#SaveEarth Article

Dampak Perubahan Iklim: Gelombang Panas Memakan Korban, Indonesia Perlu Waspada!

Dampak perubahan iklim semakin nyata. Dalam beberapa bulan terakhir, gelombang panas (heatwave) berbahaya melanda sejumlah negara di Asia. Rekor suhu tertinggi pun tercatat di wilayah-wilayah seperti Thailand dan China.

Selama bulan April dan Meli lalu, Thailand mencapai suhu tertinggi mencapai 45,4 derajat Celcius. Ahli menyebutnya sebagai “gelombang panas April terburuk dalam sejarah Asia.” 

Begitu juga di beberapa negara lainnya. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? 

Kondisi Suhu di Indonesia 

Menurut BMKG, di Indonesia sendiri, terdapat satu lonjakan suhu maksimum yang mencapai 37,2°C di Ciputat pada tanggal 17 April 2023. Namun, suhu maksimum saat ini telah turun dan berada pada kisaran 34 hingga 36°C di beberapa daerah. 

Meskipun suhu di atas belum mencapai kategori heatwave, Indonesia tentu harus waspada. Sebab, jika terus terjadi peningkatan suhu, maka akan berdampak buruk bagi semua sektor, terlebih pada kesehatan manusia. 

Mengapa Terjadi Gelombang Panas?

Mengapa suhu terus meningkat? Apa yang menyebabkan gelombang panas yang semakin sering terjadi? Ini adalah pertanyaan penting yang harus kita jawab untuk memahami fenomena perubahan iklim yang sedang terjadi.

Berikut beberapa faktor penyebabnya: 

1. Peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca

Emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (NOx), yang berasal dari kegiatan sehari-hari manusia. Termasuk pembakaran bahan bakar fosil, industri, transportasi, pertanian, dan deforestasi, merupakan penyebab utama perubahan iklim.

Emisi gas rumah kaca menyebabkan peningkatan suhu global dan mengubah pola cuaca, termasuk meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas.

Pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca tidak dapat disangkal. Berdasarkan laporan inventarisasi Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Energi KESDM pada tahun 2019, sektor energi merupakan penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di Indonesia secara berturut-turut, yaitu sebesar 46,35%.

BACA JUGA: 7 Tindakan untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

2. Deforestasi

Hutan dapat menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk biomassa. Dengan adanya deforestasi, maka karbon yang tersimpan dalam hutan tersebut akan dilepaskan ke atmosfer. Sehingga meningkatkan suhu global dan menyebabkan perubahan iklim.

Menurut data terbaru dari Global Forest Watch, Indonesia merupakan negara keempat yang paling banyak kehilangan hutan tropis di tahun 2021 yang mencapai 202.509 hektar. Deforestasi ini disebabkan berbagai faktor, seperti ekspansi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, industri pulp dan kertas. 

3. Urbanisasi

Dengan meningkatkan permukaan bangunan dan penggunaan bahan material seperti beton dan aspal, dapat menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi di wilayah perkotaan atau urban heat island (UHI). UHI dapat memperkuat gelombang panas di wilayah perkotaan.

Data dari World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan bahwa suhu di wilayah perkotaan dapat lebih tinggi 5 hingga 10 derajat Celcius dibandingkan dengan suhu di pedesaan yang terletak di sekitarnya. 

UHI terjadi karena permukaan bangunan dan jalan yang padat dapat menyerap energi dari matahari dan menyimpannya dalam bahan material yang digunakan. Hal ini menyebabkan suhu di wilayah perkotaan menjadi lebih tinggi, terutama pada malam hari ketika bangunan dan jalan-jalan tersebut memancarkan panas yang disimpannya sepanjang hari.

4. Pengaruh Alam

Selain faktor-faktor yang disebabkan oleh aktivitas manusia, ada juga faktor alam yang dapat memperkuat gelombang panas.

Salah satu faktor tersebut adalah angin fohn yang bersifat kering dan panas. Ketika udara menuruni lereng gunung, udara tersebut memanas dan mengering karena tekanannya berkurang.

Terlebih lagi, cuaca yang cerah meningkatkan intensitas sinar matahari dan menyebabkan peningkatan suhu yang lebih tinggi. Hal ini juga diperparah oleh kekeringan tanah yang menyebabkan penguapan air menjadi semakin jarang.

Dampak Mengejutkan dari Gelombang Panas: Berujung pada Kematian 

Gelombang panas memiliki dampak serius pada kesehatan manusia. Terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi medis tertentu.

Salah satunya adalah heatstroke. Heatstroke adalah kondisi medis yang serius dan dapat mengancam nyawa yang disebabkan oleh paparan panas yang berlebihan. 

Beberapa contoh kasus heat stroke terjadi di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Pada 2019, terdapat 57 kasus kematian akibat heat stroke di Jepang. Sedangkan pada tahun 2021, terdapat lebih dari 500 kasus kematian akibat cuaca panas ekstrem yang memecah rekor di Kanada.

Di beberapa negara berkembang, seperti India dan Pakistan, dampak gelombang panas terhadap kesehatan manusia dapat lebih parah. Pada tahun 2015, gelombang panas di India menyebabkan lebih dari 2.500 kematian. Sementara di Pakistan, gelombang panas pada tahun 2018 menyebabkan lebih dari 65 kematian dan ribuan orang terkena heatstroke.

Dampak Gelombang Panas Bagi Ekonomi dan Lingkungan

Siapa sangka, sebuah fenomena alam seperti gelombang panas ternyata memiliki dampak yang begitu besar bagi ekonomi dan lingkungan kita. Apa saja dampak-dampak tersebut? Mari kita telusuri lebih dalam.

1. Dampak Ekonomi

Sektor pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan cuaca dan iklim. Sebab sangat bergantung pada faktor-faktor alamiah seperti curah hujan, kelembapan udara, dan suhu. 

Jika gelombang panas berlangsung dalam jangka waktu yang lama, tanaman bisa mati dan mengalami kerusakan yang parah. Akibatnya, produksi pertanian menurun dan menyebabkan ketersediaan bahan pangan menurun.

Dampak menurunnya produksi pertanian akibat gelombang panas akan berdampak pada harga bahan pangan. Keterbatasan pasokan akan meningkatkan harga produk-produk pertanian. Selain itu, biaya produksi pertanian juga bisa meningkat akibat penggunaan sistem irigasi atau pengairan yang lebih banyak akibat kekeringan. Dampak kenaikan harga bahan pangan akan berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.

2. Dampak Lingkungan

Salah satu dampak lingkungan yang paling signifikan adalah peningkatan emisi gas rumah kaca. Ketika suhu meningkat, banyak orang yang menghidupkan pendingin ruangan atau mengendarai kendaraan bermotor, yang semuanya membutuhkan energi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Tak hanya itu, gelombang panas juga dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Masih ingat dengan kekeringan parah yang melanda Indonesia pada tahun 2015? 

Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tahun 2015 terjadi kekeringan yang parah karena dipicu oleh fenomena El Nino, yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang sangat besar.

Luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 2,61 juta hektar dengan dampak kerugian ekonomi mencapai Rp 221 triliun. Selama 2-3 bulan, aktivitas pendidikan dan penerbangan lumpuh akibat dampak dari kebakaran tersebut.

Kebakaran tersebut menyebabkan polusi udara yang sangat parah dan merusak habitat alam yang penting bagi keanekaragaman hayati. Selain itu, kebakaran hutan juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar, terutama di sektor perkebunan dan kehutanan. 

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2019, Indonesia mengalami kekeringan selama enam bulan, yang berdampak negatif pada sektor pertanian dan perikanan. Terjadi penurunan luas panen padi sebesar 6,15 persen dan produksi padi turun sebanyak 7,76 persen dibandingkan tahun 2018.

Produksi padi pada tahun tersebut diperkirakan sebesar 54,60 juta ton GKG. Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi penduduk, produksi beras pada tahun 2019 turun sebanyak 7,75 persen menjadi 31,31 juta ton.

Satu Langkah Kecil Mengurangi Dampak Perubahan Iklim

Melihat berbagai potret nyata dampak perubahan iklim di atas, lantas apa yang mesti kita lakukan? Upaya paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan donasi Green Fund Digital Philanthropy yang merupakan inisiatif dari Greeneration Foundation

Green Fund Digital Philanthropy berupaya menghadirkan solusi perubahan iklim dalam bentuk digital, dengan tujuan mendorong donasi yang akan dialirkan kepada gerakan, proyek, atau inovasi lingkungan yang berusaha untuk membuat perubahan, namun menghadapi kendala dalam pembiayaan.

Kenapa harus berdonasi? Yap, karena mereka dapat melakukan upaya yang signifikan untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui program-program yang mereka jalankan. Donasi kita akan membantu mereka untuk melakukan perubahan terhadap lingkungan.

Nah, ketika kita berdonasi, kita tidak hanya berkontribusi pada upaya mitigasi dampak perubahan iklim yang dapat membantu menjaga bumi kita dari efek yang lebih buruk di masa depan. Tetapi juga donasi kita dapat membantu mempercepat aksi iklim dan menyebarkan kesadaran lingkungan yang lebih luas di masyarakat. Tunggu apalagi? Mari kita sama-sama beri kontribusi untuk bumi yang kita sayangi ini!

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *