Personal Story

Parepare dan Monumen Cinta Sejati

“Kamu itu orang paling keras kepala yang pernah aku kenal. Tapi jika aku harus mengulang hidupku, aku akan tetap memilih kamu.” ~Habibie dan Ainun~

Sebenarnya aku bingung mau menulis apa mengenai kota Parepare. Aku tidak cukup banyak menikmati kota itu. Hanya menghilangkan kepenatan dengan mengikuti kegiatan di sana. Aktivitas yang cukup menoton selama dua hari. Pagi masuk forum, mendengarkan materi sampai larut malam, pulang ke hotel naik bus bersama rombongan peserta, curhat dengan teman sekamar, menyempatkan menulis sebentar, lalu tidur.

Bukan murni berjalan-jalan, seperti pergi ke pantai, mengunjungi banyak tempat, membeli jajanan khas daerah, berfoto atau mengabadikan momen-momen menarik.

Dalam tulisan ini, aku  tidak ingin menceritakan kisah cinta Habibie Ainun atau menjelaskan bagaimana monumen cinta sejati ini akhirnya dibuat dan diresmikan oleh mantan presiden kita. Cukup kita tahu bahwa cinta mereka itu abadi. Cinta mereka adalah suatu ikrar yang diperjuangkan hingga maut memisahkan. Tidak ada drama menyedihkan selain berjuang bersama-sama untuk melawan penderitaan.

Yang ingin kubilang adalah: betapa menemukan seseorang yang sangat berarti dalam hidup dan membuat kita benar-benar merasa nyaman itu tidak mudah. Kita kadang dipertemukan dengan seseorang yang pada akhirnya akan pergi, hanya untuk diberitahu bahwa dia bukan milik kita. Bertemu, lalu membentuk kenangan, berpisah, merasa kehilangan dan akhirnya saling melupakan. Sebuah siklus panjang untuk menemukan cinta sejati. Tentu Habibie juga pernah mengalami siklus itu.

Aku merasa ingin bebas dari siklus panjang itu. Sangat melelahkan apabila terus terjadi. Kau tahu, aku kadang susah melupakan. Selalu gagal move on. Hal-hal yang sering dirasakan oleh remaja labil yang akan tumbuh menjadi pribadi dewasa. Jika kau jadi aku, kau pasti setuju.

Pertengahan tahun ini adalah momen yang paling berharga dalam hidupku. Mengapa? Karena aku telah melewati satu siklus cinta yang rumit. Itulah yang membuatku bertambah kuat dan dewasa. Apa aku terpuruk? Mana mungkin. Aku masih bisa menjalani hari-hariku seperti biasa meski kadang terbayang akan kenanganku bersamanya. Bahkan nafsu makanku akhirnya kembali. Aku mengerjakan skripsiku, dan lihat, aku keranjingan menulis blog. Semua berkat penerimaan yang aku lakukan dengan tulus.

Pertama kali aku melihat diriku dalam keadaan terpuruk ketika aku harus kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. Tahun 2009, kelas tiga sekolah menengah pertama, Mama pergi dan meninggalkan seribu satu senyuman di wajahnya. Rindu tak berkesudahan. Aku merasa kehilangan.

Sejak saat itu aku menyukai bintang. Diantara beribu bintang di langit, ada satu bintang paling bersinar di atas sana. Dan kuharap dia adalah Ibuku. Jika orang bertanya, siapakah cinta pertamamu, maka kujawab, Ibu, dan tak pernah ada yang bisa menggantinya. Kehilangan adalah bagian dari siklus cinta yang harus kita lewati. Dan itu wajib!

Setiap masalah yang datang selalu kupercaya akan meninggalkan pelajaran hidup. Aku menjalani kehidupan panjang seperti buku pelajaran yang setiap babnya berisi mata pelajaran baru. Seperti novel yang dipenuhi konflik berkepanjangan dan berakhir dengan penyelesaian, entah itu happy ending ataukah sad ending.

Sekarang sudah waktunya untuk berbenah. Menata hati dan menerima segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kembali memikirkan hal-hal yang ingin kulakukan beberapa waktu ke depan. Pekerjaan dan sesuatu yang lebih baik menanti di ujung sana. Aku akan segera menjemputnya. Sebentar lagi.

Lima bulan lagi pergantian tahun. Dan aku masih sendiri. Aku menertawakan diriku sendiri. Hei, resolusiku tahun ini bukan menikah! Masih banyak hal yang harus kuperbaiki untuk memantaskan diri. Cinta sejati akan datang di waktu yang tepat. Tak terduga dan membuat kejutan. Tak ada yang bisa kau lakukan selain percaya.

Kini, ada hal lain yang harus kucapai terlebih dahulu. Seperti menyelesaikan skripsi, mengerjakan proyek menulis, memantapkan penguasaan bahasa inggris, dan cepat move on lah. Ah, kuharap aku benar-benar melihat diriku memakai toga tahun ini.

Parepare menurutku adalah kota yang romantis. Kota yang melahirkan pemimpin revolusioner seperti Habibie–seorang lelaki yang hanya setia pada satu nama, Ainun. Parepare dan monumen cinta sejati menjadi saksi bahwa dihari itu aku telah mengakhiri segalanya. Antara aku dan dirinya telah berdamai dengan perasaan.

Gowa|05/08/2017|07:29 WITA

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

2 Komentar

  1. Sangat menginspirasi. Saya suka dan sangat tersentuh dengan tulisanmu beb. Semoga cpat menyelesaikan skripsi dan menjadi sarjana yang diberkahi dan di ridhai Allah Swt. Amin. Sahabatmu Bela Husdiana B

    1. Terima kasih, Bel. ^^ Amiin..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *