Uncategorized

Sebuah Renungan Pagi Ini

Tulisan ini adalah hasil renungan saya pagi ini. Kemarin, saya dikejutkan penawaran seorang dosen. Dosen yang selalu memarahi saya karena selalu lupa memberikan kontak telepon dan lupa menyimpan kontak teleponnya.

“Kenapa tidak angkat telepon saya?” katanya saat berpapasan di Masjid.

Saya malah cengengesan. “Telepon yang mana ya, Pak?”

“Wah ini nih, ciri-ciri mahasiswa durhaka. Berkali-kali di suruh save nomor saya, tidak pernah di save. Mentang-mentang sudah mau lulus, dosennya dilupakan.”

Aduh, terkutuklah saya. Saya lalu berpikir, sebelum itu ada nomor tak dikenal masuk ke handphone-ku. Barangkali itu nomornya Bapak.

“Maaf, maaf, Pak. Iya, iya, saya save.”

Setelah percakapan yang tak penting itu, Bapak lalu menawarkan sebuah proyek. Proyek menulis biografi seorang tokoh (maaf, belum bisa saya sebutkan siapa). Dan itu membuat saya terkejut. Jujur, saya senang, ini adalah kesempatan buat saya untuk bisa kembali menulis yang tentu bermanfaat buat orang lain dan salah satu impian mengapa saya ingin menjadi penulis. Semoga saja bisa terealisasi. Amiin…

Saya lalu berpikir, mungkinkah ini jawaban atas segala kerisauan saya akhir-akhir ini. Setiap kesusahan ada kemudahan. And that’s right. John Lennon bilang, “life is what happens to you while you’re busy making other plans.” Kita tidak tahu apa rencana yang akan Allah berikan kepada kita. Rencana kita yang awalnya B, ternyata Allah kasih rencana A yang nyatanya jauh lebih baik dibanding rencana kita. Hidup tanpa GPS itu emang seru, kata Gita Savitri.

Betapa Allah memberikan nikmat yang begitu besar kepada setiap makhluknya. Kita terbangun dari tidur, lalu mengambil air wudhu dan bersujud kepadaNya. Berdo’a. Bercengkrama kepada Sang Pencipta. Kita selalu meminta, meminta, dan meminta. Allah memberi petunjuk, mengabulkan do’a, melindungi, menentramkan hati. Lantas, apa yang kita lakukan untuk membalas itu semua?

Allah menitipkan harta kepada kita, rezeki yang melimpah, jodoh yang sesuai cerminan diri kita, tapi mengapa masih banyak manusia yang tidak bersyukur? Banyak manusia yang tidak menyadari bahwa itu semua hanyalah titipan. Suatu saat semua itu akan diambil kembali. Kita yang tak menyadari lalu menangis, marah kepada Allah, menyalahkan takdir yang telah ditetapkan. Ketika kita mendapatkan kesulitan itu, diberi cobaan, barulah kita mengingat Allah, sementara di hari-hari yang sehat dikala bergelimangan harta, kita lupa beribadah. Sungguh kita makhluk yang tidak tahu diri.

Allah itu tidak pernah tidur. Allah mengawasi kita 24 jam non-stop. Setiap kita berbuat kebaikan ataupun keburukan, malaikat-malaikat Allah tidak akan keliru mencatat apa yang telah kita perbuat. Catatan yang nantinya akan ditakar lalu ditentukan tempat kita di akhirat kelak.

Maka berbekallah. Kita tidak tahu kapan kematian akan datang. Entah itu esok atau lusa, setahun atau dua tahun kemudian.

 

Gowa|25/07/2017|07:45 WITA

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *