Uncategorized

Gegara Jaket dan Lelaki Bugis

Sekitar pukul 22.00 WITA, Ruang Tulis ditutup dengan pemberian tugas oleh Mansyur Rahim –kerap disapa Om Lebug (Lelaki Bugis) yang menjadi pemateri Setelah menjelaskan perihal menemukan ide dalam menulis, beliau memberikan tema tentang pakaian yang kami kenakan malam jum’at itu.

Om Lebug memberikan keleluasaan memikirkan sudut pandang yang akan dituangkan ke dalam tulisan. Seperti kopi, terserah mau menuangkan menu apa yang mencampurinya, asal bukan sianida yang mematikan. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih jaket yang saya kenakan sebagai menu tulisan.

*

Itu jaket kesayangan saya. Bukan pemberian siapa-siapa. Hanya saja saya nyaman memakainya. Senyaman dulu sama mantan. Sayangnya,  saat hendak pulang sore itu, saya kehilangan penarik ritsletingnya.

Jaket itu timbal balik. Kau bisa pakai dengan warna hitam atau di bagian warna merahnya. Hari ini pakai jaket hitam, besok pakai yang merah, biar dikira sering gonta-ganti jaket padahal hanya warnanya saja yang berubah. Jaketnya tetap itu.

Harganya tidak mahal, keluaran terbaru. Model jaket ini bertebaran di beberapa tempat penjualan online shop di Instagram. Tentu saya memilih yang murah dari yang paling murah. Online shop kadang menawarkan harga murah biar pembeli tertarik dan mau membeli, padahal saat itu mungkin lagi diskon besar-besaran atau jualannya tidak laku atau mungkin saja pemiliknya punya banyak uang lalu menjual barangnya dengan harga murah. Entah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Online shop, harga boleh murah tapi ongkos kirim (ongkir)-nya, kadang hampir menyamai harganya. Untung saat itu saya sedang di Jakarta saat membeli jaket ini. Sehingga saya yang berada di Jabodetabek tidak perlu khawatir lagi perihal beban ongkir yang nominalnya bisa sampai puluhan ribu. Ongkirnya Rp. 10.000, kalau dikirim ke Makassar sekira Rp.48.000 padahal harga jaketnya hanya Rp.100.000. Itu seperti beli jaket bisa dapat satu baju kaos.

Bukan hanya soal harga, tapi jaket model parkah memang saat itu menjadi produk unggulan dan banyak diminati, karena desain dan motifnya yang simpel. Satu sisinya berbahan parasut taslan dan di sisi lainnya berbahan cotton sehingga terasa ringan dan nyaman saat saya kenakan.

Jaket itu sudah melewati banyak perjalanan. Mulai dari keluar masuk toilet, hingga dibawa keliling Jakarta, Bandung hingga Makassar. Jadi ceritanya begini. Hari itu saya memang aneh. Waktu jaket itu tiba di kantor tempat saya magang, saya lalu membuka bungkusnya di toilet dan mecobanya berkali-kali di sana. Mengapa di toilet? Pertama, karena di kantor lagi banyak orang. Saya malu buka bungkusan di tengah keramaian. Kedua, karena toilet kantor lebih bersih daripada kamar tidur saya.

Lalu, saya langsung memakainya karena ruang kantor yang full AC dan mengharuskan pegawainya memakai jaket. Tiba-tiba teman saya—sebut saja namanya Bunga—bertanya, “Eh, kok kamu tiba-tiba make jaket, sih? Baru, ya?”

“Nggak kok. Udah lama.” Saya lalu duduk tenang di kursi. Satu kebohongan telah kubuat. Saya tak suka ditanya-tanya tentang pakaian yang kukenakan kepada Bunga. Sebab dia adalah jurnalis terkepo sejagad maya. Pasti dia bakal tanya soal aku beli di mana, harganya berapa,  apalagi ketika saya akhirnya akan mengaku membukanya di dalam toilet. Dan saya malas menjelaskan itu semua karena menurutku itu tidak penting. Jaketku tidak lebih penting dikepoi daripada jaket milik Jokowi yang sedang viral waktu itu.

“Perasaan tadi ke kantor nggak bawa jaket deh,” pikir Bunga.

“Bawa kok. Tapi di dalam tas.” Dia lalu bilang ‘oh’ sembari mengangguk. Saya tidak yakin dia langsung percaya apa yang saya katakan. Semoga saja dia tidak curiga dengan baunya yang masih baru. Dua kebohongan baru saja kubuat.

Tak lama berselang, suara telepon berdering. Bunga mengangkat telepon.

“Iya… Kenapa, mas?… Oh… Ada mas. Tunggu sebentar, ya.” Bunga menyerahkan telepon itu ke saya. Lalu berkata, “Eh ada yang nyari kamu nih, katanya petugas pengiriman barang.”

Saya melihat wajah Bunga yang semakin curiga dengan identitas jaket itu. Tapi siapa yang peduli dan kenapa juga petugas pengiriman barang itu meneleponku di telepon kantor.

“Iya, kenapa Mas?”

“Maaf, Mbak. Tadi saya lupa minta tanda terima. Boleh turun sebentar, Mbak. Saya masih ada di bawah kok,” sahut suara di seberang telepon.

Alamak! Hanya meminta tanda terima saja harus menelepon ke kantor. Saya pun segera turun ke lantai bawah dan kembali sekitar lima menit kemudian.

Bunga kembali bertanya, “Habis mesan apa, Dil?”

“Dari Go-Jek. Abis pesan makanan.” Saya bohong lagi.

“Kok telepon kantor?”

Jleb! Saya mulai berdalih kembali.

“Nggak tahu, tuh. Mungkin driver-nya stress.” Kujawab sekenanya.

“Hahaha… aneh!” jawab Bunga. Yah, saya memang aneh dan jengkel sama kamu. Entah berapa kebohongan yang sudah kubuat hanya karena tak mau seseorang menginterogasi barang-barang yang kupunya.

Beberapa hari kemudian, kulihat Bunga juga memakai jaket yang sama denganku, hanya saja warnanya yang berbeda yaitu hitam dan pink. Awalnya saya tidak peduli, tapi karena penasaran dengan jaketnya, saya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

Lalu Bunga mengatakan kalau jaket itu diperoleh gratis dari online shop milik kakaknya. Ia pun akhirnya membuka instagram dan memperlihatkan akun online shop yang dimaksud. Betapa jantung saya seperti hendak copot, sebab akun online shop kakaknya adalah tempat di mana saya membeli jaket itu.

Seketika itu, saya permisi ke toilet untuk menenangkan diri.

*

Hari Kamis, sekitar pukul 19.30 WITA saya tiba di ruang tulis, tentu mengenakan jaket itu untuk berperang melawan angin malam yang menusuk hingga ke tulang, apalagi saat itu saya sedang mengendarai motor dengan kondisi suara yang sudah parau.

Akibat jaket itu, saya menyadari dua hal. Pertama, bahwa satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan lain di belakangnya, yah, termasuk cerita tentang jaket ini.

Gegara disuruh Om Lebug menulis tentang pakaian yang dikenakan, saya terpaksa harus membuat cerita fiksi tentang jaket itu. Tapi faktanya, jaket itu memang kehilangan penarik ritsletingnya saat hendak pulang dari Warkop pada pertemuan perdana ruang tulis beberapa hari yang lalu. Suer! Saya tidak bohong.

Kedua, setelah melakukan satu kebohongan, meyakinkan orang lain percaya setelahnya adalah hal yang paling sulit. Lalu, apa kau percaya padaku sekarang?

Gowa|23/09/2017|20:20 WITA

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *