Uncategorized

Anyelir dan Arvella

download (1)
2.bp.blogspot.com

Langit mendung. Sebentar lagi hujan akan turun. Tapi bocah-bocah itu belum datang membawa sebuket bunga anyelir untukku—bunga yang tiga tahun terakhir ini menjadi bunga kesukaanku. Betapa tidak, di sekitar tempat tinggalku bunga-bunga macam itu tumbuh subur. Awalnya aku tak menyukai baunya, tapi lama kelamaan aku sudah terbiasa dan malah jatuh cinta.

Dan bocah-bocah itu mengirimkanku bunga anyelir setiap kali datang, bukan bunga jenis lain. Aku mendengar Ibunya—yang juga istriku–mengatakan kalau bunga anyelir melambangkan cinta dan kasih sayang. Aku sangat senang mendengarnya. Tapi sudahlah, aku tidak mau membahas tentang bunga. Aku akan terus menunggu dua bocahku itu dengan tenang.

Hari ini adalah hari kematianku yang ketiga. Aku seorang Ayah bagi dua anak laki-lakiku. Wildan dan Weldy, bocah kembar yang sekarang umurnya sudah 16 tahun. Dan istriku, tentu saja adalah Ibunya—perempuan perkasa yang sampai saat ini masih sangat aku cintai.

***

Malam itu hujan cukup deras disertai angin kencang. Arvella—begitu aku memanggil istriku—berlari kecil menuju rumah dengan payung terbuka di atas kepalanya. Payung yang sudah rusak, besi-besinya patah di tiga bagian hingga kainnya melorot. Sudah tidak layak lagi dipakai. Tapi, apa boleh buat, hanya itu yang ada.

“Kau dari mana?” tanyaku sembari menyulut rokok di atas bangku kecil dari kayu.

“Kenapa kau di luar, cuaca sangat dingin. Masuklah, akan kubuatkan kopi panas untukmu.”

“Jangan pedulikan aku. Pedulikan saja dirimu yang semakin hari semakin tua karena kerja terus. Kau tak tampak cantik lagi seperti dulu.” Dia menghentikan langkah. Lalu, meletakkan payung yang melambai-lambai dan menggosok-gosokkan kakinya pada lap di depan pintu. Kukira ia akan menimpali, tapi seolah tak memedulikan ia masuk begitu saja. Aku tahu, aku suami yang buruk.

Arvella tipe wanita yang tak banyak bicara. Dia cantik, pendiam dan penurut. Tak ada perempuan yang sesabar dia, meski memiliki lelaki seperti diriku. Perkawinan kita dulu hanya sebatas perjodohan orang tua. Mungkin dia tak mau menikah denganku, tapi kau tahu kan sifat Arvella, penurut. Lagi pula, dulu orang tuanya bergantung pada orang tuaku.

Hari ini, Wildan dan Weldy mogok sekolah lagi. Ia sengaja mewarnai tanggal dengan tinta merah untuk mengatakan kalau hari ini sedang libur. Meski awalnya aku percaya—aku memang gampang dibodohi karena tak pernah sekolah—tapi ketika di luar sana aku melihat anak-anak berseragam SMP, aku bergegas membangunkan mereka dari pengkuran tidurnya.

“Bahan tugas sekolah harganya mahal, dan Ayah pasti tidak akan sanggup membelinya,” ucap Wildan dengan mata setengah tertutup. Jadi, kubiarkan saja mereka menikmati liburnya kali ini. Apa boleh buat.

Melihat kondisi keluargaku yang semakin memburuk, aku segera menemui Bang Jermet—orang ketiga terkaya di kompleks kami. Kali ini, aku tidak lagi datang untuk berutang, tapi punya maksud lain.

“Jadi kau sudah punya uang?” tanya Bang Jermet sebelum pantatnya menyentuh sofa empuk.

“Maksud kedatangan saya kemari, bukan mau bayar utang Bang…”

“Jadi kau pengen ngutang lagi?”

“Bukan, Bang. Bukan. Tapi, saya mau ambil tawaran Bang Jermet tempo hari.”

Bang Jermet tertawa terbahak-bahak. “Dasar pemalas kau! Seharusnya kau langsung menerima tawaranku hari itu juga.” Si tua bangka itu terus saja mengejekku, merendahkanku dan selalu menyinggung soal istriku. Jika bukan karena uangnya, sudah kuhabisi mulutnya.

 “Baiklah,” katanya. Lalu ia menatapku sinis. “Tapi, ingat. Utangmu harus segera kau bayar!”

“Jangan kuatir, Bang. Pasti beres tepat waktu.”

Aku tahu tidak ada yang bahagia mendengar perihal pekerjaanku. Karena sesungguhnya, aku pun tidak pernah tertarik dengan pekerjaan mengangkat batu.

***

“Tak apalah! Yang penting Ayah kerja,” respon anak-anak.

Sementara Arvella tidak mengatakan apa-apa. Tapi aku tahu, dalam hatinya ia turut senang karena aku akhirnya menerima tawaran Bang Jermet.

Keesokan paginya, saat cahaya pertama muncul di langit, aku bangun diiringi suara kicauan burung dari luar jendela tanpa kaca dan hanya ditutupi tirai. Untuk pertama kalinya aku terbangun sepagi ini tanpa Arvella ataupun bocah-bocah yang membangunkanku. Kulihat, tempat tidur istriku sudah kosong. Dia memang selalu bangun jam 3 dini hari membuat kue-kue untuk dijajakan pagi-pagi sekali. Dan siang harinya ia berangkat dari rumah ke rumah menawarkan jasa cuci baju.

Baju yang akan kukenakan telah tersedia di lemari. Istriku selalu memberi kejutan sederhana. Dari sikapnya itu aku mulai belajar, bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai.

Di siang hari yang terik, aku istirahat di bawah pohon bersama pekerja-pekerja lain. Menyulut rokok pemberian salah seorang di antara mereka. Dari dalam bangunan, aku melihat ada yang memanggil-manggil, sementara yang lain sedang istirahat.

“Ada yang bisa saya bantu, Bang?” teriakku pada pekerja itu.

“Tolong kau ambilkan bambu panjang itu. Kita kekurangan balok.” Aku segera mengambil bambu panjang yang dimaksud dan membawanya.

“Hei! Kau mau mati ya? Pakai helm pelindung! Di sini bahaya.” Teriak salah seorang dari atas.

“Saya tidak punya, Bang. Saya baru di sini.”

“Baiklah. Masuk dari sana!”

Ia menunjuk sebuah celah yang hanya bisa dimuat satu orang saja. Dengan hati-hati, aku mengangkat balok panjang itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi sampai pekerja itu meraihnya.

Tiba-tiba, terdengar balok-balok berdecit seperti mau patah, tapi aku tidak menghiraukannya. Saat aku melangkahkan kaki, ‘bukk!’ tiga buah balok patah tepat mengenai kepalaku. Beberapa menit kemudian, jiwaku melayang.

***

Hei, bocah-bocahku telah datang.  Wildan meletakkan buket bunga itu di atas gundukan makam tepat di depan nisanku.

“Yah, Ibu sangat menderita akhir-akhir ini. Pekerjaannya cukup berat. Belum lagi, dia sedang sakit parah tapi tetap saja bekerja,” kata Weldy. Raut wajahnya begitu sedih.

Wildan melanjutkan, “Bang Jermet datang lagi ke rumah kita. Dia mengancam akan mengawini Ibu jika tidak mampu membayar utang-utang Ayah.”

Dasar bajingan tua itu!(*)

 

 

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *