Uncategorized

Titik Terberat Dalam Hidup

KALIAN pernah tidak merasa hidup itu terkadang susah sekali? Kita merasa mendapat ujian yang begitu berat dari Tuhan yang belum dirasakan sebelumnya. Ditinggal Ayah atau Ibu kandung, misalnya. Atau kehilangan harta benda yang paling berharga. Atau saat ini kita berada dalam kondisi keuangan yang begitu memprihatinkan. Di mana orang tua tidak bisa membiayai kuliah, lalu kita dituntut untuk bekerja lebih keras untuk membiayai hidup, setidaknya untuk diri sendiri.

Ya, setiap kita memang akan mengalami hal seperti itu. Hidup memang kadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Ketika kita tertidur dan mulai bangun di pagi hari, lalu menyadari ternyata tidak ada yang berubah dari hidup kita. Kita tetap kehilangan, tetap tak punya apa-apa, dan kebahagiaan itu hanyalah mimpi dalam tidur.

Saya pernah. Bahkan hingga detik ini, saya merasa hidup itu begitu sulit. Ceritaku bukan lagi tentang orang-orang yang datang dan pergi begitu saja. Itu sudah terlalu sering terjadi. Saya sudah siap bahkan sejak mereka memulai merencanakannya.

Tapi kali ini saya berbicara tentang ‘bertahan’. Posisiku saat ini seperti sedang berdiri di bawah terik matahari tanpa ada penghalang sedikit pun. Tapi saya tidak bertahan sendirian. Ada banyak orang-orang yang bersamaku di bawah matahari itu. Dan saya bersyukur karena mereka mendukungku dan mau berjuang bersama-sama.

Rutinitasku tiap pagi, mulai pukul 9 hingga malam hari, pulang ke rumah dengan badan pegal-pegal karena berada di lapangan seharian. Pulang ke rumah, beruntung jika makanan di meja makan masih ada yang tersisa, tapi kalau sudah habis, saya terpaksa harus memasak atau jika sudah terlalu lelah saya akan ke kamar untuk istirahat dalam keadaan perut lapar.

Saya kadang merenung, kok hidup itu begitu sulit, ya? Apa cuma saya yang merasakan hal seperti ini? Ketika melihat ke atas, di instagram, para artis sedang memamerkan kemewahan yang mereka punya, saya lantas berpikir, semudah itukah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan?

Sebaliknya, saat saya melihat ke bawah, ternyata ada banyak orang yang bahkan lebih merasa kesulitan dari apa yang saya alami. Di sini saya bersyukur, masih diberi tempat tinggal yang layak, keluarga yang masih utuh, adik-adik yang lucu-lucu, harta benda yang masih ada, pekerjaan yang saya miliki saat ini adalah karunia Tuhan yang tiada tandingannya.

Lantas, bagaimana dengan kawan-kawan, saudara-saudara kita yang saat ini tengah dirundung duka akibat bencana alam yang menimpa wilayah tempat tinggal mereka. Hei, apa yang mereka rasakan saat ini tidak sebanding dengan apa yang saya miliki. Sangat jauh dan itu membuat saya merasa malu karena terlalu sering mengeluh dan meratapi nasib.

Seperti yang diyakini Kaum Stoik (sebuah aliran dalam filsafat) bahwa semua proses alam, seperti penyakit dan kematian, mengikuti hukum alam yang tak pernah lekang. Oleh karena itu, manusia harus belajar untuk menerima takdirnya. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Maka tidak ada gunanya mengelu jika takdir sudah datang mengetuk pintu.

Dalam tulisan ini, saya mau bilang, kalau titik terendah dalam hidup itu bukanlah titik terakhir. Kita tidak semestinya menunggu datangnya keajaiban tanpa ada pertahanan yang cukup kuat untuk melawan penderitaan yang kita rasakan saat ini. Barangkali, kita iri melihat orang-orang yang sudah sukses dan bisa melakukan apa yang mereka inginkan. Tapi percayalah, mereka tidak akan semudah itu mendapatkannya. Kita tidak pernah tahu bagaimana dan dengan cara apa yang mereka lakukan untuk bisa mencapai titik tertinggi mereka.

Hidup itu berjalan ke depan, bukan ke belakang. Yang harus dilakukan sekarang adalah memulai untuk bangkit. Caranya, lagi-lagi harus belajar mengenali diri. Tidak hanya menjadi diri sendiri, melainkan menjadi versi terbaik dari diri kita.

Kawan, kita mesti belajar memahami bahwa ada beberapa hal dalam hidup yang tidak bisa dipaksakan, bagaimanapun kerasnya upaya yang kita lakukan, jika itu tidak diperuntukkan untuk kita maka tidak akan bisa kita raih. Maka, salah satu yang bisa dilakukan adalah bertahan. Temukan hal-hal baru yang bisa mengubah jalan hidup kita untuk meraih titik tertinggi yang selama ini kita impikan. (*)

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *