Personal Story

Nyari Kos-Kosan #Jakarta eps. 2

Dalam bagian ini, saya akan bercerita pengalaman saat mencari tempat tinggal di Jakarta. Barangkali dari pengalaman ini ada kebaikan yang dapat dipetik, meski sebesar biji zarrah. Bagiku, pengalaman akan selamanya mempengaruhi hidup seseorang. Pengalaman adalah guru terbaik manusia. Dengan berbagi pengalaman, berarti kita telah menjadi guru bagi banyak orang.

Kantor pusat stasiun televisi Trans 7 berada di Gedung Trans TV, Jalan Kapten P. Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Jarak dari rumah Rihla yang berada di Perumahan Permata Mediterania, Jakarta Selatan ke kantor Trans TV lumayan jauh. Jika tinggal di sana, saya harus memesan ojek online dengan memperkirakan waktu sekitar 30 menit hingga sampai ke kantor. Sementara jam kerja yang ditugaskan kepada kami dimulai malam sekitar pukul 11 malam sampai pagi di waktu weekend. Sementara di hari-hari biasa, kami masuk kantor jam 10 pagi.

Ajakan untuk tinggal di rumah Rihla tentu saya menolak, alasannya selain jarak tempat dan kondisi jam kerja, juga tidak ingin merepotkan tuan rumah. Makanya, saya hanya datang ke rumah Rihla kalau lagi libur atau diajak jalan-jalan. Hehe

Hari itu, Selasa, 8 November 2016,  hujan cukup deras. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Saya dan Zella baru saja selesai interview magang untuk mengetahui program acara yang akan kita tempati. Sembari menunggu hujan reda, kami berteduh di halte depan gedung. Rencananya di hari itu kami juga bakal mencari rumah kos-kosan untuk ditinggali selama dua bulan. Tepat di samping gedung Trans, terdapat gang di sana. Kami melihat banyak pegawai Trans berjalan kaki masuk ke gang tersebut. Kami pun ikut berjalan dengan bermodal sok tahu dan rasa ingin tahu. Siapa tahu ada kos-kosan yang masih kosong.

Tak lama berjalan kaki, kami akhirnya menemukan informasi yang ditempel di depan pintu, pertanda sedang ada kosan yang kosong. Kosan tersebut berada di bagian dalam. Harus melewati lorong kecil dulu sebelum masuk ke pintu. Sementara di depannya ada warung.

Seorang pria berumur 40-an tahun mempersilahkan masuk. Ada dua buah kamar kosong. Ukuran kamar 2×3 meter dan 2×2 meter. Fasilitas kamar mandi dalam, kasur springbed set 100×200 cm, lemari dan pendingan ruangan. Tentu kami memilih ukuran yang lebih besar karena kami akan tinggal berdua.

“Kalau yang ini 900 ribu untuk satu orang. Kalau dua orang 1,2,” kata Bapak Kos.

Nggak bisa kurang, Pak?” tanyaku.

Nggak bisa, Mbak.”

Untuk sementara kami mencari kosan lain. Saya merasa kosan ini cukup aman. Fasilitas lengkap dan tidak terlalu jauh dari kantor. Tapi kami merasa masih harus mencari tempat yang lebih bagus dan murah.

Waktu itu, hujan kembali turun. Kami tiba di sebuah warung kecil untuk berteduh. Dua orang pria tua penjaga warung sedang duduk dan menyapa. Kami menjawab dengan senang hati. Orang-orang di sini begitu ramah dan supel. Jika ada pendatang baru seperti kami, mereka senantiasa memberi arahan.

“Bang, ada yang nyari kos-kosan nih,” teriak Bapak yang satu kepada seseorang dari dalam warung. Kebetulan, Bapak ini mengenal orang yang punya kosan sekitar sini. Tak lama kemudian, Bapak yang dipanggil lantas mengambil payung dan membawa kami ke rumah kosan yang dimaksud. Letaknya berada di bagian belakang. Lumayan jauh.

Di sana kami bertemu dengan seorang Ibu paruh baya. Tampak sebuah rumah sederhana. Tidak di cat dan terlihat masih dalam tahap pembangunan. Kami diajak naik ke lantai dua. Dengan kondisi tangga yang masih sangat baru dan tak memiliki pegangan. Saya berjalan hati-hati. Takut terjatuh karena licin, sementara di sana sini banyak berserakan paku-paku dan beberapa bahan bangunan.

Kamar kosan itu berjejer. Cukup luas dalam satu kamar. Tapi tidak ada fasilitas seperti kosan tadi. Kosong melompong. Satu hal yang selalu kami cek dengan benar adalah kamar mandi. Kamar mandi terletak di sebelah kamar. Cukup bagus. Harga kosan 900 untuk dua orang. Kami lalu mempertimbangkan.

Kondisi kosan ini tidak terlalu bagus untuk kami tinggal. Jauh pula dari kantor. Meski murah tapi kami tetap melihat baik buruknya dan tentu kenyamanan adalah hal yang paling penting. Kami berpikir, kosan pertama tadi jauh lebih nyaman. Sebelum ada yang mengambil, akhirnya kami kembali ke kosan pertama. Ibaratnya, kalau kita merasa nyaman sama mantan, tidak ada salahnya kembali ke dia. Kecuali kalau dia sudah ada yang punya. *eh

Setelah selesai sholat magrib, kami pun akhirnya pulang dengan perasaan sedikit pusing dan lelah. Kami memesan taksi menuju rumah Rihla. Malam itu saya benar-benar merasa tidak enak badan. Apalagi ditambah dengan kondisi jalanan yang super macet. Dan sialnya, pak  supir yang menjadi harapanku untuk segera sampai ke rumah tiba-tiba tidak tahu jalan. Bapak yang lebih dulu tinggal di Jakarta saja tidak tahu jalan, apalagi saya yang baru tiga hari di sini. Terserah deh, Bapak! Cari jalan sendiri! Capek!

Perutku benar-benar tidak bisa diajak kompromi saat itu. Saya pengen muntah. Untung Zella punya kontong plastik. Kalau tidak, mungkin Bapak supir itu sudah membuang kami di pinggir jalan.

Oh, jakarta!

Baca juga : #1 Rindu Jakarta: Beberapa Hal yang Membuatku Ingin Kembali

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *