Article Personal Story

Cerita Ojek Online #Jakarta eps. 4

aplikasi-gojek-aplikasi-go-jek_20151116_155239
Seword.com

Dalam episode kali ini, saya mau share pengalaman naik Transportasi Online. Di Jakarta, ada tiga macam jenis transportasi online yang menjamur dimana-mana, yaitu: Gojek, Grab dan Uber. Setiba di Jakarta, saya langsung download aplikasi Gojek. Di Makassar, saya jarang memakai aplikasi ini karena saya punya kendaraan pribadi kalau mau kemana-mana.

Keberadaan transportasi online sangat memudahkan para perantau untuk bepergian. Pasukan hijau-hijau itu menguasai jalanan Jakarta. Di setiap tempat pasti selalu ada. Menurut informasi dari Manager Gojek, saat ini jumlah pengemudi Gojek berjumlah 250.000 mitra. Itu baru Gojek, bagaimana dengan transportasi online lainnya. Bisa dibayangkan betapa padatnya kota Jakarta saat ini.

Saya sering ngobrol sama Nisa, teman magang yang kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu itu saya bertanya soal tempat tinggalnya dan apakah itu jauh dari kantor.

Nggak kok. Deket dari sini. Jakarta itu sebenarnya kota yang kecil. Cuma sering macet, jadi kerasa agak jauh perjalanannya,” katanya. Memang benar. Saya hampir berjam-jam di atas mobil jika jalanan macet total.

Jumlah ojek online di Makassar tidak terlalu banyak seperti di Jakarta. Saya jarang melihat sekumpulan driver gojek atau grab yang sedang nongkrong di warung atau warkop. Entahlah. Atau memang cuma saya saja yang jarang melihat. Karena kalau di Jakarta, selalu saja ada mereka di setiap sudut jalanan kota.

Saking banyaknya, kalau sedang buru-buru saya tidak lagi memesan lewat android. Saya langsung bilang saja ke driver-nya untuk mengantarkan ke tempat tujuan. Hanya saja, harganya tentu tidak sesuai yang tertera pada aplikasi. Mereka biasa menaikkan tarif apabila kita tidak mengorder terlebih dahulu. Misalnya saja dari Mampang Prapatan ke Pasar Senen saya harus membayar Rp. 25.000, padahal saat saya cek ternyata Rp. 15.000 sudah cukup.

*

Setiap libur ngantor (Senin dan Selasa), saya main ke rumah Rihla. Rihla itu tipe shopaholic, dia suka jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Saya seringkali diajak ke Thamrin City atau Senayan City, meski hanya sekadar jalan-jalan. Kadang pula hanya nongkrong di rumah, main sama Zee (ponakan Rihla), gosip banyak hal, karokean atau masak-masak.

Rumah Rihla, seperti yang saya ceritakan di episode sebelumnya, terletak di Perumahan Permata Mediterania, Kompleks DPR RI—kakaknya, seorang staf ahli DPR. Kalau menyebut Perumahan Permata Mediterania saja, orang agak susah menemukan jalannya. Saya seringkali tersesat jika ke sana. Kadang lewat, atau kadang masuk ke perumahan lain.

Hal yang paling membuat saya kesal sama driver adalah ketika mereka tidak tahu jalan.

“Mbak, ini jalannya ke mana ya?”

“Lah, saya tidak tahu. Pakai GPS, Pak.” Mungkin dia bertanya seperti itu untuk memastikan bahwa apakah saya tahu jalannya atau tidak. Jika iya, mereka tidak perlu repot-repot minta petunjuk sama GPS. Kadang juga ada driver yang tidak tahu lihat GPS. Biasanya ini dialami oleh driver yang sudah tua.

Pokoknya, ada macam-macam tipe driver yang saya temui. Mulai dari yang pendiam sampai yang cerewet. Driver yang buta jalan sampai yang hafal jalan. Driver yang sok tahu dan sokab (sok akrab) juga ada. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang menjadikan profesi ini sebagai pekerjaan tetap, ada juga yang menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Bahkan katanya, ada yang sudah sekolah tinggi-tinggi sampai S2 malah lebih senang menjadi driver.

Suatu ketika, saya mendapat seorang driver yang cerewet. Dia mengajak saya cerita panjang lebar. Saya tipe orang yang tidak suka diajak ngobrol basa-basi. Untung suasana hati saya saat itu sedang gembira. Saya pun mengikuti alur ceritanya. Saya lupa topik pembicaraannya apa, karena sedang di atas motor. Suaranya terdengar samar-samar. Dia berpikir kalau saya orang Jogja. What?

“Ah, kirain orang Jogja, Mbak. Logat-logatnya mirip gitu, sih,” ujarnya. Oh ya? Saya hanya tersenyum. Memang banyak yang bilang ke saya, “kamu orang Makassar, tapi logat Makassarnya nggak keliatan.” Entahlah, saya hanya sedang beradaptasi di lingkungan baru.

Satu lagi pengalaman menjengkelkan (tapi lucu) saat naik ojek online. Waktu itu saya baru pulang dari Bandung. Sengaja bolos satu hari di kantor cuma buat ikut jalan-jalan ke Bandung. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Sudah agak larut, sementara saya harus masuk kantor pukul 12 malam. Meski begitu, Jakarta masih ramai.

Saya pun memesan ojek online. Driver-nya cowok, yang kira-kira seumuran dengan saya. Kami pun berangkat dari Perumahan Permata Mediterania menuju Mampang Prapatan. Saya tidak pernah merasa takut jika harus pulang larut malam. Apalagi jika menggunakan jasa transportasi online yang sudah pasti akan mengantarkan kita pada tujuan. Di tengah perjalanan, lagi-lagi driver tidak tahu jalan.

“Tahu jalannya kan, Mbak?”

Nggak tahu, Mas.” Mungkin mas itu berpikir, kok tempat kerja sendiri nggak hapal jalannya.

“Aduh, gimana ya, Mbak. Hp-ku lowbat. Nggak bisa liat GPS. Boleh pinjem hp-nya nggak buat liat GPS, Mbak?”

“Maaf, mas. Kuotaku habis.” Saya benar-benar tidak punya kuota waktu itu. Pesan ojek online lewat aplikasinya Rihla.

“Beneran nggak ada ya, Mbak?”

“Iya. Tadi pesannya lewat hp teman.”

Driver pun tetap melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, dia berhenti dan bertanya kepada driver lain, memastikan bahwa jalan yang dilalui sudah betul. Saya merasa melewati malam yang panjang waktu itu.

“Kita udah keliling nih, Mbak. Kayak lagi jalan-jalan aja. Hehe.”

Yaelah, si driver-nya malah keasikan di jalanan. Saya merasa tidak enak. Ingin sekali cepat-cepat sampai. Terang saja, waktu itu memang kayak lagi keliling Jakarta naik motor berdua yang tujuannya tidak jelas.

“Atau gini aja, Mbak. Boleh nggak kartuku dipasangin ke hpnya mbak? Soalnya saya benar-benar nggak tahu jalannya, Mbak. Butuh GPS.”

Baiklah. Akhirnya kami berhenti dipinggir jalan. Dia memasang kartunya di hp-ku. Astaga, ribet sekali saya pikir. “Makanya bawa power bank dong, Mas,” gerutuku dalam hati.

Nah, itu sekelumit cerita saat naik ojek online. Mungkin bagi kalian, apa yang saya ceritakan di atas adalah pengalaman yang biasa saja. Tidak ada yang menarik apalagi spesial. Tapi bagiku segala perasaan yang muncul ketika naik transportasi online entah itu gembira, kesal, marah, suka adalah suatu rasa yang menimbulkan kerinduan.

*

Dari pengalaman itu, saya memahami satu hal. Bahwa dalam perjalanan yang kita lalui tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada saja hal-hal yang menghambat dan kadang menguji kesabaran. Di sini, kita tetap dilatih untuk bersabar dan bersyukur. Seperti juga dalam hidup.

Dalam hidup ini kita diajari memaknai sesuatu dari setiap peristiwa yang dialami. Entah itu menarik atau tidak, entah itu hal yang kecil atau yang besar, rasa senang atau sedih, karena Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang tidak ada gunanya. Setiap inci dari kehidupan kita sudah pasti mempunyai manfaat. Dan yang kita lakukan adalah belajar dari itu.

Gowa|21/08/2017|19:32 WITA

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *