Esai Personal Story

Ruangbaca dan Perasaan yang Sulit Dijelaskan

Ada hal yang bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Tapi adapula hal yang sulit dijelaskan meski kita begitu memahaminya. Kau pasti tahu apa itu. Sederhana. Itulah cinta.

Jatuh cinta pada lawan jenis itu sudah biasa. Tapi jatuh cinta pada musik dan puisi berarti mencintai manifestasi kehidupan yang diciptakan Tuhan.

Sosok Ale dan Viny, duo folk yang kemudian menamakan diri mereka dengan sebutan ‘Ruangbaca’ perlahan-lahan mengisi ruang di hati saya. Ada banyak musisi-musisi di Indonesia yang menyanyikan puisi dengan cara mereka sendiri. Tapi Musik dan Puisi Ruangbaca benar-benar berbeda.

Ruangbaca membawa saya masuk ke dalam beragam suasana. Setiap kali mendengar lagu-lagu Ruangbaca, ada perasaan gembira, semangat, serta keindahan yang tanpa dibuat-buat mengalir begitu saja. Alunan musik, dengan suara merdu Viny, petikan gitar Ale membuat suasana seketika berubah. Ada lagu Ruangbaca yang mengingatkan saya masa kanak-kanak yang hangat, ada lagu Ruangbaca yang memperlihatkan masa depan lebih cerah.

Ruangbaca selalu membuka mata saya lebih lebar. Kebahagiaan ada di mana-mana. Tak peduli semesta memberikan apa, tak peduli masalalu seburuk apa, sebab masih ada harapan selama kita masih diberi kuasa untuk tetap bertahan.

Saya sudah mulai mengenal Ruangbaca sejak lama. Namun, baru jatuh cinta pada lagu-lagunya sejak Januari 2019. Saya merutuki diri karena baru menyukai lagu-lagunya padahal Ruangbaca hadir jauh sebelum itu. Kala itu, saya mendatangi Viny Mamonto karena ditugasi melakukan wawancara perihal RUU Permusikan yang menjadi perbincangan hangat saat itu.

Saya mendatangi cafe se.cangkir di Jl. Hertasning. Viny bersama dengan rekan-rekannya sedang melakukan diskusi di teras cafe saat saya mendatanginya. Tentu Saleh Hariwibowo atau akrab disapa Ale, juga ada di sana. Tapi saya hanya butuh perwakilan Ruangbaca untuk memberi sedikit pandangannya untuk diwawancara.

Di akhir perbincangan, Kak Viny–perempuan cerdas, cantik dan lembut itu berkata kalau dalam waktu dekat Ruangbaca akan merilis album pertamanya yang berjudul Di Belantara Kata. Dia tidak memberikan banyak penjelasan tentang lagunya. Ia hanya menyarankan untuk mendengar secara langsung di Youtube, Spotify, atau Joox. Sebab, lagu-lagu Ruangbaca sudah lengkap di sana.

Karena penasaran, setelah pulang dari sana, segera kubuka channel Youtube Ruangbaca dan mulai mendengarkan. Benar saja, saya langsung menyukai Di Belantara Kata saat itu juga. Kudengarkan berulang-ulang tanpa bosan. Ah, senang sekali rasanya mengenal lagu ini. Perasaan yang sulit dijelaskan, saking cintanya.

Bolehlah kalian menganggap saya terlalu lebay mengatakan ini. Tapi sesungguhnya inilah yang kurasakan.

Berawal dari mendengar Di Belantara Kata, saya sudah mulai menyukai lagu-lagunya yang lain. Dongeng, Di Balik Jendela, Kecuali, Diam-diam, Candu dan Hal-hal yang Tak Kau Tahu, Saparuh Puisi, dan lagu-lagunya yang lain kini hadir di playlist music smartphone-ku.

Sejujurnya, saya amat jarang men-download lagu untuk disimpan di handphone. Semua lagu-lagu kesukaanku kusimpan di dalam laptop mengingat kapasitas handphone yang terbatas. Tapi lagu-lagu Ruangbaca ini spesial. Lagu-lagunya kuputar dimana-mana. Saat berkendara, membaca buku, bekerja, menulis, merenung dan beragam aktivitas lainnya.

Seperti namanya, Ruangbaca benar-benar memberi saya ruang untuk berani bermimpi dan tak pernah berhenti mengejar mimpi. Puisinya sederhana tapi menginspirasi. Terimakasih Ruangbaca telah hadir dan mengisi ruang-ruang di hati saya. (*)

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *