Human Interest

Prof Dr Musafir MSi: Merintis Karir Panjang, Berjenjang, dan Tak Gampang

Rektor UIN Alauddin Makassar Periode 2015-2019
Tabloid Washilah edisi 93| September 2015 M
Tak ada yang menyangkal dengan polemik Pemilihan Rektor (Pilrek) yang begitu panjang dan berliku-liku, Prof Dr Musafir Pabbabari MSi pria yang baru saja melepaskan jabatan sebagai Wakil Rektor II ini menjadi orang nomor satu di UIN Alauddin Makassar. Jabatan yang tak terlalu digilainya, namun kini bisa menduduki kursi empuk Rektor.

“Saya tidak tergila-gila dengan jabatan, tetapi saya sangat bersyukur Allah selalu membukakan jalan,” terang Rektor UIN Alauddin Makassar Periode 2015-2019 saat ditemui diruangannya. Senin (15/07).

Tak gampang menjadi pemimpin, apalagi yang dipimpin adalah sebuah Universitas. Namun, ia merasa dalam mengemban amanah menjadi Rektor tak terlalu sulit sebab dia punya pengalaman dan modal kuat yang dirintis sejak menjadi sekretaris jurusan perbandingan agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (sekarang: FUFP) UIN Alauddin 2004 silam.

Selain itu, ia juga pernah menjadi pegawai di Kantor Departemen Agama pada 1986 di Sulawesi Tenggara selama setahun.

“Meski hanya setahun menjadi pegawai, karena waktu itu saya ingin pulang kampung dan meminta ditempatkan di UIN Alauddin Makassar. Namun, pengalaman ini menjadi modal untuk saya meniti karier berikutnya,” tutur pria kelahiran 17 Juli 1956 ini.

Tak merasa puas dengan ilmu yang dimiliki, ia melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi hingga menyelesaikan program master dan doktoral lebih cepat dari biasanya. Kendati demikian, ia diberikan kepercayaan untuk menjadi Sekretaris Jurusan perbandingan agama, Wakil Dekan II FUFP, dan bahkan menjadi Dekan di Fakultas tersebut pada 2006.

Guru Besar Sosiologi Agama ini selalu diberikan kemudahan dalam merintis kariernya.  Bahkan, setelah menjabat sebagai Dekan, ia pun diangkat menjadi Wakil Rektor bidang administrasi umum, perencanaan dan keuangan. Hingga jenjang karirnya di UIN Alauddin ini semakin lengkap ketika dilantik menjadi rektor.

Dalam kepemimpinannya di kampus peradaban, ia mengatakan akan tetap melanjutkan kebijakan-kebijakan yang belum sempat dirampungkan Prof Qadir Gassing.

“Itulah kelemahannya saat ini, setiap pergantian pimpinan, berganti lagi programnya. Kalau saya tidak, saya akan melanjutkan disamping menyempurnakan yang kurang sempurna,” pungkas Bapak tiga anak ini.

Meski begitu, ia akan tetap menelurkan inovasi-inovasi baru untuk mengembangkan kampus yang kondusif. “Misalkan, Gerakan Seribu Buku (GSB), ya harus ditingkatkan. Pembangunan Rumah Sakit yang belum selesai, harus segera diselesaikan. Fakultas Kedokteran juga. Kemudian infrastruktur masih perlu dibenahi,” jelasnya.

Dua bulan lamanya Menteri Agama (Menag) mengeluarkan perintah untuk melantik Prof Musafir. Meski dengan pelantikan tersebut menuai pro dan kontra di kalangan pimpinan fakultas-fakultas dan universitas lain, ia tetap terus berjuang dan membuktikan akan perubahan UIN Alauddin menjadi lebih baik dalam kepemimpinannya.

Ia juga teringat pesan Menag untuk selalu menjaga kondusifitas kampus. “Pak Menteri berpesan pada saya, ‘jaga kondusifitas kampus. Karena kalau kampus itu tidak kondusif, akan mengganggu proses akademik yang ada di kampus,” paparnya.

Terakhir, rasa syukur yang begitu melimpah sebab dengan dilantiknya ia sebagai rektor, umurnya di tanggal 17 Juli pun bertambah, serta di hari tersebut bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1643 H.

“saya anggap ini sebagai hadiah ulang tahun saya. Dan tepat tanggal itu pula, nanti saya berulang tahun dan akan dirayakan di seluruh dunia,” ujarnya sambil tersenyum.

(Nurfadhilah Bahar –Tabloid Washilah edisi 93| September 2015 M–)

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *