Human Interest

Berempati dan Kesampingkan Ego di Tengah Pandemi

ilustrasi/int

Terdengar deru mesin pabrik beras di sebelah rumah yang beroperasi setiap saat. Suaranya lebih intens terdengar selama akhir bulan ramadan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Orang-orang masih tetap menjalankan ibadah zakat meski keadaan sedang mencekam. Orang-orang mati di sekeliling kita, tak terhitung sudah berapa keluarga yang berduka. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi di negeri yang kaya sumber daya alam ini. Aku tidak mengerti mengapa wabah penyakit menular ini bisa begitu ganasnya menghancurkan kehidupan di mana kita tinggal dengan mudahnya.

Sebuah moment yang menyedihkan bagi umat muslim di bulan ini. Bulan ramadan, kita diharuskan untuk berada di rumah saja, sebab di luar tidak ada jaminan kita bisa terlindung dari virus mematikan itu. Tempat ibadah ditutup, orang-orang dilarang berkumpul, jalanan disterilkan, para pengusaha dan pedagang berhenti berjualan. Di tambah lagi, tidak ada salat ied seperti biasanya, berkumpul di masjid atau di lapangan untuk mendengar ceramah, menyaksikan orang-orang dengan berpakaian baru dan rapi berbondong-bondong menuju tempat salat mereka diiringi suara takbir yang menggema dan menggetarkan hati.

Meski situasi ini memang menyedihkan, tapi aku dan keluarga patut bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Kami masih bisa menghirup udara segar di pagi hari, makan makanan yang layak, diberi tempat tinggal yang nyaman, merasakan kehangatan keluarga, dan kebutuhan yang terpenuhi. Aku sadar di luar sana masih banyak yang belum merasakan apa yang kami rasakan. Masih banyak warga yang makin kelaparan karena kehilangan pekerjaan mereka. Tapi, aku yang tak punya kekuatan apapun hanya bisa menjadi penonton.

Sementara di luar sana, masih banyak orang yang juga belum sadar dan mementingkan ego diri sendiri. Keluyuran saat aturan dilonggarkan, berkerumun di pusat perbelanjaan seolah-olah apa yang terjadi hanyalah hal biasa. Melupakan jasa tenaga medis yang berjuang antara hidup dan mati. Mereka sama seperti kita. Punya keluarga, punya anak yang ingin diberi makan, punya keinginan berjalan-jalan, punya keinginan berlebaran bersama keluarga. Tidak bisakah kita berempati sedikit saja? Kita semua tahu keadaan begitu sulit, jadi marilah kesampingkan ego diri. Kita harus bersatu agar bisa mendapatkan kembali kehidupan awal kita.

Dua hari lagi kita meraih kemenangan. Meski lebaran kali ini berbeda dengan lebaran sebelumnya, semoga kita bisa memberikan yang terbaik bagi ibadah, diri sendiri, dan juga bagi orang-orang disekitar kita. Meski tak bisa saling berjumpa, setidaknya kita semua tidak berputus silaturahim dengan banyak cara. Kita harus yakin bisa melewati semua ini dengan optimis. Kita harus yakin, keadaan bisa kembali normal seperti semula.

Selamat Hari Raya 1441 H. Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT.

Salam,

Dila sekeluarga 🙂

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *