Article

Belajar Jurnalistik Tak Kenal Siapa

Suasana pelatihan jurnalistik dan pengelolaan database daring nasional yang digelar oleh MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Diikuti sekitar 6 MPI PWM dan 16 MPI PDM di Nusantara.

Tujuan saya berangkat ke kota Pare-Pare (masih bagian dari Sulsel) sebenarnya memiliki beberapa motif. Selain mengikuti Pelatihan Jurnalistik yang digelar Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama tiga hari (28-30 July), saya ingin jalan-jalan sebentar. Seharusnya saya sudah berada di Luwu Utara selasa kemarin, tapi berhubung saya baru keluar dari rumah sakit, saya tak diizinkan untuk pergi terlalu jauh. Takut akan ada yang rindu, sepertinya.

Makassar membosankan. Bikin sesak. Suka macet. Apalagi kampus saya dipenuhi oleh mahasiswa yang mau ujian tutup. Sementara ujian hidup saya belum kelar-kelar, hehe. Belajar sambil jalan-jalan di luar daerah mungkin menarik. Tapi jangan belajar sambil jalan beneran, nanti kesandung. -,-

Pikiran saya sebelum berangkat, pelatihan jurnalistik oleh MPI PP Muhammadiyah pasti para pesertanya kebanyakan orang-orang yang sudah berumur, level Ayahanda gitu. Tapi masa iya mereka masih mau ikut pelatihan jurnalistik? Dan nyatanya, memang benar. Para peserta muda seperti saya masih kalah dengan mereka yang sudah tua.

Saya sangat senang dengan masyarakat Muhammadiyah di berbagai daerah dan wilayah di nusantara karena masih peduli dengan perkembangan era digital dan publikasi saat ini. Keberadaan media massa, baik cetak maupun online membuat masyarakat berbondong-bondong tidak hanya mengonsumsi tetapi juga mempelajarinya. Saya jadi berpikir bahwa jurusan jurnalistik akan benar-benar punah. Semua orang bisa jadi jurnalis tanpa mengikuti pendidikan formal. Orang-orang yang direkrut menjadi wartawan di sebuah media tidak lagi dilihat dari latar belakang mereka, tetapi mempertimbangkan skill yang dimiliki. Itulah alasannya kenapa pelatihan jurnalistik ini gencar-gencarnya dilakukan di setiap lembaga-lembaga.

Mengikuti pelatihan seperti ini bukan yang pertama kali tentunya. Lagipula materi-materi yang disampaikan dalam pelatihan ini sudah kukhatamkan pada mata kuliah saya. Beberapa pertanyaan yang diajukan peserta sekiranya sudah bisa kuprediksi jawabannya jika itu berkaitan dengan jurnalistik. Lalu mengapa saya masih tetap ingin belajar? Harus dipahami, manusia memang selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya.

Seseorang nge-chat saya di WA, “Dek, bertanya nah. Keluarkan semua ilmu ta’.” Saat itu saya sedang menyimak salah satu materi dari Ketua MPI PP Muhammadiyah. Saya lalu berpikir bahwa saya ikut pelatihan bukan untuk pamer kehebatan, pamer ilmu atau memperlihatkan sudah sejauh mana kiprah saya di bidang ini. Tidak sama sekali. Saya datang jauh-jauh karena merasa masih butuh banyak asupan ilmu. Menyegarkan ingatan saya kembali tentang jurnalistik dan tentu dalam kaitannya dengan persyarikatan. Karena saya lahir dari keluarga Muhammadiyah, dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah, teman-teman saya kebanyakan orang Muhammadiyah, maka saya juga harus turut dalam mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah. Tentu dengan skill dan bidang yang saya geluti.

Kembali lagi, semangat anggota MPI sebagai penyalur informasi seputar Muhammadiyah patut diacungi jempol. MPI adalah lembaga yang berdiri di bawah naungan Muhammadiyah. Yang tentu orang-orang di dalamnya bekerja ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Wajah-wajah para peserta jurnalistik.

Ini kali pertama saya mengikuti pelatihan jurnalistik yang diikuti oleh orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Namun, yang membuat saya sedih, dari puluhan orang, peserta perempuan hanya segelintir. Tidak sampai sepuluh orang. Apa yang menjadi sebab? Di kampus saya, perempuan yang aktif di media kampus itu lebih banyak daripada laki-laki. Terbukti tiga tahun berturut-turut, Direktur Pemberitaan (Pimpinan Redaksi) UKM LIMA Washilah  (media kampus UIN Alauddin Makassar) adalah seorang perempuan. Banyak yang bertahan dan tak sedikit pula yang mundur perlahan-lahan.

Kerja-kerja jurnalistik memang kerja-kerja ikhlas. Mereka yang mundur adalah yang tidak punya tujuan jelas mengapa ia harus bertahan. Apalagi perempuan. Saya bertahan di bidang ini bukan karena ingin menjadi jurnalis profesional, menghabiskan hidup saya untuk mencari berita. Saya bertahan karena mau belajar. Belajar bukan berarti harus menjadi sesuatu yang sudah dipelajari. Tapi, belajar untuk mengajarkan sesuatu itu kepada orang lain. Makanya, proses itu penting. Yang sia-sia jika kita berhenti di tengah jalan, menyerah dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Intinya, jurnalistik itu bisa dipelajari oleh siapa saja. Anak muda, orang tua, laki-laki atau perempuan bisa turut andil di dalamnya. Tak kenal siapa orangnya, tak kenal berapa umurnya.

Pare-Pare|29/07/2017|12:12 WITA

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *