Uncategorized

Ngomongin Diri Sendiri dan Ada Apa dengan Orang Indonesia?

Aku gak tahu apakah aku harus menuliskan ini atau tidak. Tapi semenjak aku duduk di depan laptop saat ini, aku memutuskan untuk menuliskan apa yang tengah berkecamuk di pikiranku ke dalam platform ini. Kebetulan hari Sabtu aku libur. Gak ngedit berita seharian itu adalah sebuah kebebasan buat aku. Kebebasan untuk tidak beraktivitas seperti biasanya. Artinya aku mau ngapain terserah aku.

Makin ke sini, aku udah kayak makin bodo amat apa kata orang. Mau mereka berkomentar tentang body aku yang terlalu kurus, apalagi komentar orang-orang tentang kapan aku nikah. Mendatangi pesta pernikahan teman, pasti selalu ditanya, jadi kamu kapan nyusul? Sebenarnya, pertanyaan seperti ini rasanya mengganggu banget. Masalahnya, kamu seolah-olah memaksa kesiapan seseorang buat menikah. Menyinggung soal agama seseorang, masalah nikah, termasuk ditanyain kapan punya anak adalah genuinely privacy.

Kalau orang belum mau nikah atau belum siap menikah, lalu kamu menanyakan pertanyaan seperti itu ke orang, berarti kamu ga sopan. Bahkan, ayah sama ibu saya, ga pernah sama sekali menyinggung soal status saya yang masih sendiri, apalagi coba-coba bahas soal pernikahan. Sama sekali nggak. Padahal, mereka adalah orang yang paling dekat dengan saya, tinggal serumah dan tahu segala aktivitas saya. Lah, anda, jangankan tahu aktivitas saya, kenal aja enggak. Apa orang-orang di Indonesia aja yang kayak begini?

Jadi, untuk teman-teman di luar sana, aku harap sih bisa ngerti. Kepada siapapun itu, entah aku atau orang lain, berhenti buat nanya-nanya hal yang ga penting ke orang lain. Karena setiap orang punya cerita masing-masing yang gak mungkin diceritain ke semua orang yang dikenalnya.

Baru-baru ini teman aku tiba-tiba pengen nelpon. Teman yang udah jarang banget ketemu karena kesibukan masing-masing. Dia nelpon nanyain kabar dan kemudian pembahasannya berlanjut kehubungan toxic dia sama mantannya. Mereka pacaran selama setahun. Aku pikir dia udah mau nikah sampai nelpon tiba-tiba. Ternyata, dia baru aja putus sama pacarnya. Ya, karena hubungan toxic itu. Setelah ngomong hampir 30 menit, aku nanya, jadi kapan kamu mau memulai hubungan kembali dengan orang baru? dia bilang kalau saat ini dia cuma pengen menata hatinya perlahan-lahan. Emang sih, melupakan orang yang udah lama bersama kita itu susah banget. Dan kita gak pernah tahu kapan semuanya akan benar-benar berakhir.

Aku tahu semua ada waktunya buat nentuin hal-hal yang kita pengenin. Setiap orang mendambakan hal yang membahagiakan bersama pasangan. Tapi hal bahagia belum tentu harus bersama pasangan, kan? aku udah pernah nulis ini di caption feed instagram aku. Menikah bukan tujuan buat mencapai bahagia, tapi menyiapkan mental buat menjalani hal yang lebih berat. Dan Tuhan tahu kapan waktu yang terbaik untuk itu. So, stopping to ask me for it.

Hal berikutnya yang pengen aku cerita adalah tentang media sosial. Media sosial yang aku punya ada empat yaitu Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube. Setahun lalu aku resmi buat konten youtube karena terinspirasi dari gita savitri, salah satu influencer favorit aku. Bergabungnya aku di youtube selain karena pengen punya penghasilan lewat platform ini, aku juga pengen mengasah kemampuan di bidang lain. Konten-konten youtube aku isinya ga jauh-jauh dari edukasi, vlog-vlog kecil, dan menunaikan nazar aku pas pulang dari kampung inggris yaitu menyalurkan ilmu yang kupunya ke orang-orang. Sempat berpikir, ngapain sih buat konten youtube? Kenapa ga konsen di tulisan aja?

Sebenarnya aku adalah orang yang ga pede tampil di depan kamera. Sementara dalam pandangan awal aku, para youtuber adalah orang yang paling percaya diri. Tapi makin kesini aku makin penasaran kenapa banyak orang yang akhirnya terjun ke dunia peryoutuban. Ternyata aku salah, bergabung dengan youtube membuat kita makin kreatif. Konten youtube bukan cuma soal kontennya Ria Ricis atau Atta Halilintar. Tapi, kamu bisa melakukan apapun yang sesuai dengan passion kamu. Dan bisa menebarkan informasi-informasi positif ke orang banyak. Dan setelah aku menjalani ini, ternyata sangat menyenangkan sekali.

Aku melakukan semuanya sendiri, bikin video sendiri, mengedit video dan thumbnail sendiri dan itu semua aku pelajari secara otodidak. Ada yang ngeluh ke aku, kalau dia juga pengen bikin konten youtube tapi ga bisa ngedit, ga bisa bikin video dan lain sebagainya. Menurutku, dia bukannya ga bisa, tapi ga mau berusaha aja sih. Karena semua hal yang pengen kita lakukan selalu diawali dengan niat dan usaha. Kalau ga ada itu, ya ga akan bisa.

Masih ngomongin soal media sosial. Kali ini tentang instagram. Instagram adalah salah satu platform yang isinya kebanyakan adalah toxic. Aku pernah nulis di status instagram aku, salah satu cara untuk mengurangi ke toxic-an instagram adalah dengan unfollow akun-akun yang benar-benar bikin toxic dan mempertahankan akun yang bikin aku semangat dalam menjalani hari-hari. Bahkan meskipun itu adalah teman dekat aku, kalau bikin aku insecure dan ga bersyukur, ya aku unfollow dong. Aku egois? Kadang, egois emang diperlukan buat menetralkan hati kita ke hal-hal yang tidak baik. Kalau ada hal yang membuat kita merasa kurang menyenangkan, egoislah buat diri kamu sendiri. Eh, emang ada ya egois buat orang lain? Daripada bikin hal-hal toxic di media sosial yang mengganggu kenyamanan orang lain, kenapa ga nunjukin kekuatan kamu lewat karya yang bisa menginspirasi orang lain?

Tapi, ada satu hal yang membuat aku sulit buat lakukan dan pengen banget aku lakuin sejak lama tapi belum bisa. Yaitu puasa media sosial, minimal gak main instagram selama sebulan. Jujur, baru baru ini aku uninstall instagram dari handphone aku dengan tujuan agar bisa berhenti main instagram atau setidaknya berkurang. Tapi, alih-alih berhenti main instagram, aku lebih memilih meminjam handphone bapak dan melihat update terbaru dari following favorite aku. Dan akhirnya baru empat hari aplikasi instagram hilang dari hp, besoknya aplikasi itu muncul tanpa kusadari karena reflek install dari playstore. Kalau mengingat ini aku jadi pengen ngakak. Tapi, ya sudahlah. Kalau kalian punya tips biar puasa instagram aku sukses, tolong beri tahu ya, soalnya segala cara aku coba tapi tetap aja ga bisa. Hasrat untuk berinstagram itu sudah mendarah daging. Kadang reflek buka instagram kalau lagi ga tahu mau ngapain. HAHAHA

Sebenarnya, salah satu pelarian aku kalau ga main instagram adalah Twitter. Soal informasi ter-update pasti ada di Twitter. Karena Twitter lebih menonjolkan tulisan daripada gambar, jadi rasanya agak sedikit bosan aja berlama-lama di Twitter. Nevertheless, Twitter sedikit banyak membantu. Aku ga punya terlalu banyak pengikut di Twitter. Otomatis yang tahu tentang tweet-tweet aku cuma segelintir orang aja yang aku kenal. Jadi, aku merasa bebas mengekspresikan apapun yang kurasakan saat nge-tweet. Mau curhat, bucin, kritik pemerintah, kritik orang, atau bahkan mengkritik diri sendiri aku tulis semua. Asal jangan ngumbar aib sendiri dan orang lain, ya ga boleh.

Baru-baru ini aku nge-tweet soal ini:

Kalau ada yang nanya apakah aku serius dengan tweet ku yang di atas? Emang aku serius. Aku merasa bosan tinggal di Indonesia. Hampir semua isinya toxic menurut pandangan aku. Atau kalian juga menganggap aku toxic, whenever you want. Semua orang berhak melakukan apapun yang tidak disukainya. I just delivered what I hate.

Gambar ini adalah kota kecil di Belanda yang bernama Giethoorn yang pengen banget aku kunjungi.

Well, ini ga ada hubungannya dengan nasionalisme atau apapun tentang cinta tanah air. Aku cinta tanah air, cuma aku gak suka sama kebijakan dan aturan yang membelenggu di dalamnya. Lebih tepatnya aku cuma pengen menepi aja sih dari negara ini. Suatu saat kalau aku emang ditakdirin buat lanjut kuliah ke luar negeri, maka nikmat Tuhan yang manakah yang aku dustakan? Selain itu, aku juga pengen benar-benar melihat dunia itu dari sudut pandang yang berbeda. Bukan dari sudut pandang orang-orang Indonesia, tapi lebih ke banyak hal yang mungkin belum pernah aku temui sebelumnya.

Aku tahu pengetahuanku masih sebatas meniru apa yang orang lain pikirkan. Aku belum benar-benar pure dengan pikiranku dan pemahamanku sendiri. Maka dari itu, belajar memahami dunia mungkin adalah cara agar aku bisa lebih bebas dalam berpikir. Soal ketidaknyamananku barangkali hanyalah sebuah dampak dari apa yang terjadi sekarang. Melihat di tahun 2020 adalah hal yang paling memilukan buat ku dan mungkin buat semua orang. Aku ga perlu jelasin apa aja bencana dan masalah yang melanda negeri kita tercinta ini. Semua orang pasti tahu. Kita sepatutnya harus terus berdoa agar tahun berikutnya ga lebih parah dari ini.

Aku juga muak dengan mulut orang-orang yang ga bisa diam komentarin privasi orang lain. Aku paling males nanggepin hal yang kayak begini. Karena sejujurnya aku adalah orang yang paling sensitif. Kalau udah ada yang ngomentarin hidup aku, aku bakal mikirin itu sampai bikin aku merasa marah dan dendam. Jadi, dalam hal ini, aku benar-benar butuh pasangan yang mau nerima aku apa adanya. Ini emang kalimat yang klasik, tapi bagiku ini maksudnya pure pengen nyari orang yang seperti itu. Atau jangan-jangan orang yang aku pengenin ga ada di Indonesia kali ya? Hmm..

Aku tipe orang yang ga mau diatur-atur, disuruh-suruh. Itu sebabnya aku ga pernah mau kerja kantoran. Itu sebabnya aku pengen bikin usaha sendiri, konten youtube sendiri, pengen jadi penulis. Aku bisa berkuasa atas kemauan aku sendiri. Ya, aku berhak atas diri aku sendiri. Aku tidak ingin ada pembagian, suami harus bekerja di luar rumah, istri harus bekerja di dalam rumah. Aku benci sama pemikiran patriarkat macam itu. Aku tidak ingin ada kata-kata istri harus bisa masak, dandan, buat nyenengin suami. Aku tidak ingin ada orang tua yang campurin rumah tangga anaknya. Aku egois? Kadang egois emang diperlukan buat bisa survive di tengah orang-orang toxic di sekeliling kita.(*)

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *