Uncategorized

Sebuah Pengakuan Paling Jujur

Malam ini hujan turun cukup deras. Aku bingung mau menulis tentang apa kali ini. Sudah lama sekali tak mengisi blog. Terhitung sejak kau datang mengisi hari-hari dalam pikirku. Hingga hanya kau yang ada. Hingga aku lupa segalanya. Hingga…kau pergi dan aku yakin kau tak akan pernah datang lagi.

Jangan pikir macam-macam dulu. Ini bukan surat, curahan hati ataupun sebuah dongeng pengantar tidurmu. Ini adalah sebuah pengakuan yang paling jujur dari lubuk hati saya paling dalam. Tentang seseorang yang sulit aku lupakan meski ia telah berbuat jahat padaku.

Sebelumnya aku sempat berpikir dua kali untuk pada akhirnya berani menuliskan ini. Sebab aku pikir, seseorang seperti dirinya tidak pantas untuk kuabadikan dalam tulisan. Bahkan untuk tetap tinggal dalam ingatan sudah tidak sudi lagi.

Tapi, aku bukanlah seorang pendendam. Bagaimanapun juga, dia pernah hadir dalam setiap hela nafasku. Entah apapun niatnya masuk ke dalam hidupku.

Kau tahu, melupakan seseorang adalah hal pertama yang aku lakukan dengan susah payah. Tak pernah sekalipun aku melakukan usaha sekeras ini hanya untuk melupakan seseorang yang bahkan peduli terhadap hidupku saja tidak.

Apa yang salah dengan diriku? Apa aku terlalu berharap kepadanya? Atau aku yang terlalu bodoh.

Aku menerima jika semesta memberi pelajaran atas pertemuan ini. Tapi, ini seperti kutukan bagiku. Aku sulit membuka hati kepada orang baru. Ada apa? Apakah dia harus benar-benar hilang di kepalaku lebih dulu sebelum aku bertemu pria lain?

Tuhan tak adil jika hanya aku yang dibuatnya sengsara sementara dia bisa hidup bahagia bersama orang lain. Maka, kumohon, buatlah kami berdua bahagia meski kau tak membiarkan kami hidup bersama. (*)

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *