Traveling

Menengok Kembali Sejarah Bangsa (Tour Gowa-Makassar)

Ahad, 17 November 2013
Deru kendaraan bermotor roda dua membawa kami melaju di permukaan aspal. Awal perjalanan di mulai dari kampus II UIN Alauddin Makassar sekitar pukul 09.00. Pagi itu, rombongan para wartawan muda UKM LIMA Washilah memulai perjalanan mengelilingi Gowa dan Makassar. Perjalanan ini merupakan rangkaian kegiatan tour agar lebih dekat dan mengenal sedikit seluk beluk peninggalan sejarah masa lampau. Teringat kata Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Ya, kami akan menengok tempat-tempat yang bercorak budaya dan sejarah yang ada di Daerah Gowa dan Kota Makassar.  Mengetahui sedikit dari banyak hal dan mengetahui banyak dari sedikit hal. Itu tujuan perjalanan kami.


Tempat yang pertama dikunjungi adalah Balla Lompoa. Namun, aku tidak sempat ikut bersama rombongan Washilah ketika mereka berada di sana. Berhubung, ada hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu, hingga harus menyusul mereka. Balla Lompoa ini sudah sangat lazim di mata saya. Menurut yang saya pahami, Balla Lompoa yang dalam bahasa Indonesia berarti “Rumah yang besar”, dahulu ini merupakan satu-satunya rumah yang paling terbesar di Gowa. Rumah panggung dengan arsitektur yang klasik, rumah yang terbuat dari kayu namun sangat kokoh dan kuat. Di dalamnya begitu banyak peninggalan-peninggalan sejarah kabupaten Gowa, seperti baju bodo, macam-macam badik yang merupakan senjata khas Sulawesi Selatan, lukisan-lukisan masa lampau, gambar Sultan Hasanuddin, dan masih banyak lagi. Kini, bangunan tersebut telah dirancang sedemikian rupa agar terlihat menarik dan menawan di mata pengunjung. Tak jarang, ditempat itu sering diadakan pameran seni hingga menambah suasana keramaian Balla Lompoa.

Kembali menyalakan mesin motor, rombongan Washilah menancap gas untuk melakukan perjalanan berikutnya. Yakni, makam pahlawan Sultan Hasanuddin. Masih bertempat di daerah Gowa. Tepat jam 11.30. Disinilah awal perjalananku ketika menyusul rombongan Washilah. Amat lega rasanya berada ditengah-tengah mereka.

Sultan Hasanuddin, sudah sangat lazim di telinga kita. Siapa yang tak mengenal pahlawan besar Raja Gowa ini. Begitu banyak kisah perjalanan Sultan Hasanuddin yang dibawa dari mulut ke mulut. Dari generasi ke generasi. Memberikan dampak positif bagi generasi muda sekarang. Seorang pahlawan yang patut di contoh. Hingga sampai saat ini makam pahlawan kita tetap di rawat dan di jaga dengan baik. Alhasil, lingkungan sekitar makam menjadi bersih, bunga-bunga terawat dengan baik dan para pengunjung pun senang setiap hari berziarah ke makam beliau, apalagi di akhir pekan.

Tak beberapa lama kami dipotret dan mereka yang memotret, kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah masjid untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur sekaligus beristirahat sejenak. Kebetulan masjid yang kami tempati adalah masjid tertua yang ada di Gowa. Bangunannya tidak terlalu besar namun memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Masjid ini selalu terawat dengan baik hingga tak pernah kehilangan fungsinya. Beberapa menit kemudian setelah selesai melaksanakan sholat berjama’ah, tak ingin membuang-buang waktu lagi, kami berangkat melanjutkan perjalanan.

Kali ini, kami akan ke Tugu Korban 40.000 jiwa. Sekitar pukul 13.45. Dari namanya saja, sudah ngeri mendengarnya. Apalagi ketika kita menggali lebih dalam lagi sejarahnya. Pasti tidak kalah seru dengan cerita-cerita sejarah yang lain. Setelah berkeliling, akhirnya tibalah kami di Tugu Korban 40.000 jiwa. Nampaknya, suasana masih terlihat lengang. Atau memang selalu sepi. Pagarnya tertutup tapi tak terkunci. Kami pun masuk kehalaman Tugu tersebut. Cukup luas, tapi sayang, tak terawat dengan baik. Di halaman depan, terdapat lukisan-lukisan emas berwarna orange. Lukisan yang menggambarkan manusia-manusia yang tak berdaya, terlihat korban-korban pembantaian,  namun memiliki semangat juang yang tinggi. Seperti patung besar seorang pemuda yang berdiri tegak tanpa satu lengan dan satu kaki dan hanya menggunakan sebuah tongkat sebagai alat bantunya untuk berjalan. Patung itu berada disamping kiri lukisan tersebut. Cukup menggambarkan keadaan yang terjadi di masa lalu. Awalnya, aku mengira bahwa itu adalah patung yang
sudah rusak dan rapuh karena kehilangan tangan dan kakinya, ternyata saya salah. Memang begitulah adanya patung besar itu.

Sayang sekali, tak begitu banyak yang bisa ku ketahui tentang Tugu bersejarah ini. Padahal, saya sangat suka cerita-cerita dan tempat-tempat yang bersejarah. Yang terlihat hanyalah daun-daun kering yang berserakan diatas teras, tanaman-tanaman yang berjejeran di belakang museum tidak tumbuh dengan subur, tidak begitu rapi. Entah bagaimana asal mula terjadinya pembantaian itu, siapa sosok pangeran tanpa lengan dan kaki yang berdiri tegak bak raksasa di siang bolong. Sepertinya, pertanyaan-pertanyaan itu tak boleh di simpan terlalu lama dan harus di cari jawabannya. Namun dari hari ke hari, mendengar dan membaca literatur yang ada, rasa penasaran akan sepenuhnya terkikis. Tak lupa kami menghabiskan waktu sejenak untuk mengenang kebersamaan kami di Tugu bersejarah ini. Berfoto, satu-satunya cara mengenang momen-momen sebelum menulis. Dengan melihat gambar, kita juga lebih mampu mendeskripsikan secara detail momen-momen itu dalam bentuk tulisan.

Cukup panas matahari yang bereaksi di siang itu. Teriknya memberikan efek bersimbah keringat membasahi seragam biru kami. Tapi, semua itu tertepiskan karena kebersamaan. Memulai lagi melanjutkan perjalanan. Kali ini, kendaraan bermotor kami berhenti di depan makam raja-raja Tallo. Tempat ini sangat berbeda dengan tempat yang kami kunjungi sebelumnya. Perbedaan itu terlihat dari sisi pengungjungnya. Di makam Raja-raja Tallo ini, tampak ramai. Anak-anak berseliweran di samping makam raja-raja. Halaman yang cukup luas untuk ditempati bermain. Bahkan juga sebagai tempat nongkrong para pemuda di beranda rumah milik taman. Udara yang sejuk dan tentram di bawah rindangnya pohon besar. Pas untuk menikmati kesendirian. Di tempat ini, kami merehatkan badan sejenak. Berbagi cemilan dan makanan di area pemakaman. Bagiku ini merupakan kunjungan pertama ke sebuah pemakaman sambil menyantap makanan.

Mengenai kerajaan Tallo, tak begitu banyak yang saya pahami. Mengingat kembali pelajaran sejarah sewaktu SMP dulu. Kerajaan Tallo ini merupakan salah satu kerajaan di Makassar yang pernah berkedudukan sejajar dengan Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo lebih tepatnya. Tak lupa dengan perjanjian Bongaya pada tahun 1667, yang berdampak pada perlawanan yang melibatkan seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan, khususnya Kerajaan Gowa dan Tallo. Karena kekecewaan dan ketidakpuasan bangsa Belanda, akhirnya Ia mengirimkan pasukan untuk menindak sebagian raja-raja tersebut. Perlawanan yang diakibatkan oleh pihak Belanda itu, menghacurkan Benteng Tallo yang saat ini telah menjadi kompleks pemakaman Raja-raja Tallo yang telah kita saksikan. Sisa-sisa Benteng Tallo masih dapat dilacak sebagai salah satu bukti sisa-sisa Kerajaan Tallo.

Setelah berleha-leha di taman pemakaman, saatnya meluncur ke Benteng Rotterdam. Rotterdam bukan lagi kunjungan pertama, tapi sudah beberapa kali. Benteng Rotterdam merupakan tempat wisata yang hingga menarik perhatian para turis mancanegara. Walaupun begitu, masih banyak hal-hal yang belum saya temukan di tempat ini. Di sini, malah semakin ramai. Apalagi, ketika kita sampai sekitar pukul 15.45. Kumpulan berbagai komunitas ada disini. Sedang menikmati taman-taman hijau Benteng Rotterdam. Salah satunya adalah komunitas reptil. Inilah yang menarik perhatian para pengunjung lain. Tapi, bukannya untuk menengok museum besar itu, malah asyik bermain dan belomba-lomba berfoto dengan artis reptil kita, yaitu ular.

Tak sampai disitu, setelah menceritakan hal yang paling berkesan selama perjalanan, tak terasa waktu menunjukkan pukul 5 sore. Semburat orange di horizon cakrawala telah terbentang luas. Nampaknya, petang telah memberi kabar. Saatnya bersiap-siap ke tempat yang paling sejuk di segala lokasi yang kami kunjungi hari ini. Yakni Pantai Losari. Di tempat yang satu ini, adalah tempat yang paling tepat untuk menyaksikan sunset bersama-sama. Indah nian di pulupuk mata. Sayang jika dilewatkan.

Pantai Losari selalu terlihat hidup. Tak pernah lengang setiap hari. Apalagi di akhir pekan. Orang-orang tak pernah bosan dengan udara yang menyejukkan di waktu pagi apalagi malam hari. Angin yang selalu menerbangkan setiap gundah gulana yang ada, angin yang mengibas-ngibaskan pakaian yang dikenakan, dan angin yang mampu merefresh otak hingga kembali segar dan bugar.

Adzan magrib terdengar dari masjid besar Pantai Losari. Para pengunjung berbodong-bondong melaksanakan ibadah sholat di masjid terapung Pantai. Ketika itu pula, hilanglah sunset digantikan oleh kerlap-kerlip lampu jalanan. Tak lupa mengambil gambar, sebelum terbenam dan setelah terbenam sama-sama merupakan panorama yang indah.

Sampai disinilah perjalanan kami hari ini. Perjalanan yang begitu mengesankan. Selalu ada hikmah dibalik segala peristiwa yang kami jalani seharian penuh. Ada canda, tawa, suka, maupun duka, dan semuanya beradu menjadi satu. Perjalanan ini akan menjadi kenangan dalam sejarah panjang setiap inci kehidupan yang akan dijalani. Hingga terangkum kedalam lembaran-lembaran goresan pena yang akan menjadi memori kita sepanjang masa.

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *