Uncategorized

Petualangan Ayyas di Moskwa

7861169

Bagi orang-orang yang beriman, dimana pun ia bisa rukuk dan sujud kepada Allah, maka ia menemukan bumi cinta. Dan sesungguhnya dunia ini adalah bumi cinta bagi para pecinta Allah Ta’alla. Bumi cinta yang akan mengantarkan kepada bumi cinta yang lebih abadi dan lebih mulia yaitu surganya Allah.

~Habiburrahman El Shirazy, Bumi Cinta

 

Bumi Cinta adalah novel kedua di tahun 2018. Pun kali kedua saya membaca novelnya Kang Abik setelah lima atau enam tahun silam usai membaca Ketika Cinta Bertasbih. Tentu saya sudah lupa jalan ceitanya. Makanya, untuk tidak melupakan apa yang pernah saya baca, menghadirkan review setelah membaca sangat penting sekali. Asal jangan me-review kenangan masa lalu ya…

Setelah saya jadikan instastory di Instagram, ada yang memberikan balasan perihal novel ini. Mereka bilang, Bumi Cinta sangat bagus dan recomended sekali untuk dijadikan teman belajar. Sebuah novel pembangunan jiwa, refleksi diri, serta menambah kedekatan kita terhadap Sang Pencipta.

Adapula yang bilang, kalau novel ini sudah basi dan saya baru mau membacanya. Bahkan versi e-booknya sudah bisa di download. Tapi, kusampaikan kepada kalian, dalam dunia perbukuan, tidak ada yang namanya buku lama, kadaluarsa apalagi buku basi. Semua akan menjadi baru meski sudah lama terbit, apabila si pembaca baru mulai membacanya.

Penulisnya tak lain ialah Habiburrahman El Shirazy, kerap disapa Kang Abik. Siapa yang tak mengenal penulis fenomenal yang karangannya selalu menjadi megabestseller ini? Ayat-Ayat Cinta misalnya. Film yang meraup sukses besar di mana-mana, mengalahkan film-film Hollywood yang tayang di Indonesia.

Sama seperti novel-novel sebelumnya, Bumi Cinta adalah hasil dari upaya mentadabburi ayat-ayat suci Al-Qur’an. Q.S. Al Anfal ayat 45-47, merupakan inti dari keseluruhan cerita dalam novel ini. Firman Allah ini merupakan kunci kemenangan orang-orang yang beriman, manakala menghadapi musuh yang berat.

Ayyas–pemuda muslim asal Indonesia mengajak saya keliling kota Moskwa, Rusia. Membaca novel ini, saya melihat kota Moskwa dengan berbagai macam bangunan-bangunan indah tersusun rapi, interior bangunan mewah, jalanan kota yang licin diselimuti salju bak kapas nan putih di musim dingin.

Rusia adalah negeri yang paling bebas sedunia. Negara yang sebagian besar penduduknya menganut paham free sex radikal. Sementara tokoh Ayyas kemudian dihadirkan oleh Kang Abik untuk berperang melawan musuh-musuh berupa hawa nafsu yang terus datang menyerangnya selama ia tinggal di sana.

Ceritanya berawal dari kunjungan Ayyas ke Rusia dalam rangka melakukan penelitian. Di negara asing itu, ia didera persoalan yang bertubi-tubi.
Ujian pertama dihadapinya adalah saat Ayyas tinggal di apartemen yang dihuni dua wanita cantik Rusia, namanya Yelena dan Linor. Bagi laki-laki hidung belang, kehadiran dua wanita cantik itu tentu anugerah. Tapi bagi Ayyas, keduanya adalah bencana bagi keimanannya.

Yelena dan Linor seringkali berpakaian kurang sopan ketika berada di apartemen, dan hal itu mengundang syahwat lelaki manapun yang melihatnya. Apalagi saat Linor sedang bercinta dengan Sergei di ruang tamu Apartemen yang terbuka. Hal itu membuat Ayyas naik pitam dan mulutnya tak berhenti mengucap istigfar. Belakangan, Ayyas baru mengetahui bahwa profesi Yelena sebenarnya adalah seorang pelacur.

Ujian kedua adalah saat Ayyas melakukan penelitian di Universitas Negeri Moskwa (MGU). Lagi-lagi persoalan perempuan. Professor Abramov Tomskii yang seharusnya menjadi pembimbing penelitiannya, punya urusan di luar negeri hingga dengan terpaksa Professor menugaskan Dr. Anastasia, asistennya untuk menggantikan dirinya.

Anastasia adalah perempuan cerdas, cantik dan berwibawa. Banyak pria yang menaruh hati padanya, namun tak seorang pun lelaki yang cocok di hatinya. Seorang pakar sejarah yang jelita ini malah diam-diam menyukai Ayyas yang lugu tapi cerdas. Tak jarang, Anastasia salah tingkah dibuatnya.

Lalu, konflik berikutnya membawa Ayyas pada situasi di mana Linor menjebaknya sebagai seorang teroris. Linor yang beragama Yahudi, selain berprofesi sebagai jurnalis di surat kabar, ia juga adalah seorang agen zionis Israel. Ia membantu berbagai macam operasi yang ditugaskan kepadanya dengan alasan untuk melindungi bangsa Yahudi. Karena Ayyas adalah seorang muslim, ia dijadikan mangsa empuk untuk dijebak dalam aksi pemboman di Metropole Hotel. Pemboman dirancang sedemikian detil oleh Ben Solomon beserta anak buahnya. Dalam aksi pemboman itu, tampak wajah yang menyerupai Ayyas sehingga ia dituduh sebagai dalang dari pemboman itu.

Singkatnya, Yelena yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan, melalui Ayyas terketuklah hatinya. Linor yang awalnya membenci Ayyas, malah ingin menikah dengan Ayyas.

Kang Abik meramu cerita dengan sangat apik. Selain konflik yang memberikan banyak hikmah, pelajaran-pelajaran sejarah peradaban Islam banyak sekali dipaparkan melalui diskusi Ayyas dengan Anastasia. Bahkan banyak menyinggung tentang keberadaan Tuhan. Seorang nonmuslim yang secara kritis menanyakan perihal Islam, dijawab secara cerdas oleh Kang Abik melalui dialog Ayyas.

Seperti saat Anastasia menganggap cara beribadah orang Islam yang sangat primitif. Ayyas menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dipahaminya mengenai Islam, arah kiblat, tata cara shalat hingga manfaatnya bagi kesehatan. Dialog-dialog panjang semacam ini memberikan pengetahuan baru kepada pembaca.

Setelah membaca novel ini, saya lantas berpikir. Masih adakah sosok Ayyas di dunia nyata ini? Apakah novel ini terlalu sempurna menciptakan tokoh Ayyas yang kepribadiannya serupa seorang nabi. Ketika secara nyata seorang perempuan cantik datang masuk kamarnya, dengan pakaian minim lantas menggoda Ayyas, namun tak sedetik pun keimanannya goyah. Kang Abik justru terlalu berlebihan menciptakan tokoh Ayyas.

Setidaknya, Ayyas adalah pemuda yang sangat perlu dicontoh akhlaknya, imannya, tutur katanya serta kecerdasannya. Meski Ayyas hanyalah tokoh fiktif yang ada dalam Bumi Cinta.(*)

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *