Article Esai

Mikroplastik dan Rusaknya Ekosistem Laut

Plastik kini sudah menjadi musuh sebagian orang yang peduli akan pentingnya kesehatan lingkungan, khususnya ekosistem di laut. Banyak memakai plastik, otomatis menambah tumpukan-tumpukan sampah plastik yang dibuang baik di tempat sampah ataupun di sembarang tempat, termasuk lautan.

Tidak menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari saya rasanya juga tidak mungkin. Di mana-mana kita pasti menemukan plastik, menjadi bahan yang merangsek ke dalam masyarakat kita meliputi semua produk yang kita konsumsi. Paling sering kalau kita pergi berbelanja di Supermarket. Karena kantong plastik lebih praktis, maka sangat mudah digunakan untuk membawa barang belanjaan.

Baru-baru ini, Aprindo (Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia) mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar sebagai upaya menekan penggunaan plastik. Kantong plastik yang dulunya gratis, sekarang sudah harus dibeli seharga Rp200 per kantong.

Kemarin, saya berbelanja di Supermarket. Sesampai di kasir, pelayannya menawarkan kantong plastik berbayar seharga Rp200. Tapi, saya menolaknya.

“Nggak usah pakai kantong, Mba,” kataku. Kebetulan belanjaanku waktu itu hanya sedikit sehingga bisa dimasukkan ke dalam tas. Tunggu dulu. Jangan nuduh saya pelit. Harga segitu mah, dompet saya nggak bakalan goyang. Saya menolak pemakaian kantong bukan karena Rp200-nya melainkan untuk membatasi pemakaian plastik yang pada akhirnya terbuang tak berdaya di tempat penampungan sampah.

Lah, emang kenapa kalau larinya ke penampungan sampah? Bukannya sampah-sampah lain juga begitu? Dipakai, dibuang ke tempat sampah, dan hancur dengan sendirinya. Iya, itu kalau sampah non-plastik. Beda kalau sampah plastik.

Perlu teman-teman sejagad ketahui, kalau saya sudah berusaha seminimal mungkin untuk mengurangi pemakaian produk-produk yang berbahan plastik. Meski tak bisa dipungkiri, saya selalu saja khilaf jika tak sadar bawa pulang kantong plastik.

Pengeen banget nyuruh Dilan menghilangkan kantong plastik dari muka bumi. Pria lain yang gangguin Milea saja bisa dihilangin, apalagi kalau cuma kantong plastik. Iya, gak?

Dikutip dari www.cnnindonesia.com, sampah organik atau sampah yang berasal dari bahan alami seperti makanan, sayur, buah-buahan, dan lain-lain akan hancur dalam hitungan hari atau minggu atau bulan. Sedangkan sampah kertas akan terurai dalam waktu dua sampai enam bulan.

Kantong plastik biasa membutuhkan waktu sepuluh sampai 12 tahun untuk terurai. Botol plastik lebih lama lagi. karena polimernya lebih kompleks dan lebih tebal, botol plastik memiliki waktu 20 tahun untuk hancur. Sedangkan sterofoam biasa yang sering digunakan di Indonesia, membutuhkan waktu 500 tahun untuk bisa hancur sempurna.

Mengapa begitu? Dalam plastik, terdapat partikel serat plastik bersifat mikroskopis atau mikroplastik yang berukuran kurang dari 5mm yang tidak dapat larut dalam air. Barangkali saya tidak usah terlalu jauh menjelaskan mengenai mikroplastik ini, ya. Handai tolan pasti lebih tahu-lah dari saya. Saya mah apa atuh.

Bayangkan, kalau sampah-sampah plastik dibuang ke sungai atau ke laut. Jangan pikir monster-monster kecil ini bakalan hancur dengan sendirinya, melainkan menjadi makanan siap saji bagi ikan-ikan di lautan.

Kalau melihat hasil-hasil penelitian para akademisi kita, di antaranya menyebutkan bahwa sebagian besar sampah yang berada di perairan Indonesia itu merupakan sampah plastik. Hal ini tentu berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai. Apalagi pada saat musim hujan. Kebanyakan dari kita seringkali membuang sampah ke sungai. Padahal kan, sungai itu ujung-ujungnya bermuara ke lautan.

Nah kalau sudah begitu, makhluk hidup di lautan akan merasa terganggu ketentraman hidupnya. Kita bisa melihat berapa banyak paus raksasa yang mati terdampar di daratan karena terlalu banyak memakan sisa sampah plastik.

Tak hanya paus, ada banyak hewan yang menjadi korban mikroplastik, termasuk penyu yang tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan makanannya. Akibatnya, saluran pencernaan penyu rusak karena ususnya yang terobek plastik sehingga bisa menyebabkan kematian.

Bahkan, pernah juga ditemukan kasus ikan mengidap tumor setelah menelan mikroplastik. (Baru tahu ikan juga bisa kena penyakit tumor ya hihi).

Mikroplastik ini bukan hanya berdampak pada ikan, guys. Tapi juga bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui ikan-ikan yang kita makan. Masih ingat kan soal rantai makanan saat masih SMA dulu. Kalau lupa saya kasih contoh nih. Misalnya, plankton memakan mikroplastik. Lalu, plankton itu dimakan ikan kecil. Ikan kecil ini menjadi mangsa ikan besar, kemudian ikan besar menjadi mangsa manusia. Akhirnya, mikroplastik tersebut masuk ke dalam tubuh manusia tadi.

Meski hingga saat ini belum ada studi yang mengungkapkan bahaya mikroplastik bagi manusia, tapi kita mesti tetap waspada.

Nah, sekarang sudah banyak gerakan-gerakan yang dilakukan para aktivis lingkungan untuk mengkampanyekan bahaya pemakaian plastik secara berlebihan. Pun melakukan berbagai upaya untuk menangani sampah sampah di lautan.

Contohnya adalah aksi bersih pantai ‘ Gerakan Menghadap Laut’ yang diselenggarakan oleh Pandu Laut (yang merupakan bentukan KKP) dan dilaksanakan secara serentak di lebih dari 73 lokasi pantai dari Aceh sampai Papua di seluruh Indonesia. Gerakan ini berhasil mengumpulkan total sampah lebih dari 360 ton dan sampah plastik menjadi sampah yang paling dominan.

Jadi buat kalian-kalian nih yang juga pengen ikut memberi kontribusi untuk lautan bebas mikroplastik, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan botol plastik. Jadi, kalau mau berbelanja ke toko, kita bisa bawa kantong non-plastik atau totebag yang bisa dipakai berkali-kali. Selain itu, kemana-mana kita harus bawa botol air minum sendiri seperti tumbler atau Tupperware dari rumah supaya kita bisa meminimalisir sampai-sampah air kemasan dalam botol.

Tak hanya itu, tidak menggunakan sedotan plastik juga bisa kita lakukan. Sekarang ini, sudah ada sedotan yang berbahan dasar stainless steel. Saat ini lagi tren loh, kalian ketinggalan jaman kalau belum pakai sedotan ini. Hihiw

Selanjutnya, mengurangi penggunaan produk kecantikan yang mengandung mikroplastik dalam produknya. Bahkan sebuah perusahaan ternama yaitu Danone Aqua dan H&M Indonesia telah mengolah botol plastik menjadi produk fashion. Jadi kalau milih fashion brand bisa dukung brand anti-plastik.

Tak hanya itu, seperti yang dilansir phinemo.com, beberapa perusahaan dunia yang bergerak di bidang industri pariwisata pun melakukan aksi kurangi sampah plastik. Alaska Airlines misalnya, sejak 2018 lalu, maskapai penerbangan Amerika Serikat pertama ini melarang penggunaan sedotan plastik di penerbangan mereka.

Sebelumnya, pada 2017 Alaska Airlines pun telah mendistribusikan 22 juta sedotan plastik dan menggantikannya dengan sedotan non-plastik. Mereka juga mengganti kotak jus plastik dengan kaleng aluminium yang bisa didaur ulang. Menakjubkannya, selama 8 tahun terakhir, Alaska Airlines telah mengumpulkan 12.000 ton bahan untuk didaur ulang.

Perhotelan dan perusahaan jasa makanan dunia pun ikut turut serta. Misalnya, Delaware North, perusahaan pelayanan jasa penyediaan makanan untuk perusahaan dan perhotelan telah menghapus penggunaan sedotan plastik di 200 lebih gerai makannya di 23 bandara di seluruh AS.

Selain itu ada, Hotel Hilton menghilangkan sedotan di 650 akomodasi dunia dan botol plastik dari konferensi yang diselenggarakan. Ada juga, Marriott International juga membatasi polusi plastik dengan mengganti tempat sabun mandi di hotel-hotel Amerika Utara dengan dispenser yang dapat didaur ulang.

Meskipun tidak 100 persen, setidaknya kita sudah berusaha untuk mengurangi pemakaian plastik. Nah, sekarang tinggal menunggu aksi kalian, sudah sampai di mana? Masihkah kita mau memberi makan ikan-ikan di laut dengan monster-monster kecil itu?(*)

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *