Traveling

PJMTD UKM LIMA Washilah

Jum’at 15 November 2013
Hari jum’at. Tak ada aktivitas yang melelahkan di luar rumah. Tepatnya di kampus. Sebenarnya ada kegiatan di kampus siang tadi, kajian rutin jurusan jurnalistik, namun ada saja godaan yang tak mampu tertepiskan. Malas menggerogoti. Itulah penyakit yang sulit diobati.

Ngomong-ngomong, telah lama aku tak curhat dengan diary. Tiga bulan vakum menulis diary. Tepatnya sebelum masuk kuliah. Entah kesibukan apa yang tengah kujalani waktu itu sehingga tak menyempatkan bercurah lewat tulisan. Namun, kini aku hadir lagi dengan kisah-kisah perjalanan hidup yang penuh liku.

Well, mengenai seminggu lalu tepatnya hari kamis, 07 november baru saja aku selesai mengikuti Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (PJMTD) yang ke 13 yang di gelar oleh UKM LIMA Washilah. Seminggu yang lalu, aku dinyatakan telah resmi menjadi anggota UKM LIMA Washilah. Tapi, jangan berbangga hati dulu, perjuangan belum cukup sampai di sini. Anggota baru UKM tersebut harus mampu menjalani masa magang selama 6 bulan. Cukup panjang sih, tapi jika di nikmati, semuanya akan terasa menyenangkan. Apalagi jika bergabung bersama kakak senior di Washilah. Gelak tawa akan semakin mengada-ngada.

Pengalaman pada saat mengikuti PJMTD tak akan pernah kulupakan. Begitu banyak suka maupun duka yang di torehkan dalam kisah kebersamaan. Banyak sekali hal yang aku dapatkan disini. Bertemu dengan mantan-matan ketua umum Washilah periode lalu yang kini telah sukses menuai karier dibidangnya masing-masing. Ada yang telah jadi wartawan di surat kabar nasional, ada yang telah menjabat sebagai redaktur di harian sindo, tribun, fajar. Bertemu dengan wartawan-wartawan profesional, redaktur-redaktur yang berpengalaman, dan banyak lagi. Ia menyampaikan materi-materi yang belum pernah saya dapatkan. Tentang motivasi menulis, tentang menjadi pendekar pena yang hebat.

Tidak hanya itu, hari ketiga PJMTD tepatnya malam minggu. Kami para peserta melakukan kunjungan media yakni di tribun timur dan fajar makassar. Jam 20.00 kami mulai start dan berangkat menggunakan mobil besar (mobil yang biasa digunakan tentara) yang berwarna hijau muda. Walaupun berdesak-desakan, tapi mampu menampung peserta yang jumlahnya 41 orang.

Ketika menaiki mobil tersebut, rasanya seperti para tahanan yang hendak dibawah ke sel tahanan tapi dengan suasana yang berbeda. Jika tahanan yang hendak diseret ke kantor polisi, maka suasana akan lengang di atas mobil. Kedua tangan tersegel, dan sorot mata yang tajam menerawang penuh penyesalan. Tapi, disini, kami penuh kegirangan. Dengan raut wajah yang penuh semangat namun rasa kantuk yang melanda, para calon wartawan tak akan pernah patah semangat. Calon wartawan tak akan loyo dan lemah.

Sesampainya di tribun, setelah melakukan perjalanan yang cukup mengesalkan. Bagaimana tak mengesalkan, jika supir mobil seperti orang linglung yang tak tahu jalan. Tapi, semua peristiwa di jalan telah tertepiskan setelah turun dari mobil tersebut. Perasaan lega dan dingin yang merayapi tubuh di malam hari yang mencekam. Lengang. Hanya satu dua orang yang terlihat berjaga di luar. Kami tiba tepat jam 10 malam. Saat yang sebenarnya aku telah tertidur pulas di kasur. Namun, tak dapat disangkal aku tengah berkeliaran di Makassar. Sungguh! Ini adalah petualangan pertama bagi calon jurnalis sepertiku.

Aku begitu tak sabar dan penuh penasaran mengenai apa sebenarnya yang ada di dalam kantor tribun. Terpampang lebar di depan pagar bercat biru, Tribun Timur, Spirit baru Makassar. Namun, bagaimana sih bentuk dan cara penerbitan koran itu? Nah, untuk mengobati rasa penasaran itu, akhirnya kami digiring masuk ke dalam gedung tribun (Entahlah gedung apa namanya). Yang pernah aku baca dalam novel Trilogi Sepatu Dahlan, Dahlan Iskan menyebutnya sebagai bengkel kuli tinta. Hehe, lucu juga sih. Masa, pekerjaan keren kayak gini di sebut kuli tinta. Tapi, julukan itu berlaku di masa lalu.

Sebelum berangkat ke tribun, kami mengadakan pembagian kelompok. Kebetulan, saya berada di kelompok satu. Dengan anggota, Aan, Salahuddin, Gusmi, Azizah, dan Emmy. Setiap kelompok di tugaskan untuk mencari berita di lokasi yang berbeda-beda.

Satu per satu berbaris memasuki ruangan rapat redaksi. Kami berkumpul disana. Tempatnya keren dan ber AC. Lebih enak tidur di tempat itu daripada berdiskusi atau meeting. Di dalam ruangan tersebut, kami di pimpin oleh salah seorang karyawan di kantor Tribun. Tak terlalu lama kami berdikusi, karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mengejar deadline. Itulah sebabnya, kantor agak sepi. Selain karena malam minggu, dimana sebagian pekerjanya beristirahat dirumah, sebagian lagi sibuk membuat berita demi mengejar deadline.

Setelah itu, kami menuju ke pabrik pencetak Koran. Suara mesin yang menderu-deru membuat kami harus berbicara sekeras mungkin agar suara kita dapat terdengar. Di tribun, kami tak akan berlama-lama karena perjalanan kami akan dilanjutkan ke Koran Fajar Makassar.

Tibalah kami di Fajar. Suasana yang berbeda jika di bandingkan dengan Tribun Timur. Ya, seperti yang dilakukan oleh salah satu karyawan Tribun, kita juga disambut oleh Kak Dian Muhtadiah, salah satu karyawan Fajar yang juga dosen di UIN Alauddin Makassar. Kak Dian ini hebat loh. Wanita single yang memiliki satu anak, saking cintanya dengan dunia jurnalistik, wanita cantik ini memberi nama putrinya ‘Jurnaliza’. Lucu kan!

Well, kami disambut baik oleh kak Dian. Kak Dian pun memberikan pengarahan tentang apa-apa yang menjadi pertanyaan kami tentang kegiatan yang mereka geluti sekarang. Kak Dian memperkenalkan rekan-rekannya yang tengah sibuk mengedit berita, membuat Layout, mencari gambar, dll.

Kelompok satu di tugaskan di Karebosi. Yang katanya, disana banyak berkeliaran kupu-kupu malam, waria, pemabuk, yang sedang nongkrong di malam hari. Disinilah pengalaman wawancara pertamaku. Aku menemukan seorang waria yang sedang menunggu kliennya. Bersama dengan Salahuddin aku menghampirinya dan melakukan percakapan.. Lucunya, kita sedang menyamar menjadi anak yang hilang dan tidak tahu mau kemana. Tapi, akhirnya penyamaran kita terbongkar ketika meminta izin untuk mengambil gambarnya. haha.

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *