Uncategorized

Under Our Chestnut

Pagi berselimut dingin. Embun diluar sana seakan menyiratkan sesuatu. Badai besar akan datang. Namun, tak ’kan ada yang dapat menghalangiku untuk tetap keluar rumah sepagi itu. Kulangkahkan kakiku yang terasa berat akibat tumpukan salju yang menggumpal dipergelangan. Berjalan terus melawan badai salju yang mengerikan. Jejak-jejak kakiku disepanjang perjalanan akhirnya berhenti tepat dibawah pohon chesnut ini. Aku yakin, ia pasti akan datang.

Dibawah pohon Chestnut ini aku masih setia menunggumu. Menerawang jauh dan kembali mengingat kenangan itu. Dimanakah kamu sekarang? Aku sangat merindukanmu, sahabat kecilku. Ku ingat masa lalu kita yang begitu indah bersama pohon chesnut ini.

“Langit malam ini begitu indah, ya?” ucapku. Kamu masih menatap bintang yang berada di altar langit.

“Iya, bahkan sangat indah. Seindah matamu,”

“Apakah kau tetap akan pulang ke Indonesia?” tanyaku.

“Ya, aku akan pulang ke negara asalku. Tapi, aku janji akan kembali. Tunggu aku dibawah pohon Chestnut ini, di musim salju.” itulah kata terakhirmu padaku. Kini, aku terus hadir  dibawah pohon kenangan ini. Membiarkan bunga-bunga putih Chestnut berguguran.

Sudah setahun kepergianmu tanpa ada kabar.  Apa yang terjadi disana, Sahabatku? Apakah kau telah mendapatkan sahabat baru sehingga melupakan sahabat kecilmu ini. Tapi, aku yakin kau tak seperti itu. Kau selalu menepati janjimu. Dan kalung pemberianmu itu, aku masih menyimpannya dengan aman. Sengaja aku tak memakainya, aku takut kalung itu lenyap di leherku.

Sahabatku, inilah saatnya kau kembali. Seperti janjimu dulu. Di saat musim salju turun kau akan menemuiku disini. Di bawah pohon Chestnut kita. Menggandeng tanganku dan memakaikan cincin pertunangan di jari manisku.

“Alena?” Candy memanggilku. Aku menoleh kearahnya.

“Ada apa, Candy? Sudah kubilang jangan lagi ikut campur dengan urusanku!” bentakku padanya.

“Alena, cuaca sangat buruk. Cepatlah kau kembali kerumah. Ayah dan Ibu sangat mengkhawatirkanmu.” Badai angin kencang itu menampar-nampar tubuhnya. Dingin semakin mengular.

“Aku tak peduli. Kau yang pergi dari sini!”

“Alena, Romi tak akan kembali, dia..”

“Tidak! Jangan kau sebut itu lagi. Romi akan datang padaku hari ini. Dia akan menepati janjinya. Aku yakin itu.”

“Tapi, kau tak boleh terus-terusan berada dibawah pohon itu.”

“Dengar, Candy. Chestnut adalah hidupku. Aku akan tenang berada disini.” Buliran air mata membasahi pipiku yang malang ini. Candy segera menghampiriku, memelukku.

“Alena?” Terdengar suara yang memanggilku. Hatiku terasa berdesir-desir. Aku melihat disekelilingku. Tak ada seorang pun yang kulihat. Hanya banyang-bayang semu yang tak terjamah mewarnai kesepianku saat ini. Suara itu semakin jelas terdengar dan entah apa yang membuatku semakin mendengar suara itu.

“Alena, ikhlaskan kepergianku. Terima kasih atas kesetiaanmu. Kita pasti akan bertemu.” Suara halus itu bergema di telingaku. Aku tahu, itu suara Romi. Walaupun dirinya tak terlihat, tapi aku yakin dia sedang disini, bersamaku.

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *