Uncategorized

Mengapa Saya Menulis?

yayay
Dokumen Pribadi

Pertanyaan itu sering sekali ditanyakan padaku. Padahal, aku juga sedang memikirkan apa jawaban yang paling tepat untuk memuaskan kawan-kawan. Mengapa aku suka menulis? Untuk apa? Mengapa menulis cerita galau terus? Bagaimana awal mulai menulis? Bagaimana caranya menulis?

Rentetan pertanyaan yang sangat sulit aku jawab. Karena aku tak tahu mengapa. Terjadi begitu saja tanpa permisi. Aku tidak pernah meminta untuk menyukai menulis. Aku tidak pernah meminta kepada semesta untuk bisa menulis. Bukankah kita tidak pernah meminta untuk bisa mencintai sesuatu?

Tapi kalau ditanya apa yang kau rasakan ketika menulis, maka jawabannya: menulis bagiku adalah belajar mencintai diri sendiri. Dengan menulis membuatku sadar, ada begitu banyak hal yang bisa kusampaikan tanpa harus kusuarakan. Dengan menulis, aku menyampaikan kegelisahanku tak hanya kepada satu orang. Dengan menulis, aku bisa belajar jujur pada setiap detik kehidupan yang penuh tipuan dan kebohongan. Ah, menulis memang menyenangkan. Kau harus coba! Jadi jangan tanya lagi untuk apa aku menulis. Kau sudah cukup tahu alasannya, bukan?

Bagaimana awal saya mulai suka menulis?

Itu terjadi sejak aku duduk di tingkat SMP. Sejak Ibu dipanggil oleh semesta. Perasaan sedih yang paling sulit untuk aku ungkapkan. Kesedihan yang paling sulit aku ceritakan kepada siapapun di sekelilingku. Lalu, aku mulai menulis. Meraba sedikit demi sedikit perasaan yang hadir dalam benakku waktu itu. Menuliskan bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kita cintai. Seolah-olah bercerita kepada semesta yang tak pernah bisa dilihat namun bisa menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan. Dan setelah semua itu  kutuliskan, keajaiban terjadi begitu saja. Kesedihan perlahan-lahan hilang berganti angin sejuk yang menenangkan. Sejak saat itu, setiap kali aku merasakan kegelisahan, aku lalu menuliskannya.

Masuk SMA, aku mencoba menulis sebuah karangan. Karangan pendek yang  disebut sebagai cerita pendek. Sebuah komputer lama milik Ayah dipojokan ruang tamu membantuku menuliskannya. Aku masih ingat cerpen pertamaku yang berjudul “Kucinta Desa Kakek”—yang kemudian dimuat di koran lokal. Awalnya aku hanya menuliskan cerpen-cerpen lalu mengarsipkannya setelah diprint. Tiba-tiba Ayah membacanya dan meminta izin untuk dikirim ke media. Saat itu aku setuju saja dan setelahnya tak peduli. Bagiku, menulis saja sudah cukup membuatku senang, menerbitkannya itu hanyalah sebuah bonus.

Kemudian, menyusul cerita lainnya berjudul “Kesedihan itu Sia-sia”. Berkisah tentang kehidupanku setelah Ibu tiada. Saat cerpen satu ini diterbitkan, Ayah bilang kalau para rekan-rekannya terharu membaca tulisan ini. Mendengarnya, sedikit membuat malu tapi bahagia. Begitulah kira-kira rasanya ketika tulisan kita mendapat respon dari pembaca.

Apakah aku bisa begitu saja pandai menulis?

Ah, tentu saja tidak. Pertanyaanmu ada-ada saja. Setiap tujuan tentu memiliki proses yang panjang. Tak pernah bisa terjadi begitu saja. Aku bisa menulis karena aku membaca. Aku suka membaca novel tapi tak suka membaca buku pelajaran. Pernahkah kau lihat seorang murid yang terlihat membaca buku pelajaran di sekolah tapi di baliknya ia sedang menikmati alur cerita novel? Aku termasuk salah satu murid itu. Lebih tertarik membaca cerita yang tak nyata daripada cerita sejarah yang dipelintir pengarang buku-buku sejarah.

Lalu, mengapa menulis cerita galau terus? Bikin baper. Apa itu kisahmu?

Semua pembaca berhak menilai. Setiap kepala mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Jika kau bertanya kenapa tulisanku begitu memilukan seakan-akan hal itu sedang terjadi padaku, maka kau tidak salah. Memang benar, aku sedang menulis sebuah cerita yang mewakili perasaanku. Sebab, membuat cerita fiksi sangat berkaitan dengan apa yang kita rasakan, bukan apa yang kita alami. Jadi, ingat ya, merasakan berbeda dengan mengalami. Logikanya, aku memasukkan hatiku pada karakter-karakter yang aku ciptakan sendiri dan tentu dengan alur cerita yang berbeda. Intinya, kita harus menghayati cerita yang kita buat. Itulah mengapa setiap orang yang membacanya ikut larut dalam apa yang kita tuliskan.

Pertanyaan lainnya, mengapa harus mengambil genre romance? Kau pernah membaca novel yang tidak ada kisah romance-nya? Tidak pernah, bukan? Meski kau membaca cerita tentang perjuangan, komedi, persahabatan, tentu akan ada kisah asmara yang menjadi bumbu penyejuknya.

Dan pertanyaan terakhir yang paling membingungkan buatku adalah: Kak, aku minta diajar menulis. Gimana caranya?

Sesungguhnya, menulis itu tidak perlu diajari. Belajarlah sendiri, sebab menulis tak butuh orang lain untuk mengajarkannya. Sama seperti kau belajar mencintai. Bagaimana cara mencintai? dengan membiarkan hatimu jatuh bebas, tanpa paksaan. Sederhana, bukan?

Menulislah karena kau ingin menulis, bukan karena dipaksa menulis. Dipaksa dalam artian ingin terkenal, ingin punya banyak uang, ingin bukunya best seller, atau ingin punya banyak follower di sosmed. Menulislah untuk dirimu sendiri. Sebab, menulis itu menyenangkan.

*

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

1 Komentar

  1. Beruntung membaca postingan ini. Bukan penulis, tapi sok punya blog. Niat awal ingin belajar sembari menjaga kewarasan pikiran,tapi malas lebih mendominasi ? .
    Terima kasih untuk tulisan inspirasi ini ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *