Article

#5 Muara Angke, Pekerjaan dan Tanggungjawab

ckck
Saat proses reporting. Btw, saya kekurangan gambar karena hapeku hilang saat mau pulang ke Makassar. Mohon maklumi gambarnya ya. 😀

Ini adalah postingan terakhir untuk episode Rindu Jakarta. Ada tiga alasan kenapa saya menuliskan pengalamanku di episode terakhir ini saat ikut liputan pertama kali di Jakarta. Pertama, karena saya memperoleh banyak pelajaran yang berharga. Kedua, sebagai bentuk rasa terima kasihku kepada Mas Ival (Production Assitant Program Selamat Pagi Trans 7) yang telah memberikan saya kesempatan untuk belajar di lapangan bersama reporter. Dan ketiga, tentu karena saya rindu.

Dua minggu sebelum kepulanganku ke kota Makassar, Mas Ival ternyata mengetahui maksud hatiku. Selama dua bulan, kami hanya terus berada di kantor untuk mengerjakan hal-hal yang menoton setiap hari. Dan saya mengerti betul bagaimana rasa bosan itu melanda para pegawai yang kerjanya hanya di depan komputer. Sangat membosankan.

Itulah mengapa Mas Ival menyarankan saya untuk ikut turun ke lapangan dan menambah pengalaman.

“Kamu udah pernah ikut liputan sama reporternya Selamat Pagi nggak, Dil?” tanya Mas Ival di suatu pagi saat selesai on air di studio.

“Belum, Kak. Waktu itu yang ikut cuma Zella,” kataku. Zella memang pernah ikut bersama Mas Oki yang kebetulan waktu itu hanya liputan di daerah sekitaran Jakarta. Biasanya, reporter selamat pagi liputan di luar daerah dan anak magang tentu tidak bisa ikut.

“Oh, gini aja. Kalau kamu mau, aku bakalan minta ke reporter redaksi sore biar nanti kamu bisa ikut liputan bareng mereka. Kamu mau nggak?”

“Mau, kak!” seruku. Saya bersemangat sekali waktu itu. Ini adalah kesempatan terbaik untuk saya belajar bagaimana aktivitas para reporter televisi di lapangan.

*

Mas Ival memberiku kontak Whatsapp salah satu camera person (campers) Trans 7, saya lupa namanya siapa. Pokoknya dia perempuan. Saya pun berkomunikasi dengannya dan disuruh datang ke kantor jam 7 pagi. Setelah sampai di kantor, karena dia juga sedang membawa anak magang untuk ikut liputan, maka dia menyarankan agar saya ikut dengan mas Giftson saja. Kenal Mas Giftson? Kalau kenal, berarti kamu penonton setia Trans 7.

Mas Giftson sudah ada di tempat. Yang ditunggu adalah campers-nya Mas Giftson. Sejam lebih kami menunggu, akhirnya kami berangkat dari carpool dengan menggunakan mobil Trans 7.

Tujuan utama kami adalah liputan banjir di Muara Angke, Jakarta Utara. Tapi sebelum ke sana, kami singgah dulu di Balai Kota Pemprov DKI Jakarta untuk wawancara. Suasana liputan terasa sekali karena banyak reporter yang hadir waktu itu.

Mas Campers –sebut saja namanya begitu—terlihat sibuk memasang kamera. Selain tripot yang dibawa kemana-mana, seluruh peralatan kamera ada dalam satu tas besar. Dan itu semua harus dijaga dengan baik selama liputan. Kalau ada yang rusak atau hilang, maka campers yang bertanggung jawab untuk menggantinya.

Mas Campers berbadan gemuk, orangnya supel dan asik di ajak ngobrol. Saya lupa namanya, padahal kami banyak ngobrol saat perjalanan menuju liputan. Katanya, dia pernah ke makassar. Tepatnya di Toraja. Mantan pacarnya orang Makassar. Tapi itu nggak penting, hehe.

Kami juga sempat singgah di toko membeli makanan ringan untuk keperluan kalau lagi kelaparan di perjalanan. Setelah itu kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Muara Angke.

*

2fb0c2d5-cebf-4c55-bdf7-b2ca3a918bd1_169
Sumber: detik.com

Muara angke adalah pelabuhan kapal ikan atau nelayan di Jakarta. Lokasinya berada di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara yang berdekatan dengan Muara Karang. Muara Angke persis dengan Pelabuhan Paotere di Makassar. Ketika memasuki daerah ini, bau amis ikan segar sungguh menyengat menusuk hidung. Memasuki kawasan ini, kita akan disuguhi pemandangan para nelayan yang berlalu lalang membawa hasil tangkapan ikannya yang besar.

Waktu itu 11 Januari 2017. Banjir rob yang melanda Muara Angke sebulan belakangan menjadi persoalan yang cukup meresahkan masyarakat nelayan di sana. Hal ini dikarenakan ada tanggul yang jebol.

Sesampai di sana, kami pun menuju lokasi yang rawan banjir. Yaitu di jalan menuju pelabuhan pariwisata Muara Angke. Banjirnya lumayan tinggi. Sampai selutut. Menurut informasi, air akan meninggi jika laut sedang pasang. Sementara di malam hari ketika air laut surut maka banjir di daerah itu pun akan surut.

Banyak warga yang merasa kesusahan untuk menyebrang, terutama para nelayan yang membawa gerobak berisi ikan hasil tangkapannya. Dengan susah payah mereka melawan arus banjir untuk bisa sampai ke daratan. Untung saja ada angkutan umum yang bernama odong-odong. Anak-anak menggunakan odong-odong ke sekolah agar bisa menyeberang melewati banjir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Odong-odong

Mas Campers dan Mas Giftson segera menanggalkan sepatunya. Sebelum melakukan liputan, mereka meninjau lokasi dengan turun ke daerah banjir serta mencari data-data lapangan untuk dilaporkan. Mereka juga ikut naik odong-odong dan berbaur dengan masyarakat agar informasi yang diperoleh lebih akurat.

Sebenarnya saya juga pengen ikutan, tetapi tidak memungkinkan bagi saya karena kondisi yang cukup merepotkan. Oleh karenanya, saya hanya mengamati dari jauh dan mengamankan barang bawaan, seperti peralatan kamera dan lain-lain.

Sempat pula ngobrol dengan beberapa warga di sana. Mereka terlihat antusias saat ada stasiun televisi yang datang meliput. Bahkan seseorang berbadan tambun sesekali datang untuk menginformasikan tempat-tempat rawan banjir. Ia ingin sekali daerahnya dijamah oleh media. Namun, kami hanya merespon seadanya karena waktu yang tidak memungkinkan kami untuk meninjau tempat secara langsung.

Setelah kembali dari peninjauan lapangan, Mas Giftson sibuk berlatih menghafalkan laporan sebelum melakukan reportase. Sementara Mas Campers seperti biasa berjalan ke beberapa tempat untuk mengambil angel yang pas. Setelah semuanya siap, reportase pun dijalankan dengan jarak antara reporter dan kamera terpaut beberapa meter. Sayang, saya tidak bisa memperhatikan secara detail proses reporting itu karena mereka melakukannya dengan turun ke daerah banjir.

Setelah semuanya selesai, kami pun akhirnya pulang dan kembali ke kantor. Waktu telah menunjukkan pukul setengah tiga, sementara materi atau gambar harus diserahkan ke editor pukul tiga sore. Karena tidak memungkinkan sampai di kantor sebelum pukul tiga, maka satu-satunya cara adalah dengan menelepon seseorang yang dekat dengan lokasi tempat kami berada dan segera mengirimnya ke redaksi. Ah, lega rasanya ketika semuanya selesai dengan tepat waktu.

Di perjalanan pulang, selain mendengar celotehan Mas Campers dan suka duka driver tentang pengalamannya menjadi sopir Trans 7, saya memikirkan banyak hal. Saya berada di sini, bersama dengan orang yang baru ku kenal tidak lain hanyalah untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Buat apa saya bersusah-susah datang ke kantor pagi-pagi, menunggu, dan turun ke tempat bau dan banjir jika bukan karena motivasi untuk terus belajar.

Pertanyaan yang sama kepada mereka, buat apa mereka bersusah payah mengejar berita jika bukan karena pekerjaan? Sebagian orang merasa bahwa pekerjaan adalah tuntutan. Tidak banyak pula orang yang menyadari bahwa apapun pekerjaan yang kita geluti adalah pemberian Tuhan yang wajib disyukuri.

Menjadi reporter televisi adalah pekerjaan yang mulia. Butuh kerja keras, wawasan yang luas, serta kepiawaian dalam berbicara agar bisa tetap eksis dalam pekerjaan ini. Dulu, saya ingin sekali menjadi reporter televisi. Namun saya merasa tidak perlu. Profesi bukan sekadar impian melainkan tanggung jawab. Orang boleh mengejar profesi apapun yang menjanjikan, tapi jangan lupa ada tanggung jawab yang menyertainya di belakang.

Kau boleh jadi presiden, tetapi mampukah kau mempertanggungjawabkan nasib rakyat yang terlantarkan di akhirat kelak? Kau boleh jadi pejabat, tapi apa yang kau katakan di hadapan Tuhan saat ditanya kemana saja kau salurkan uang-uang rakyat? Kau boleh jadi dokter, tapi apa kau sanggup mempertanggungjawabkan nyawa orang saat kau tidak sengaja melakukan malpraktik atau kau salah mendiagnosa penyakit. Maka lakukan yang terbaik untuk profesi-profesi yang akan atau sedang kita geluti. Karena di setiap waktu Tuhan selalu memperhatikan gerak gerik langkah kita.

Sebelum kami benar tiba di kantor, kami singgah di warung makan. Mengobrol banyak hal tentang liputan dan lainnya. Ah, lega rasanya. Sesampai di kantor saya langsung pulang. Lelah. Sementara bau amis masih melekat di bajuku.

Gowa|04/09/2017|06:45 WITA

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *