Uncategorized

Kembali ke Dunia Persilatan

Setelah sekian lama, akhirnya saya nge-blog lagi. Tangan saya terasa kaku sekali ketika harus kembali menulis santai seperti dulu. Bagaimana tidak, selama ini tulisan saya memang seperti kayu yang dipatah-patahkan karena harus menulis berita mulu setiap hari. Ini juga menjadi salah satu faktor kenapa saya jarang menulis di blog. Itu karena waktu saya banyak tersita di lapangan.

Saya sebenarnya bingung mau menulis apa. Soalnya banyak sekali hal yang ingin kuceritakan. Mulai dari aktivitas saya selama menghilang dari dunia persilatan (blog, red) serta prioritas saya ke depan apa saja. Mungkin bagi kalian ini tidak penting, tapi bagi saya–sebagai owner blog pribadi–tentu saya berhak dong untuk menyuguhkan konten-konten apa saja. Tapi harapan saya tentu bisa bermanfaat bagi pembaca.

Jadi sedikit bercerita saja, saat ini saya lagi sibuk mencari nafkah untuk bekal masa depan. Cielah. Saya akhirnya memutuskan untuk bekerja sebagai jurnalis yang awalnya ogah banget menyentuh profesi ini. Karena saya berpikir, untuk menjadi jurnalis itu perlu keberanian dan mental yang kuat. Tantangannya juga tidak main-main. Tapi, saya salah besar. Dunia jurnalis itu menyenangkan. Bikin greget, meski ada pahit-pahitnya juga.

Tapi, kawan, saya tidak mau berbicara panjang lebar dulu mengenai profesi saya yang sekarang. Nanti ada bagian khususnya. Sekarang, saya mau cerita soal bagaimana mengatur waktu antara bekerja, mengurus rumah, dan mengejar impian.

Sebenarnya, saya agak kewalahan melakukan ketiga hal ini meskipun sudah banyak mempertimbangkan ke berbagai sisi, apa yang perlu diprioritaskan dan mana yang harus disimpan-simpan dulu. Because my opinion, these three things are just as important.

I work to meet my daily needs. Yah, setidaknya tidak lagi membebani orang tua. Kedua, tanggungjawab saya sebagai anak perempuan dan sebagai anak pertama tentu berkewajiban mengurus rumah, memasak dan pekerjaan keperempuanan lainnya. Lalu ketiga, saya sedang mempersiapkan hal-hal untuk meraih impian saya, yakni melanjutkan magister dengan beasiswa.

Lalu bagaimana cara membagi-bagi aktivitas dengan catatan semua harus terpenuhi dalam waktu bersamaan. Bisakah? There is no imposible. Saya bisa melakukannya, asalkan tekun dan disiplin. Setiap hari saya menuliskan to do list yang bakal kukerjakan pada hari itu. Contohnya, besok pagi saya akan membaca buku, setelahnya pergi kerja (liputan sampai sore), lalu belajar TOFLE (persiapan beasiswa), habis itu melanjutkan tulisan di blog/wattpad, menjelang tidur nyuci piring dulu. Jadi dalam sehari itu, sudah include, bisa merangkul ketiga prioritas.

Tapi, apakah semudah itu menjalankannya seperti pada saat merencanakannya? Tentu tidak semudah itu. Contohnya sekarang, saya lagi badmood banget. Rasanya pengen marah-marah, tidak bisa mengerjakan apa-apa, pengen belajar TOEFL tapi percuma, tetap saja ilmunya nggak bisa masuk ke otak. Pengen membaca tapi pikiran mengawang-awang. Jadilah saya nyalain laptop, dengerin music, atau bahkan nonton vlognya  Gita biar semangat bisa muncul kembali.

Jadi, apa yang kita rencanakan tidak semua bisa kita lakukan. Kita hanya bisa berusaha dan terus mempertahankan apa yang menjadi kemampuan kita. Kalau kemampuan kita cuma segitu, ya tidak usah dipaksakan. Toh, yang jelas kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tuhan tahu kok apa yang kita kerjakan.

Terakhir, sebagai masukan juga, bagi kawan-kawan yang merasa agak sulit membagi waktu, cobalah untuk belajar membuat perencanaan. Mulai dari perencanaan jangka pendek (apa yang akan kau kerjakan besok), jangka menengah (apa yang akan kau capai bulan ini), dan jangka panjang (apa targetmu di tahun ini). Setelah itu, bertekadlah untuk mencapainya. Tapi ingat, kita masih punya Tuhan yang punya seribu rencana buat makhluk-makhluknya. Terlalu berambisi untuk meraih sesuatu tidak baik untuk diri sendiri. Kita hanya bisa berencana, sepenuhnya Tuhanlah yang akan menentukan. Apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut-Nya. Begitupun sebaliknya. (*)

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *