Article Personal Story

Perihal Dilan dan Milea

7-alasan-kenapa-dilan-bukan-cowok-sempurna-yang-perlu-diidolakan-1476350903

 “Dilan ada di sekitarmu, seandainya kamu bisa bersikap seperti Milea.” ~Pidi Baiq~

Aku telah belajar banyak hal dari tiga buah bacaan ringan karya seorang maestro. Tentu tidak asing lagi bagi kamu mengenai nama Pidi Baiq. Jika kamu berjalan-jalan di sekitar alun-alun kota Bandung, cobalah berfoto di bawah kalimat “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi,” niscaya Pidi Baiq akan membawamu jalan-jalan gratis keliling Bandung. Kalau kamu mau percaya.

Pidi Baiq—yang kerap dipanggil Ayah bagi para penggemar setianya—telah membuat kehebohan dengan menerbitkan novel Dilan dan Milea. Kedua insan ini akhirnya mendapat tempat dihati pembaca menggantikan posisi penulisnya, walau hanya sebatas tokoh dalam novel yang konon adalah kisah nyata.

Di dunia ini ada beribu kisah cinta yang Tuhan skenariokan untuk manusia. Persis seperti bermain film, Tuhan adalah penulis naskah sekaligus sutradara. Sementara kita hanyalah aktor atau pemain. Bedanya, kita tidak pernah tahu akhir cerita dari peran yang kita mainkan sendiri.

Awalnya aku berpikir bahwa buku ini hanya novel teenlit picisan yang sering aku baca saat SMP dulu. Aku selalu bilang, aku sudah mahasiswa, novel remaja itu bukan bacaanku lagi. Makanya, aku tidak tertarik membaca novel Dilan saat itu.

Itu awalnya. Tapi, nyatanya berbeda. Novel Dilan bukan sekadar teenlit biasa dengan cerita yang sudah bisa diprediksi ending-nya, tapi pada setiap bagian yang diceritakan dalam novel itu memberikan kejutan-kejutan. Semoga Dilan dan Milea mendapat pahala karena kisahnya telah menginsprasi banyak orang.

Aku melihat bagaimana kehebohan orang-orang membicarakan soal novel Dilan dan filmnya yang sedang digarap. Mereka membahas keromantisan yang Dilan punya melalui kata-kata dalam novel itu. Bahkan yang tidak suka membaca pun sampai rela membeli tiga novel Dilan yang tidak pernah alpa di rak toko buku.

Dengan segala rasa yang kupendam, akhirnya aku mengungkapkan kalau Dilan juga harus jadi milikku. Aku membaca bagian pertama (Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990), di mana Milea sebagai sudut pandang orang pertama dalam cerita ini. Jika kau sudah membaca bagian ini, kau pasti terpukau dengan hal-hal sederhana yang Dilan lakukan untuk menggaet hati Milea. Karena aku juga merasa begitu.

Bagian kedua (Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991), Milea bercerita saat mulai berpacaran dengan Dilan hingga memutuskan untuk berpisah. Karakter Dilan cukup kuat. Milea menggambarkannya dengan sangat baik dan runtut. Jika tidak, mana mungkin Dilan jadi rebutan gadis-gadis zaman sekarang. Milea dapat merekam semua kejadian itu secara rinci. Kok bisa ya ingatannya sangat kuat padahal kejadiannya sudah lama sekali? Bahkan di novel bagian ketiga, Dilan juga tidak percaya Milea dapat menuliskannya tanpa melewatkan peristiwa itu sedikit pun. Dilan beruntung!

Yah, laki-laki tidak akan pernah mengerti bagaimana perempuan mengikat masa lalunya. Apalagi dengan orang yang benar-benar dia sayangi. Masa lalu itu akan tetap membekas meski kita berusaha melupakannya atau pura-pura melupakannya. Aku mengatakan ini bukan tanpa dasar. Karena aku juga perempuan yang tidak pernah lepas dari ingatan masa lalu.

Novel di bagian ketiga (Milea, Suara dari Dilan), sangat bijak Ayah Pidi (aku panggil ‘Ayah’ saja biar lebih sopan) dalam menerbitkan novel Milea dengan turut menghadirkan sudut pandang dari Dilan. Yang ditunggu-tunggu sebenarnya adalah bagaimana perasaan Dilan di waktu itu yang tentu Milea tidak akan bisa menceritakannya.

Menurutku, dalam novel ‘Suara dari Dilan’ ini—entah Dilan atau Ayah Pidi yang menulisnya–kurang  menceritakan secara runtut gambaran peristiwa. Dia menuliskan bagian-bagian yang tiba-tiba teringat atau terlintas dipikirannya dan mengacu pada novel Milea sebelumnya. Seperti yang ia katakan, menuliskan novel itu seperti menemukan memori yang hilang. Artinya, Dilan sudah melupakan masa lalu itu, dan pada akhirnya diungkit kembali oleh Milea. Kepingan-kepingan kenangan bersama Milea satu per satu hadir dan menyatu sehingga tulisan Dilan mengalir dengan sendirinya. Itu menurut analisisku. Jika salah, kuharap Dilan datang padaku membenarkannya.

Hal-hal sederhana yang Dilan lakukan ke Milea membuat kita cukup paham bagaimana cara memperlakukan wanita. Untuk membuat hati Milea senang, bukan hanya sekadar memberikan cokelat, tetapi seberapa besar usaha yang dilakukan agar cokelat itu sampai ke tangannya. Bukan sekadar mengucapkan selamat malam atau selamat tidur, tetapi memikirkan bagaimana perasaan dia setelah kalimat itu sampai padanya. Ah, aku tidak tahu banyak soal perasaan. Biar Ayah Pidi saja yang memberi tahumu. Dia cukup terlatih sedangkan aku masih amatir.

Kuharap para lelaki yang sudah membaca novel ini tidak terlalu norak dengan meniru gaya Dilan. Ciptakan gayamu sendiri. Kamu pasti bisa!

Aku juga menyukai prinsip Dilan, yaitu, kita mesti dapat menjalani hidup dengan mengacu kepada pikiran kita sendiri tanpa memaksa orang lain untuk berpikir sama dengan kita. Itulah kalimat kunci yang sebenarnya ingin Dilan katakan ke Milea. Dilan mengerti, Milea yang selalu melarangnya untuk melakukan hal yang bertentangan dengannya adalah suatu bentuk kasih sayang. Tapi Milea tidak pernah menyadari kalau hidup Dilan tak bisa dikendalikan kecuali oleh dirinya sendiri. Sampai di sini kau akan mengerti perbedaan paling mendasar antara laki-laki dan perempuan.

Mantan vokalis band ‘The Panas Dalam’ ini—yang suaranya bikin panas dalam beneran—telah menelurkan banyak inspirasi ke dalam tulisan-tulisannya. Salah satunya lewat novel Dilan dan Milea. Ayah Pidi menampilkan sisi lain dari anak geng motor yang selalu distereotipkan negatif oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Dan menurutku itu keren.

Kehadiran novel ini menyuntikkan semangat generasi milenial untuk rajin membaca. Belajar untuk rajin membaca tidak mesti dimulai dengan bacaan berat seperti buku-buku pemikiran Karl Marx, Engels, Frankfrut atau semacamnya, tetapi mulailah dengan hal sederhana. Seperti yang dilakukan Dilan ke Milea.

Lalu muncullah pertanyaan yang jawabannya masih menjadi misteri hingga saat ini. Ialah siapakah sosok Dilan sebenarnya? Ayah Pidi yang diduga sebagai Dilan tidak mau menjelaskannya dihadapan para fans. Apakah Ayah harus menggelar konferensi pers untuk menguak alasan mengapa sosok Dilan yang hanya dikenal lewat karakternya itu disembunyikan?

Aku rasa tidak penting mengetahui siapa Dilan di dunia nyata. Karena Dilan telah mewakili perasaan para lelaki yang mencintai dan rela berbuat apapun untuk membuat pasangannya bahagia. Termasuk merelakan dia bersama dengan orang lain.

Sekian!

Gowa|25/08/2017|22:45 WITA

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

0 Komentar

  1. Saya belum baca novel Dilan tetapi banyak direkomendasikan oleh beberapa teman. Hm, mungkin novel ini akan saya baca tapi setelah merampungkan beberapa PR bacaan yang lain. Tulsian yang bagus, Dhila ?

    1. Terima kasih, Ifa. Sering-sering mampir ke sini lagi ya. 🙂

  2. Saya membaca ketiganya..dan saya setuju kisahnya telah menginspirasi kita semua. Salam kenal mba.

    1. Terima kasih telah berkunjung. Salam kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *