Article Personal Story

Jangan Mimpi Jadi Sarjana Dengan Skripsi Abal-Abal

skripsi-5
rumahnegeriku.com

Semua orang tahu, untuk memperoleh kesuksesan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak ada cara instan dan there is no free lunch. Semua butuh bayaran, meski tak melulu harus uang, melainkan usaha.

Bulan ini adalah bulan Agustus 2017. Rata-rata teman seangkatanku telah berbondong-bondong menggelar ujian meja untuk pelaksanaan wisuda bulan September. Namun, tak sedikit pula yang masih dalam proses pengerjaan skripsi. Mereka yang masih dalam tahap ini adalah mahasiswa yang berangan ingin wisuda bulan September tetapi jatuhnya di bulan Desember. Termasuk  aku.

Aku berpikir kalau sesuatu itu harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.  Bukan berarti mereka yang wisuda bulan September tidak mengerjakan skripsinya dengan benar, melainkan mereka telah membuktikan keseriusannya meraih sarjana dengan tepat waktu dan cepat-cepat meninggalkan dunia kampus hingga meraih kesuksesan berikutnya.

Mungkin aku termasuk salah satu mahasiswa yang paling santai mengerjakan skripsi. Saat orang lain sibuk di perpustakaan mencari referensi atau merevisi skripsi, aku malah membuat kegiatan lain. Karena di perpustakaan jaringan wi-fi lancar, maka yang kulakukan adalah download film, buat instastory di ig, atau yang positifnya upload tulisan di blog dan menulis berita liputan.

Kadang, aku melanjutkan BAB IV-ku jika sedang mau mengerjakan atau tiba-tiba ada ide yang terbersit di kepala. Tapi jika tidak, aku lebih memilih kegiatan di atas. Aku selalu mengatakan kalau mengerjakan skripsi itu butuh momen yang tepat. Jika tidak mengikuti momen tepat itu, aku tidak akan bisa mengerjakannya.

Alur penyelesaian di kampusku lumayan panjang dan berliku. Mengapa aku mengatakan demikian, karena di sini kita melewati berbagai macam ujian. Pertama, ujian proposal, ujian konfren, ujian hasil, ujian tutup/meja dan terakhir, ujian kesabaran.

Sebelum ujian proposal, mahasiswa harus bimbingan terlebih dahulu dengan dosen pembimbing. Judul yang kuajukan adalah representasi feminisme dalam program acara di televisi dengan menggunakan analisis semiotika. Dosen pembimbing yang kuminta yakni dosen ahli di bidangnya. Satu ahli di bidang feminisme dan gender—Ibu Rahmawati Latif, satu lagi ahli di bidang semiotika—Pak Abdul Halik. Setiap dosen dan beberapa mahasiswa akui akan hal itu. Dan aku bersyukur karena ketua jurusan menyetujui permintaanku. Mengapa aku yang memilih? Karena aku yakin mereka nantinya akan benar-benar serius membawaku mengejar ilmu bukan nilai.

Saat teman-temanku tahu bagaimana sosok pembimbingku ini, mereka akan berkomentar: “Kamu gila!” atau “Itu tidak mudah. Kau akan menghadapi revisi berkali-kali,” atau “Kau akan pusing dengan teorinya,” dan bahkan menggeleng-gelengkan kepala. Tapi itu semua tidak membuat aku merasa ciut, melainkan adalah tantangan yang menarik.

Aku mulai bimbingan proposal skripsi di akhir bulan Februari dan naik seminar proposal di bulan Juli. Bayangkan, aku menghabiskan waktu lima bulan hanya untuk bimbingan proposal. Sebenarnya ada yang menghambat mengapa ini bisa terjadi. Pertama, aku melaksanakan KKN selama dua bulan. Kedua, aku berpikir bahwa proposal ini harus benar-benar matang sebelum ‘dibantai’ pada seminar proposal nanti. Dan ketiga, aku malas dan mood-moodan (jangan ditiru). Oleh karena itu, aku mengerjakannya dengan perlahan tapi pasti.

Saat bimbingan kemarin, kami sempat berbincang-bincang dengan beberapa dosen dan staf. Beberapa mahasiswa bimbingan Pak Halik (termasuk aku) sedang khidmat mendengar teori-teori yang kadang susah aku mengerti. Hari sudah menjelang magrib, sementara waktu itu aku cuma ingin konsultasi mengenai BAB IV-ku, lalu menjadi ceramah selama tiga jam. Ceramahnya nanti bakal ku posting di blog ini.

Pak Jalal sudah mau pulang dan sedang menunggu Pak Halik yang masih memberikan wejangan.

“Ini semua followers-nya Roland Barthes, ya? Wah, banyak juga ya…” kata Pak Jalal dan kami ketawa. Roland Barthes adalah salah satu model analisis semiotika yang banyak dipakai mahasiswa (termasuk aku).

“Kalau masih tahap S1 seperti ini ada tarafnya kan ya?” ucap Pak Halik ke Pak Jalal yang tentu dimaksudkan kepada kami.

“Iya. S1 itu punya taraf. (Mengerjakan skripsi) tidak usah terlalu ideal. Kalau kamu mau mengejar sempurna, kamu tidak akan pernah lulus,” tambah Pak Jalal.

Satu lagi, saat sedang membahas tentang majalah universitas di kampus, Pak Salman—yang menjadi mitra kerja kami pernah bilang, “Jangan terlalu ideal di tingkat S1. Orang sudah sarjana dan berbakti di mana-mana, kau masih tinggal di kampus mempertahankan idealismemu.” Barangkali Pak Salman sedang curhat. Beliau pernah sembilan tahun jadi mahasiswa S1 di Mesir. Tapi jangan salah, wawasannya sangat luas.

Benar apa yang dikatakan dosen-dosen. Siapa yang mau berlama-lama di kampus. Idealisme macam apa yang membuat seseorang betah menjadi mahasiswa lebih dari empat tahun. Toh, kita masih bisa berkunjung ke kampus, mengadakan pertemuan, kajian, atau hal-hal semacamnya ketika sudah sarjana. Bahkan untuk urusan organisasi, bukan penghalang seseorang untuk selesai tepat waktu. Kalau bisa kutebak, mereka yang masih ingin berlama-lama takut dicap sebagai pengangguran. Ataukah ada hal lain?

Tapi, bukan keinginanku apabila ternyata lewat dari empat tahun. Kalau bisa mengejar tepat waktu mengapa harus lebih dari itu. Hanya saja aku merasa skripsi adalah sebuah karya yang harus diselesaikan dengan cukup baik. Bukan sekadar sebuah syarat kelulusan. Seperti penulis yang tentu tidak akan mengirimkan naskahnya ke penerbit jika merasa masih perlu diperbaiki.

Pak Halik mengerjakan tesisnya selama kurang lebih dua tahun. Seorang senior yang juga pernah dibimbing oleh Pak Halik mengerjakan skripsi kurang lebih satu tahun. Dia begitu mendalami teori bahkan lupa kalau biaya kuliah (read: SPP) terus berjalan. Hasilnya, semua yang pernah kupertanyakan tentang teori dan segala macam dijawab secara tuntas. Saat ini dia sedang berusaha mengejar beasiswa studi di luar negeri.

Yah, semua yang kita lakukan harus berjalan sesuai dengan porsinya. Skripsi yang kita kerjakan akan menemui hasilnya. Ada yang mampu mengerjakan secara cepat, terlepas dari apakah hasil atau nilai diperoleh memuaskan atau tidak. Ada pula yang menyelesaikannya dengan lambat karena dianggap susah atau dipersulit oleh dosennya. Dan ada pula yang sengaja memperlambat untuk mendapatkan hasil memuaskan, bukan sekadar nilai tetapi kedalaman ilmu yang akan dibawa ke jenjang berikutnya. Yang terakhir itulah hakikat mengerjakan skripsi yang sebenarnya.

Semua itu tergantung kepada orang yang benar-benar serius mengejar ilmu, bukan sekadar nilai atau ijazah untuk bekal memperoleh pekerjaan. Aku yakin di antara kita masih banyak yang memiliki pemikiran seperti ini. Sangat disayangkan apabila selama empat tahun kuliah namun yang diperoleh hanyalah selembar kertas yang nilainya nihil. Pekerjaan hanyalah materi, sementara ilmu adalah bekal. Maka, jangan mimpi jadi sarjana dengan skripsi abal-abal.

Gowa|23/08/2017|06:16 WITA

 

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

0 Komentar

  1. […] Sumber: Jangan Mimpi Jadi Sarjana Dengan Skripsi Abal-Abal […]

  2. Saya loh salah satunya 😀 jangankan wisuda, seminar proposal pun saya belum sampai saat ini. Saya mengajukan judul tepat bulan Desember 2016 dan diterima. Lalu, sampai sekarang masih bekerja dengan proposal. -,,-“

    1. Tetap semangat 🙂

      1. Hanya itu jalan satu satunya ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *