Art Traveling

Perpaduan Seni dan Teknologi: Mengunjungi Pameran Seni Visual ‘Age Quod Agis’ di Jogja Gallery

Selain menggali pesona toko buku dan menyeruput kopi di coffee shop Jogja, kini hobi saya merambah ke Pameran Seni. Jogja, tempat yang selalu memanjakan jiwa seni, menjadi panggung utama bagi galeri-galeri dan museum-museum yang menggelar pameran-pameran yang mengagumkan. 

Tiap kali ada pameran seni di Jogja, saya pasti bikin wishlist akan berkunjung ke sana. Meski masih awam dengan dunia seni, saya selalu percaya bahwa seni selalu memberikan perspektif baru yang lebih kaya. 

Kali ini, kakiku melangkah ke sebuah galeri seni dekat alun-alun utara Kota Yogyakarta–Jogja Gallery. Tak perlu bingung mencari lokasinya, cukup ketik Jogja Gallery di Google Maps, lalu ia akan mengarahkan tujuanmu dengan percaya diri.

Tampak dari luar, bekas Gedung Teater yang dibangun Kolonial Belanda pada 1929 kini berbalut dinding hitam bertuliskan ‘’Age Quod Agis”. Sebelum memasuki galeri, pengunjung diminta untuk mengisi Google Form terlebih dahulu untuk registrasi, lalu melakukan pembayaran tiket sebesar Rp20.000. 

Saat masuk, saya kemudian disambut ruangan yang luas diisi dengan cahaya lembut menyoroti setiap karya seni yang dipajang dengan indah. Suara gemerincing tawa dan diskusi antar pengunjung menambah kehidupan dan keberagaman suasana.

Tentang Pameran Lukisan Komunitas Liquid Colour

“Keluar dari rintangan kreasi seni yang kerdil” menjadi ekspresi yang ditunjukkan Komunitas Liquid Colour. 

Pelukis tidak hanya sekadar memberikan apa yang dia lihat tetapi apa yang dia tahu, lalu menyaring kesan itu melalui filter nalar sampai memperoleh ‘Rasa; dan ide yang dapat dihidupkan melalui elemen seni menjadi komposisi dinamis, harmoni dan proporsionalitas,” kata Alex Luthfi R, pendiri Saung Banon Arts Yogyakarta dalam catatan pendeknya. 

Kegiatan pameran yang dilakukan oleh kelompok Liquid Colour telah berlangsung selama 12 tahun, sejak dimulai pada tahun 2016. Mereka dengan konsisten mengadakan pameran setiap tahunnya. Mereka memulai pameran pertamanya di Jogja, tepatnya di daerah Kecamatan Kasihan. Sejak itu, mereka telah mengadakan pameran seni di berbagai lokasi, termasuk Bentara Budaya Yogyakarta, Magelang, dan bahkan Jakarta.

Kini, kelompok Liquid Colour kembali menyelenggarakan pameran di Jogja Gallery, dan ini merupakan kali kedua mereka berkolaborasi dengan galeri ini. Pameran seni visual ini berlangsung mulai dari 16 hingga 27 Mei 2023. Acara ini dibuka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 18.00 WIB, dengan waktu istirahat pada pukul 12.00 hingga 13.00 WIB.

Magnum Opus dari Seniman Choerodin Roadyn

Tema ‘Age Quod Agis’ yang dibawa Komunitas Liquid Colour membawa pesan kuat bahwa seni tak mengenal batasan. Hal ini terbukti dari salah satu mognum opus paling banyak menarik perhatian pengunjung, termasuk saya sendiri. Ialah karya 3D dengan konsep digital dari Choerodin Roadyn yang berjudul “Gugur Gulita’. 

Karya ini memperkenalkan sebuah inovasi baru yang memadukan dengan tren teknologi digital sehingga menciptakan lukisan yang hidup dan bergerak. Melalui inovasi tersebut, momen ini memungkinkan pengunjung untuk terlibat secara aktif dalam karya seni yang dipamerkan. Cukup dengan mengaktifkan filter Instagram lewat scan QR yang tersedia di samping lukisan, kita bisa merasakan betapa serunya berada dalam lukisan yang bergerak. 

Seperti membuka pintu ke dimensi baru, filter instagram membawa kita ke alam di mana lukisan seakan-akan menghidupkan objek dan elemen-elemen di dalamnya. Saya merasa seperti melihat pergerakan yang halus, detail yang mendalam, dan makna yang tersembunyi dalam setiap sapuan kuas.

BACA JUGA : Bagaimana Musik Mempengaruhi Emosi dan Ingatan?

Eksplorasi Karya Menarik Lainnya

Cermin Cinta.

Selain  lukisan 3D dari Roadyn, ada banyak lukisan, patung, dan karya seni lainnya yang juga tidak kalah menariknya. Misalnya, karya cermin cinta yang mengajak pengunjung untuk bercermin, melihat, meresapi dan berimajinasi tentang cinta. Adapula tiga seri lukisan wajah Monalisa dengan tone warna yang berbeda yang disebutnya sebagai Literasi Tiga Bahasa. 

Lukisan Monalisa–Literasi Tiga Bahasa

Ada sekitar 50 lukisan yang akan menarik perhatian kamu di Pameran ini. Konsep  seni yang melibatkan teknologi modern sehingga menciptakan elemen interaktif diantara pengunjung adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Pameran seni tidak lagi sekadar melihat dan mengamati, tetapi juga menjadi perjalanan yang memikat dalam dunia virtual yang dipenuhi oleh seni yang hidup.

Pameran seni memberikan kesempatan bagi saya untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Saya merasa terlibat dalam dialog diam dengan setiap karya, membiarkan karya-karya para seniman menyapa hati dan pikiran saya. Dalam seni, saya belajar untuk merenung, bertanya-tanya, dan mencoba memahami sudut pandang yang diungkapkan dalam setiap karya para seniman.

Melalui pengalaman ini, saya menyadari bahwa tak ada batasan yang menghalangi seseorang untuk menikmati seni. Keindahan seni dan kekuatannya untuk menyentuh jiwa tidak membutuhkan pemahaman yang mendalam atau latar belakang yang khusus. Yang penting adalah kemauan untuk terbuka, merasakan, dan meresapi setiap momen yang ditawarkan oleh pameran seni.

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

3 Komentar

  1. Asmo menulis:

    Menarik banget kaa, ty info nyaa 🙏🙏

  2. Fypku isinya ini semua. Pas lagi mupeng2nya, lihat igsnya bpn ada ini, beuuh tambah mupeng.
    Btw thanks ya kak udah sharing 😉

    1. Sama-sama kak. Moga bermanfaat ya😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *