari produksi pangan? Karena produk hewani memiliki jejak karbon 10-50x lebih tinggi dibandingkan produk nabati. Eits, bukan berarti kita harus sepenuhnya vegetarian, tetapi memahami dan mengurangi konsumsi daging dapat membantu mengurangi dampak lingkungan.

Emisi ini muncul dari berbagai sumber, termasuk metana yang dikeluarkan oleh ternak, nitrat dari pupuk, dan CO2 yang dihasilkan oleh traktor dan mesin pertanian. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa konsumsi produk hewani, seperti daging sapi dan susu, memiliki jejak karbon yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk nabati. 

Selain itu, pertanian juga terlibat dalam masalah penggunaan lahan dan deforestasi. Misalnya, 22% dari penggunaan lahan global berasal dari pangan dan pertanian.

Penggunaan lahan pertanian yang tidak berkelanjutan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem, kehilangan habitat alam, dan mengancam spesies liar. 

Deforestasi, di sisi lain, merupakan ancaman serius bagi lingkungan, dengan beberapa negara seperti Rusia, Brasil, dan Kanada memiliki tingkat deforestasi tertinggi. Namun, jika melihatnya dalam konteks persentase dari total luas lahan, Indonesia memimpin dalam deforestasi, yang tentu ini sangat mengkhawatirkan.

Selain itu, air di pertanian juga adalah sumber daya yang tidak boleh diabaikan dalam pertanian. Menurut UN-Water 2023, hanya 2,5% air yang tersedia untuk minum, pertanian, dan keperluan industri. Meskipun hanya sebagian kecil, 72% air tawar digunakan untuk pertanian secara global. Ini membuat pemahaman tentang bagaimana kita menggunakan air dalam pertanian menjadi sangat penting dalam mencapai keberlanjutan.

2. Tantangan Gizi

Tantangan gizi adalah masalah serius lainnya. Di Indonesia, kita menghadapi beban ganda malnutrisi, yang berarti beberapa orang mengalami gizi kurang, sementara yang lain mengalami kelebihan gizi. 

Data dari Global Nutrition Report mengungkapkan realitas yang kompleks terkait gizi di Indonesia. Angka yang mencengangkan menunjukkan bahwa 30,8% anak di bawah usia 5 tahun masih menderita stunting, menandakan bahwa banyak anak menghadapi masalah pertumbuhan yang serius.

Di sisi lain, 10,2% anak di bawah usia 5 tahun mengalami wasting, menggambarkan tantangan gizi lain yang menghantui generasi muda. Namun, masalah gizi juga memengaruhi orang dewasa, dengan 10,9% wanita dewasa dan 6,3% pria dewasa yang hidup dengan obesitas.

Ini menciptakan situasi di mana ada anak-anak yang mengalami kurang gizi, sementara orang dewasa menghadapi risiko obesitas, mencerminkan pentingnya pendekatan holistik dalam mencapai gizi yang seimbang dan berkelanjutan di seluruh spektrum usia. Oleh karena itu, menjaga pola makan yang seimbang dan sehat adalah tantangan gizi yang harus sama-sama kita perhatikan mulai dari sekarang.

3. Limbah Makanan

Membuang-buang makanan adalah isu yang sangat merugikan dalam pangan berkelanjutan. Jumlah limbah makanan di tingkat rumah tangga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat ritel atau layanan makanan.

Kita sering kali membeli makanan lebih dari yang kita butuhkan dan akhirnya membuangnya. Hal ini bukan hanya pemborosan sumber daya, tetapi juga kontribusi terhadap masalah sampah global.

Seberapa Besar Kontribusi Makanan terhadap Emisi GRK?

Kita semua tahu bahwa aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, berkontribusi besar pada perubahan iklim melalui emisi gas rumah kaca (GRK). Namun, banyak di antara kita mungkin belum menyadari bahwa pilihan makanan kita juga memiliki dampak signifikan pada lingkungan.

Makanan kita tidak hanya mengisi perut; mereka juga meninggalkan jejak karbon. Faktanya, sekitar 1/3 dari total emisi GRK global berasal dari produksi pangan. Ini mencakup segala hal, mulai dari pemeliharaan hewan, pertanian, penyimpanan, transportasi, hingga pengolahan makanan.

Salah satu kontributor terbesar emisi GRK dalam sistem pangan kita adalah produksi hewani. Mengapa? Pertama, hewan, khususnya sapi, menghasilkan metana – salah satu GRK yang memiliki efek pemanasan global yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida.

Kedua, peternakan memerlukan sumber daya yang sangat banyak, mulai dari makanan yang diperlukan untuk menggembalakan hewan hingga energi yang digunakan untuk memelihara dan mengolahnya.

Produk hewani, khususnya daging, memiliki jejak karbon yang berkisar antara 10 hingga 50 kali lebih tinggi daripada produk nabati seperti sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Selain itu, produksi hewani juga memerlukan lahan yang lebih luas dan banyak air, yang semakin menambah beban lingkungan.

Di sisi lain, pertanian tanaman biasanya memerlukan sumber daya dan energi yang lebih sedikit, dan sebagai hasilnya, memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah. Ini adalah salah satu alasan mengapa banyak orang saat ini beralih ke diet berbasis tanaman, baik karena alasan kesehatan maupun keberlanjutan.

Peran Konsumen terhadap Konsumsi Pangan Berkelanjutan

Setelah memahami isu-isu utama dalam pangan berkelanjutan, mari kita fokus pada peran kita sebagai konsumen.

1. Bagaimana Memulai Pola Makan yang Lebih Sehat dan Ramah Lingkungan

Pola makan yang lebih sehat tidak hanya baik untuk kesehatanmu, tetapi juga baik untuk planet kita. Dalam laporan Indeks Keberlanjutan Pangan, disebutkan bahwa pola makan yang lebih sehat dapat mengurangi emisi GRK yang dihasilkan oleh penggunaan lahan, energi, dan air untuk peternakan sebesar antara 40% dan 75% pada tahun 2030.

Bagaimana kamu bisa memulai pola makan yang lebih sehat dan ramah lingkungan? Berikut ini langkah-langkah yang bisa kamu lakukan:

  • Pilih makanan lokal dan musiman yang meminimalkan jejak karbon transportasi.
  • Tingkatkan komposisi makanan yang berasal dari tumbuhan dalam diet sehat kamu.
  • Cari label makanan yang menyatakan bahwa produk tersebut ramah lingkungan, seperti label alami atau organik.

2. Perhatikan “Label Makanan”

Saat kamu berbelanja makanan, perhatikan dengan cermat label makanan di setiap produk yang kamu beli. Mengapa? Karena label makanan adalah jendela ke dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik produk tersebut. Berikut beberapa alasan mengapa memperhatikan “label makanan” sangat penting:

  • Informasi tentang Bahan: Label makanan memberikan informasi tentang apa yang ada dalam produk tersebut. Ini memungkinkan kamu untuk mengevaluasi kualitas bahan dan memilih produk yang lebih sehat. Misalnya, ketika membeli roti, kamu dapat memeriksa apakah ada penggunaan bahan-bahan alami dan tidak ada tambahan bahan kimia yang berbahaya.
  • Fakta Nutrisi: Informasi tentang nilai gizi sangat penting untuk menjaga kesehatanmu. Dengan membaca label makanan, kamu dapat mengetahui jumlah kalori, protein, lemak, gula, serat, dan nutrisi lain yang ada dalam produk tersebut. Ini membantu kamu membuat pilihan yang lebih sadar terkait dengan pola makan sehatmu.
  • Klaim dan Sertifikasi: Banyak produk makanan sekarang datang dengan klaim tertentu, seperti “organik,” “bebas GMO,” atau “ramah lingkungan.” Membaca label membantu kamu memastikan bahwa klaim-klaim ini didukung oleh sertifikasi yang sesuai. Misalnya, produk organik biasanya memiliki label sertifikasi organik yang menunjukkan bahwa mereka diproduksi dengan metode yang lebih berkelanjutan.
  • Mendukung Produsen Berkomitmen pada Keberlanjutan: Dengan memilih produk yang memiliki label sertifikasi keberlanjutan, seperti Rainforest Alliance atau Fair Trade, kamu dapat mendukung produsen yang berkomitmen untuk praktik-praktik yang lebih baik terkait lingkungan dan sosial. Ini berarti kontribusi langsungmu dalam mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

3. Mencegah Sisa Makanan Dibuang ke TPA

Salah satu langkah paling sederhana yang dapat kamu ambil adalah dengan tidak membuang-buang makanan atau mencegah sisa makanan dibuang ke tempat pembuangan sampah. Untuk melakukannya:

  • Buatlah perencanaan makanan yang matang sebelum berbelanja.
  • Buat daftar belanjaan yang mencerminkan kebutuhanmu, sehingga kamu tidak membeli makanan berlebih.
  • Kelola penyimpanan makanan dengan baik agar makanan tahan lebih lama.
  • Manfaatkan sisa makanan untuk menciptakan hidangan baru, memasak tanpa limbah, atau berdonasi kepada yang membutuhkan.

Ingat, kuncinya adalah jangan biarkan makananmu habis di tempat pembuangan sampah!

4. Saatnya Mengubah Narasi!

Dulu, ketika berbicara tentang pangan berkelanjutan, seringkali kita merasa ditekan dengan fakta dan data yang membuat kita khawatir. Tapi, sebenarnya kita bisa memandangnya dari sisi yang lebih positif. Saatnya mengubah cara kita memandang masalah menjadi peluang!

  • Dari Narasi Doom (Bencana) ke Kemungkinan: Daripada fokus pada dampak buruk dari pola konsumsi kita, mengapa tidak melihat berapa banyak potensi baik yang bisa kita hasilkan dengan mengubah kebiasaan makan kita? Misalnya, dengan memilih konsumsi makanan lokal, kita tak hanya mengurangi jejak karbon, tapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
  • Dari Ketidakberdayaan ke Agensi: Jangan berpikir “Aku hanya satu orang, apa yang bisa kulakukan?”, tetapi “Aku adalah bagian dari solusi!” Setiap pilihan makananmu memiliki dampak. Dengan memilih produk yang lebih berkelanjutan, kamu telah berkontribusi pada perubahan yang lebih baik.
  • Dari Pengorbanan Menjadi Manfaat: Mengurangi daging dalam menu makanan bukan berarti kamu kehilangan protein. Banyak sumber protein alternatif yang bahkan lebih sehat, seperti tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Jadi, bukan pengorbanan, tapi manfaat ganda: baik untuk tubuh, baik untuk bumi!
  • Dari Keniscayaan Menjadi Tindakan: Bukannya pasrah dengan kondisi saat ini, yuk kita segera ambil tindakan! Mulai dari hal sederhana seperti membatasi penggunaan plastik, hingga hal yang lebih besar seperti mengedukasi teman-teman sekitarmu tentang keberlanjutan.

Ingat, Kamu memiliki peran penting dalam menjadikan makanan lebih berkelanjutan. Setiap langkah kecil yang kamu ambil, bisa menginspirasi banyak orang di sekitarmu dan memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kamu bayangkan. So, are you ready to change the narrative? 

Cara Anak Muda Menjaga Bumi: Dari Kampanye Sustainable Food Hingga Bioenergy

Anak muda memiliki peran kunci dalam menjaga keberlanjutan planet ini. Ada banyak komunitas anak muda yang berperan aktif dalam menjadi agen perubahan dalam menjaga bumi kita. Beberapa di antaranya adalah eathink.movement, SKELAS, dan Trend Asia. Nah, kemarin, pada sesi online gathering #Ecobloggersquad, menghandirkan ketiga komunitas ini untuk memberikan banyak sekali insight baru tentang keberlanjutan. Siapa mereka dan apa saja yang mereka lakukan?

1. eathink.movement

Eathink.movement adalah salah satu upaya yang melibatkan anak muda dalam menjaga keberlanjutan planet ini. Mereka menginisiasi sebuah gerakan yang membantu anak muda atau kaum milenial dalam membuat pilihan pangan yang lebih berkelanjutan sebagai konsumen. Apa saja yang mereka lakukan?

  • Konten Edukasi di Media Sosial: Melalui platform media sosial, kampanye ini menyebarkan konten edukasi yang informatif dan inspiratif. Mereka membuat infografis, artikel, dan video, yang membahas topik-topik seperti makanan berkelanjutan, pertanian ramah lingkungan, dan lainnya. Konten ini tidak hanya mengedukasi, tetapi juga menginspirasi anak muda untuk bertindak.
  • Program Pembelajaran: Kampanye eathink.movement tidak hanya mengandalkan media sosial. Mereka juga mengadakan kelas atau webinar yang memberikan pemahaman mendalam tentang isu-isu keberlanjutan dan memberdayakan peserta untuk mengambil tindakan nyata.
  • Dukungan Komunitas: Kampanye ini juga mendorong pembentukan komunitas yang peduli tentang keberlanjutan. Ini adalah tempat di mana anak muda dapat berbagi ide, pengalaman, dan sumber daya. Komunitas ini memberikan dukungan emosional dan praktis bagi mereka yang ingin membuat perubahan dalam hidup sehari-hari mereka. Dukungan komunitas membuat anak muda merasa kuat dan termotivasi.

2. Komunitas Sentra Kreatif Lestari Siak (SKELAS)

 SKELAS adalah contoh bagaimana anak muda dapat berkolaborasi untuk menjaga keberlanjutan alam dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan bersama. Mereka menggunakan inovasi produk lokal untuk mencapai tujuan ini. Beberapa inovasinya melibatkan:

  • Minuman Nanas di Lahan Gambut: Mereka mengembangkan minuman nanas berkualitas tinggi di lahan gambut. Selain mempromosikan produk lokal, inovasi ini juga membantu mencegah kebakaran hutan dan lahan. Proses produksi melibatkan mitra kebun petani lokal dan kolaborasi dengan kelompok wanita tani, menciptakan manfaat ekonomi bagi komunitas.
  • Pemanfaatan Bekatul untuk Bolu Kemojo: SKELAS mengambil langkah inovatif dengan memanfaatkan bekatul (sisa olahan padi) untuk membuat bolu kemojo, kue khas Riau. Sebelumnya, bekatul seringkali tidak dimanfaatkan. Inovasi ini bukan hanya meningkatkan nilai ekonomi dari sisa olahan padi, tetapi juga menghasilkan produk yang lebih sehat dengan label “gluten-free” dan rendah gula.

3. Organisasi Trend Asia (Transformation of Energy and Sustainable Development in Asia)

Organisasi ini bertujuan untuk mempercepat penghapusan bahan bakar fosil dan mendorong penggunaan energi terbarukan secara bertahap di Asia Tenggara. Mereka menyadari pentingnya mengubah arah aspirasi masyarakat menuju konsumsi dan produksi berkelanjutan, terutama dengan pertumbuhan urbanisasi dan konsumsi energi yang pesat.

  • Fokus pada Eco Sociopreneurship: Organisasi ini mendorong konsep eco sociopreneurship, yaitu menggabungkan aspek bisnis dengan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat. Mereka mendukung inisiatif-inisiatif yang berbasis komunitas dan berkolaborasi dalam bidang energi terbarukan dan efisiensi sumber daya.
  • Kerja Sama dan Kolaborasi: Organisasi ini menjunjung tinggi kerja sama dan kolaborasi sebagai kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan keberlanjutan. Mereka bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, bisnis, dan komunitas, untuk menciptakan perubahan positif.

Dari kampanye eathink.movement hingga SKELAS dan Organisasi Trend Asia, ini adalah contoh konkret bagaimana anak muda dapat berperan dalam menjaga bumi dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. Dengan inovasi, edukasi, dan kerja sama, mereka adalah pionir perubahan yang membawa kita menuju dunia yang lebih baik.

Ketika kamu mulai berpikir dan bertindak dengan sadar terhadap lingkungan, kamu akan menjadi bagian dari solusi. Ingatlah bahwa setiap tindakan kecilmu memiliki dampak besar dalam mewujudkan sistem pangan berkelanjutan. Selamat menjadi konsumen yang bijak dan berkelanjutan!

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

15 Komentar

  1. Nah ini, saya termasuk yang tidak pernah melihat label kemasan. Selama ini hanya label halal MUI saja. Semoga ke depan bisa menerapkan lihat label kemasannya.

    Btw yang paling gregetan adalah melihat orang tidak menghabiskan makanan yang sudah diambil di piringnya. Pada akhirmya menghasilkan limbah

  2. Kak, artikelnya lengkap dan informatif. Terima kasih. Memang ya, banyak di antara kita yang belum menyadari bahwa pilihan makanan juga memiliki dampak signifikan pada lingkungan. Termasuk saya yang masih asal pilih dan makan apa aja ..hiks. Sungguh sistem pangan berkelanjutan bisa kita lakukan demi menjaga bumi lestari

  3. Saya pernah sekali ke siak. Lahan untuk pertanian sebenarnya sangat luas. Sayangnya eksplorasi tanaman sawit membuat alternatif pertanian lain seperti diabaikan.

  4. Saya kok tergoda untuk lebih menyoroti soal deforestasi. Kita yang tertinggi di dunia, padahal kalau dipikir-pikir, masyarakat kita ini pun banyaak yang hidupnya tergantung pada hutan. Ironis, ya.

  5. Sedih ya permasalahan sampah global ternyata ditunjang oleh sampah rumah tangga yang dihasilkan khususnya makanan yg tak dihabiskan
    Beneran mubadir dan membawa bencana tuh gak menghabiskan makanan

  6. Orang tuaku sekarang tinggal di Pekanbaru, jadi tau sama bolu kemojo dan jadi salah satu makanan favoritku juga. Tapi, aku baru tau kalau di Siak ternyata bolu kemojo bisa juga dibuat dengan memanfaatkan bekatul itu, ya…

  7. Bener sekali mbak tulisannya. Dan orangtua ku memanfaatkan sisa makanan basi atau yang masih bagus dan kami gak selera, ngak langsung DIBUANG AKAN TETAPI DIBUAT BUBUR NYA SAPI

  8. ini nih yang masih jarang dibahasa. walaupun memang masing-masing ada perannya. ada yang fokus bahas sampah energi, ada yg bahas sampah plastik, di sini yang bahas ttg makanan.

  9. Rasanya ini isu yang lama dan belum juga teratasi. Padahal kita bisa mulai dari diri sendiri dengan sesegera mungkin.

  10. bicara soal pangan, saya kadang sedih apalagi mendengar prosentase kecukupan gizi di Indonesia itu masih dbawah standar, apalagi denger kementrian yg berkaitan dengan pangan/gizi malah korupsi. Mau sampek kapan coba? Bahkan anak-anak stunting di Indonesia juga makin byk, 🙁

  11. Musthofa menulis:

    Soal makanan ini problematis. Niat hati ingin alami dan organik namun harganya terlampau jauh untuk kalangan menengah. Harga organik dan alami ini bisa murah atau minimal sebanding dengan yg nonalami jika diproduksi masal.

    Lagi-lagi persoalan regulasi. Harus ada transformasi dari hulu-hilir tentang komitmen ini.

    Saya pribadi sudah menerapkan beberapa hal yang telah ditulis di atas, namun soal konsistensi penggunaan bahan alami dan organik masih kurang. Kecuali dengan menanam sendiri di kebun kecil sederhana di rumah.

  12. Gusti Afriansyah menulis:

    Masalah pangan seharusnya jadi prioritas. Bagaimana mau maju, kalau anak-anak (harapan masa depan) bangsa gizinya ga terpenuhi?

  13. Wahhh keren dan bagus banget sih kalau ada perkumpulan atau gerakannya seperti ini. Tidak hanya sebagai komunitas saja tapi ada hasil yang bisa menjadi contoh bagi kita yang akan dan ingin memulai..

  14. Informasi yang sangat menarik. Saya sendiri termasuk jarang melihat info label makanan. Ternyata dari ada banyak petunjuknya ya.

  15. Informasi yang menarik. Ya, bagaimana bangsa ini bisa berharap pada generasi berikutnya jika asupan gizi saja tidak memadai. Ditambah lagi rakyat Indo kebanyakan malah lebih suka ngisep batang rokok ketimbang memikirkan asupan gizi keluarganya..ckckc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *