Traveling

Belajar Investigasi di Pulau Dewata

Tabloid Washilah Edisi September 2015
Bali merupakan salah satu daerah agrowisata paling banyak diminati orang-orang lokal maupun mancanegara ini, menjadi salah satu tujuan perjalanan anggota UKM LIMA Washilah dalam menimba ilmu jurnalistik.

Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Bali Journalist Week (BJW) 2015 yang digelar dua tahun sekali oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Akademika Universitas Udayana (Unud) Bali ini mengundang LPM seluruh Indonesia. BJW 2015 ini berlangsung sejak 10-14 Agustus 2015 dengan tajuk, Jurnalisme Investigasi: Jelajah Kausa Menguak Faktualitas.

Selama seminggu di Bali rasanya pergantian siang malam terlalu singkat bagi kami. Belajar jurnalistik sambil menikmati panorama Bali memang sangat menyenangkan. Bukan hanya diperkenalkan berbagai macam wisata, namun adat dan budaya serta makanan khas orang bali juga suatu pengetahuan baru bagi yang pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Apalagi Bali terkenal dengan budaya Hindu yang kental.
Modal Nekat dan Percaya Diri

Bermodal nekat dan percaya diri, penulis berangkat sendiri lintas provinsi. Rasa takut dan was-was menyelimuti selama perjalanan, betapa tidak ini merupakan kunjungan luar provinsi pertama dan penerbangan pertama yang penulis lalui.
Sesampainya di Bandara Ngurah Rai Bali, waktu menunjukkan pukul 19.35 WITA. Perjalanan menuju Student Center Unud yang terletak di kota Denpasar begitu penulis nikmati. Atmosfir malam di Bali terasa lebih berbeda dengan Kota Makassar daerah asal penulis. Nuansa Bali terlihat dari lampion-lampion yang menggantung di beberapa bangunan-bangunan tinggi dan rumah-rumah. Hiasan penjor galungan yang dipasang sepanjang jalan di depan rumah-rumah penduduk. Penjor galungan adalah deretan bambu melengkung berisi hiasan yang dipasang sehari sebelum hari raya Galungan (salah satu hari raya umat Hindu).
Sekitar pukul 20.15 WITA, penulis tiba di gedung Student Center Unud dimana panitia BJW 2015 berkumpul. Terhitung 19 orang peserta menghadiri kegiatan tersebut yang berasal dari beberapa Provinsi dan LPM se Indonesia. Para peserta yang hadir telah mengikuti proses seleksi berupa penulisan essay dan diundang secara resmi untuk mengikuti pelatihan ini.

BJW 2015 Dibuka dengan Tarian Sekar Jagat

Setelah semalam menginap di salah satu indekos panitia, esoknya Senin (10/08) sekitar pukul 13.00 pembukaan BJW 2015 dibuka dengan salah satu tarian penyambutan tamu khas budaya Bali, Sekar Jagat, serta pemukulan gong secara resmi oleh Pembantu Rektor III Unud Dr. Nyoman Suyatna, S.H, M.H, dilanjutkan dengan acara talkhow. Tari sekar ini ditarikan oleh sekelompok penari putri yang masing-masing membawa canangsari. Canangsari ini semacam perlengkapan keagamaan umat Hindu di Bali untuk persembahan tiap harinya.
Penyambutan Tamu-Tari Sekar Jagat dimainkan oleh sekelompok penari putri untuk penyambutan tamu di acara pembukaan Talkshow Nasional dan BJW 2015. Senin (10/08)
Pembukaan Acara-Pemukulan gong secara resmi oleh Pembantu Rektor III Unud Dr. Nyoman Suyatna, S.H, M.H.
Acara talkshow pun dimulai dengan menghadirkan Bondan Winarno (Jurnalis, Pendiri ‘Jalansutra’, dan Presenter ‘Wisata Kuliner’) dan  Erwin Arnada (Pendiri Majalah ‘Playboy’ Indonesia, Sutradara, Produser) dengan tema “Dibalik Kisah Seorang Jurnalis”. Bertempat di Aula Gedung Agrokompleks Unud.
Penyerahan Plakat-Dari kiri ke kanan: Andis Indrawan (Ketua Panitia BJW 2015), Santia Nyokita (Pimpinan Umum Pers Akademika Unud), Erwin Arnada (Pendiri Majalah ‘Playboy’ Indonesia, Sutradara, Produser), Bondan Winarno (Jurnalis, Pendiri ‘Jalansutra’, dan Presenter ‘Wisata Kuliner’), dan Wirat Eka (Pimpinan Redaksi Pers Akademika Unud).
Foto Bersama – Peserta BJW 2015 berfoto bersama Erwin Arnada di Aula Gedung Agrokompleks Unud.
Setelah acara talkshow selesai, para peserta pun dibawa ke penginapan di Balai Pengembangan Keterampilan Khusus Tenaga Kesehatan (BPKKTK) Pemerintah Provinsi Bali sekitar 19.20 WITA. Wisma ini berdekatan dengan pantai Padang Galak, sehingga santap makan malam di gazebo saat itu diiringi dengan semilir angin dan nyanyian ombak. Suasana yang dingin nan sejuk membuat kami betah berada di tempat itu, apalagi saat malam hari.
Makan siang- Para peserta makan siang di Gazebo BPKKTK.
Belajar Jurnalisme Investigasi

Bangun pagi, diiringi musik tradisional Bali menambah nuansa budaya Bali. Seni Bali mulai dari dekorasi ruangannya sampai dengan alunan musik memang menarik. Setelah sarapan pagi, sekitar pukul 08.00 WITA materi pun dimulai dengan menghadirkan penulis lepas Pindai, Fahri Salam  yang membahas tentang pengenalan Reportase Investigasi. Setelah itu, dilanjut L.R Baskoro Selaku Redaktur Eksekutif Tempo yang membahas lebih lanjut mengenai “Rekam Jejak Investigasi”. Lalu setiap malam, diisi diskusi-diskusi ringan ala Pers Mahasiswa.

Serius-Perseta BJW 2015 serius menyimak paparan materi dari Redaktur Eksekutif Tempo, Lestantya R. Baskoro. Selasa (11/08)
Seperti di hari kedua, hari ketiga masih diisi dengan materi yang membahas tentang bagaimana meliput dan menginvestigasi kasus Pelanggaran HAM di Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan materi Kekerasan Atas Nama Agama.

Liputan Investigasi di Desa Budaya Kertalangu
Liputan lapangan, kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama di Desa Budaya Kertalangu dan kelompok kedua di Daerah Nusa Dua Bali. Penulis berada di kelompok pertama. Desa Kertalangu ini terletak di jalan By Pass Ngurah Rai, Kesiman, Denpasar.

Sebenarnya, liputan investigasi memang menarik di wilayah tersebut. Namun karena waktu yang diberikan hanya sehari, kami setidaknya dapat melakukan wawancara ke beberapa narasumber yang dianggap penting dalam kasus yang kami tangani.

Tak seperti yang dibayangkan, desa ini sepi penduduk. Bahkan tak ada satu pun rumah yang berdiri di daerah tersebut, melainkan terdapat lahan seluas 80 hektar terdiri dari bangunan yang dikelilingi sawah-sawah dan perkebunan. Meski narasumber yang kami temui berada jauh dari lokasi awal yang dituju (sekitar 2 km), hingga jam lima sore kami berhasil mendapatkan informasi dari tiga narasumber, yakni Kepala Desa, Warga Desa, dan seorang pengamat.

Selain itu, desa ini memiliki tempat wisata tersembunyi dimana terdapat Gong Perdamaian Dunia yang dihiasi 200 lebih bendera negara-negara independen serta patung-patung tokoh keagamaan di dunia. 

Gong Perdamaian Dunia- Kelompok satu dan dua berfoto bersama di taman perdamaian dunia saat liputan lapangan di Desa Budaya Kertalangu. Kamis (13/08)
Hasil dari liputan tersebut kemudian dipersentasekan dan didiskusikan pada malam harinya.
Foto Bersama- Usai persentase liputan lapangan para peserta dan panitia befoto bersama pemateri Fahri Salam dan L.R. Baskoro di ruangan. Kamis (13/08)
Hari terakhir, Melancong ke Pantai Pandawa

Berwisata seringkali mengingatkan kita, betapa indahnya ciptaan Tuhan. Di hari terakhir pelatihan ini, kami menghabiskan waktu setengah hari refreshing di Pantai Pandawa Kutuh. Pantai pasir putih favorit wisatawan domestik saat liburan ke Bali.

Pantai Pandawa Kutuh
Pantai Pandawa tak kalah indah dari pantai-pantai lainnya di Bali. Pasir pantai putih bersih, ombak yang tenang, serta bebas dari polusi. Untuk memasuki kawasan pantai ini, kita harus melewati sebuah jalan yang diapit oleh dua tebing batu yang terjal. Di tebing terjal ini terdapat patung pandawa (seperti yang diceritakan dalam serial film Mahabharata), oleh karenanya pantai itu disebut Pantai Pandawa. 
Patung Pandawa- Peserta berfoto bersama di depan sala satu patung pandawa.
Foto Bersama- Peserta dan Panitia Bali Journalist Week (BJW) 2015 foto bersama di Pantai Pandawa Kutuh. BJW ini diikuti 19 delegasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia.
Sayangnya, waktu yang singkat mengharuskan kami menghentikan perjalanan wisata. Awalnya kami merencanakan perjalanan ke Bukit Do’a. Namun karena ada sedikit perbaikan jalan menuju tempat tersebut, hingga akhirnya perjalanan pun berakhir di sebuah toko yang di dalamnya berdiri patung Krisna dengan gaya khasnya memainkan seruling. Sehingga toko itu disebut toko Krisna, tempat belanja oleh-oleh khas Bali.

Nah, itu sedikit dari perjalanan penulis di pulau Dewata dalam menimba ilmu jurnalistik. Merupakan perjalanan jauh yang paling mengesankan. Selain mempelajari ilmu-ilmu jurnalistik dan bertemu dengan LPM se-Indonesia, perjalanan ini membuat penulis sadar bahwa seberapa pun sulitnya, jika kita sudah berencana dan mau berusaha, pasti selalu ada jalan yang diberikan Tuhan untuk mewujudkan impian itu.

*Penulis adalah Direktur Pemberitaan UKM LIMA Washilah

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *