Uncategorized

Idulfitri, Harapan dan Sejumput Kenangan yang Menyertainya

IMG_3497
Kak Adi, Rihla, Nurfa dan Saya di Dusun Matteko, Desa Erelembang, Kec. Tombolo Pao, Kab. Gowa

MOMENTUM hari Raya Idulfitri kali ini agak sedikit berbeda. Beberapa tahun terakhir ini aku sudah banyak melewati hal-hal baru. Melewati banyak masalah yang barangkali membuatku lebih bijak memandang kehidupan.

Desember tahun lalu, aku lulus sebagai seorang sarjana muda yang punya banyak cita-cita. Misalnya, ingin bekerja di media televisi nasional. Atau lanjut kuliah dengan mengejar beasiswa. Atau bahkan, sejenak berpikir akan menikah. Namun, apa yang kita rencanakan tak selalu sejalan dengan apa yang direncanakan semesta. Semesta selalu punya banyak kejutan. Baik atau tidak menurut kita, tetap harus kita terima.

Nah, untuk momentum lebaran kali ini. Aku tak berharap banyak. Aku tahu diri bahwa selama sebulan berpuasa, tak banyak yang aku lakukan. Ibadah pas-pasan, mengaji belum tamat, sodaqoh seadanya, job ramadan yang tiap tahun kujalani bersama teman-teman seikatan di IPM juga tak kuambil. Sebab, ramadan tahun ini aku lebih fokus pada pekerjaan baruku yang kebanyakan menyita waktu di luar rumah.

Terkadang, aku merindukan suasana-suasana perkaderan di daerah pegunungan. Masih ingat beberapa tahun lalu, kami bertiga (aku, Nurfa dan Rihla) dikirim ke desa paling terpencil dengan sinyal yang timbul tenggelam. Di jamu oleh para penduduk setempat. Mereka kenal dengan Bapak kami. Bercerita bahwa bapak kami juga semasa muda punya perjuangan yang sama. Melewati jalanan terjal berbatu, berkilo-kilo, hingga sampai ke sekolah. Aku rindu mengajari adik-adik desa perihal teknologi yang membodohi manusia. Belajar bersama alam, berdiskusi di kaki bukit atau bersenda gurau di bawah air terjun.

IMG_3805
Belajar bareng di kelas

Kehidupan memang selalu merangkak ke depan. Dan yang tersisa hanyalah kenangan yang selalu datang menyerbu dikala senggang. Terkadang, sebuah keputusan dapat pula mengubah segalanya. Memang benar, setiap pilihan pasti ada resiko yang harus dijalani. Saat ini aku hanya bisa mengenang semuanya dengan harapan semesta dapat memberikan kesempatan yang sama di lain waktu. Aku selalu percaya akan ada hari baik yang akan menggantikan hari-hari yang penuh perjuangan seperti yang kulakukan saat ini.

Lalu apa yang kau lakukan di hari yang penuh kemenangan ini? Apakah kau hanya ikut-ikutan merayakan tanpa ada intropeksi diri? Apakah momentum hari raya ini hanya kau jadikan sebagai momen saling memaafkan? lalu pada hari-hari berikutnya momen itu hilang dan menunggu momen berikutnya untuk meminta maaf lagi. Ataukah sebagai ajang pamer baju lebaran? Ada banyak kemungkinan, dan carilah kemungkinan yang terbaik dari banyaknya kemungkinan terburuk yang ada.

Setiap hari mungkin tidak selalu menjadi hari baik, tapi yakinlah akan selalu ada hal baik yang terjadi di setiap hari kita. Lantas yang menjadi harapanku hanya satu, semoga tahun depan masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali Ramadan dan memperbaiki segalanya. Selamat Hari Raya Idulfitri 1439 H. Mohon maaf apabila selama ini ada kata-kata yang menyakiti perasaan kalian. Aku sayang kalian. Peluk cium dari sini. :*

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *