Uncategorized

Sebuah Keajaiban yang Tak Terduga

Terkesan. Ku buat tepat dihari ulang tahunku yang ke 17. Atas rasa bersyukurku terhadap karunia Allah SWT yang telah memberiku umur yang panjang, maka terbitlah cerpen yang berjudul Sebuah Keajaiban Yang Tak Terduga. Yang mengajak kita untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Cerita sederhana, tapi bermakna untukku. Semoga juga dapat bermanfaat bagi teman-teman. Selamat membaca! ^_^

*

Matahari di ufuk timur kini menyemburkan serangan berupa cahaya keemasan. Cahaya yang luar biasa hingga menembus dinding kaca setiap rumah. Helen yang sedang tertidur pulas di atas ranjang empuknya membuatnya terbangun karena Mama membuka tirai jendela lebar-lebar. Matanya silau akibat kena terpaan sinar matahari pagi.

“Ah Mama. Tirainya nggak usah dibuka lebar-lebar dong. Helen masih ngantuk nih.” pinta Helen manja yang masih asyik dengan bantalnya sambil menguap.

“Ya ampun Helen. Ini kan udah pagi sayang. Sudah waktunya kamu bangun.”

“Udahlah Mama. ini hari libur. Tidak bisakah Helen menghabiskan waktu seharian untuk tidur? Sehari ini saja.” keluh Helen yang matanya masih terpejam.

“Nggak sayang. Anak remaja itu nggak boleh bangun kesiangan. Nggak baik. Yuk kita sarapan sama-sama yah?’ senyum Mama yang memesona membuat Helen tak bisa membantah.

Di meja makan telah tersedia sarapan. Semuanya dihidangkan hanya untuk Regina (mama) dan Helen.

“Ma, selalu saja ada yang kurang di rumah ini. Bahkan setiap hari Helen merasa kekurangan” tanya Helen dengan nada sedikit lembut takut akan menyinggung perasaan mamanya.

“Maksud kamu apa sayang? Helen mestinya bersyukur karena masih bisa hidup mewah seperti ini.Jangan ngomong gitu ah.” Regina tidak mengerti akan ucapan Helen barusan. Apa yang kurang dirumah ini. Semuanya serba  ada. Hidup mereka berkecukupan.

“Hmmm… dengan ketidakhadiran Papa. Rumah ini terasa hampa.”

Regina tak dapat berucap apa-apa lagi. Ia mendadak speechless mendengar kalimat yang dilontarkan Helen. Membuatnya kembali mengingat masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam.

Helen adalah putri semata wayangnya. Anak satu-satunya yang ia sayangi dan selalu dimanjakannya. Anak yang polos, lugu, dan manja. Ia telah berumur 15 tahun. Sebentar lagi umurnya bertambah. Regina sangat berharap dapat melihat kedewasaan anaknya. Hidup bertiga dengan seorang pembantu di dalam rumah yang besar bukan berarti mereka telah memiliki segalanya. Tak ada canda dan tawa yang menghiasi. Rumah bagaikan tak berpenghuni. Regina bekerja di sebuah perusahaan yang mengharuskannya pulang malam. Sehingga Helen merasa hidupnya benar-benar hampa.

Harta memang bukanlah segalanya. Itulah kalimat yang sangat cocok bagi kehidupan mereka. Namun dimanakah Papa Helen sekarang? Kemanakah ia tiga tahun yang lalu? Yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga. Yang hingga saat ini membuat Helen dan Regina berada dalam penderitaan. Papa dan Mama Helen bercerai tiga tahun lalu  Sehingga membuat Helen kehilangan kasih sayang papa yang dicintainya. Helen tidak dapat menerima perpecahan itu. Perpecahan yang sangat melukai hati gadis mungil yang mulai beranjak remaja.

*

Helen masih berkutat didepan i-pod nya. Membalas e-mail – e-mail yang masuk. Kadang ia tersenyum membaca pesan itu kadang pula ia cemberut karena kejahilan teman-temannya. Tiba-tiba dia melihat sebuah email yang membuatnya merasa shock berat. Tangannya gemetar menyentuh layar i-pod nya.

Pagi sayang. Bagaimana kabarmu Helen ?

Papa

Helen masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Papanya yang telah menghilang tiga tahun yang lalu tanpa ada kabar sedikitpun kini kembali muncul dengan sebuah pesan singkat. Mungkinkah ini Papa? Bagaimana Papa bisa tahu email Helen?  pikirnya. Helen kembali menyentuh layar I-podnya. Membalas email Papanya.

“Papa? Benarkah ini Papa? Helen tidak percaya kalau ini Papa?Dimana Papa sekarang?!”

Email terkirim. Pesan singkat itu membuat segudang tanda tanya bagi Helen. Sebuah keajaiban yang tak pernah di duga sebelumnya. Pesannya terbalas.

“Ini beneran Papa sayang. Helen tidak perlu tahu dimana Papa sekarang. Kamu baik-baik saja kan? Bagaimana kabar Mama mu?”

Dengan emosi yang memuncak, Helen menekan tombol huruf di layarnya itu. Ia sudah tak sabar mengeluarkan amarah yang telah tersimpan beberapa tahun yang lalu. Kini saatnya yang paling ia tunggu-tunggu walaupun hanya melalui sebuah pesan.

“Darimana saja Papa? Tidak pernah mengabari Helen. Papa benar-benar jahat!! Bagaimana Mama bisa baik-baik saja disini. Mama sangat menderita, Pa. Semenjak Papa tidak berada disini Mama merasa kesepian. Bahkan Helen seperti berada di neraka!”

Pesan terkirim. Kembali dengan balasan.

“ Maafkan Papa sayang, Papa tidak bermaksud menyakiti kalian berdua. Papa  benar-benar menyesal melakukan semua ini. Seandainya Helen tau apa yang Papa rasakan ini. Papa sangat merindukan kalian. Sangat Helen!”

“Papa harus kembali! Ku mohon Pa?”

“Tidak Helen. Papa tidak mungkin kembali. Mama dan Papa sudah berpisah. Kami sudah bercerai.”

“Tapi aku masih anak papa kan? Aku tidak punya saudara tiri kan Pa?”

“Tidak ada yang bisa menggantikanmu, Helen. Kau masih satu-satunya anak yang paling aku sayangi.Dan satu lagi, jangan beritahu hal ini pada Mamamu.”

“Papa, aku merindukanmu. Aku ingin kau kembali.”

Tak ada lagi balasan. Sudah lama menunggu tapi balasan tak muncul juga. Akan tetapi, Helen sangat bahagia walaupun hanya sesingkat itu percakapannya dengan Papa. Ia berjanji tidak akan memberitahukan hal ini kepada Mamanya.

Malam yang sunyi. Dan setiap hari memang selalu sunyi. Sambil menunggu Mama pulang, Helen selalu duduk di dekat jendela menyaksikan bintang-bintang yang berkelap kelip. Tak ada bintang yang berkelap-kelip sendirian. Ia selalu didampingi oleh bintang lainnya. Membuat Helen iri kepada cahaya kecil itu.

Sudah tiga bulan lamanya pesan itu tak pernah dibalas lagi. Mungkin ada sesuatu yang terjadi ditempat Papanya sekarang berada, pikir Helen. Hari ini, tanggal 17 November. besok adalah hari ulang tahun Helen. Helen tidak tahu apa yang akan terjadi di ulang tahunnya yang ke 16. Mama selalu sibuk. Tak ada waktu untuk merayakannya seperti tahun-tahun yang lalu.Mama hanya memberikan kado yang sangat mahal harganya tetapi itu tidak ada artinya bagi Helen. Ia benar-benar kecewa. Terakhir, Helen merayakan hari ulang tahunnya bersama Papa dan juga Mama. Pesta besar-besaran digelarnya hingga mengundang bahkan para pejabat tinggi. Kado menumpuk setinggi gunung di kamarnya dan dibuka bersama mereka. Betapa indahnya hari itu. Berharap hari itu dapat terulang kembali.

Sekarang, Helen tidak dapat berharap banyak di ulang tahunnya nanti. Pesta besar-besaran mustahil untuk dilakukan. Sebiji kado pun tak diinginkannya. Ia hanya menginginkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Yaitu, kebahagiaan bersama kedua orang tuanya.

Suara handphone berdering. Tertera dilayar ponsel “Mama”. Helen segera mengangkatnya.

“Halo, Ma?”

“Halo, sayang. Helen, maafin mama yah. Malam ini mama tidak bisa pulang. Banyak sekali yang harus Mama kerjakan dikantor. Mungkin besok atau lusa Mama balik. Tidak apa-apa kan sayang?”

“Nggak, Ma. Helen takut sendirian tidak ada Mama. Tidak bisakah pekerjaan Mama ditunda dulu sampai besok?”

“Tidak bisa sayang. Kan ada mbok yang jagain Helen. Mama janji akan pulang cepat.”

“Tapi besok kan….” Tidak sempat melanjutkan percakapan, telepon Mama tertutup. Helen hanya bisa pasrah dan bersabar. Mama hanya mementingkan pekerjaan dari pada anaknya sendiri. Tapi Besok kan hari ulang tahunku. Siapa lagi yang kuharapkan selain Mama. Ucapnya dalam hati. Air matanya tak dapat terbendung lagi. Biarlah para bintang melihatnya menangis malam ini.

*

Jam alarm berdering. Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Hari ini, tanggal 18 November. Tepat hari ulang tahun Helen. Ketika Helen ingin bangkit dari tempat tidurnya, tiba-tiba ia melihat sebuah benda berbungkus kado disamping bantalnya. Mungkinkah ia masih bermimpi. Kembali ia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Memang benar, itu bukan khayalan, mimpi, atau semacamnya. Ini benar-benar kenyataan. Sebuah kado mungil bentuk kotak berwarna merah jambu. Dan kemudian diraihnya kado itu. Ini kado siapa?Mungkinkah ini kado Mama? pikirnya.

Suara ketukan pintu membuatnya segera bangkit dan berlari ke arah sumber suara.

“Non buka pintunya, Non.” suara Mbok Susi dibalik pintu.

“Iya, Mbok. Tunggu sebentar.” Helen membuka pintu. Ia terkejut melihat penampilan Mbok Susi yang seperti ingin kepesta.

“Lho, mau kemana, mbok? Kalau mau ke pasar nggak usah dandan sebagus ini mbok.”

“Yee, siapa juga yang mau ke pasar.”

“Trus mau kemana dong?”

“Memangnya Non ini tidak ingat hari ulang tahunnya. Sana gih, mandi cepat. Tamu-tamu udah hampir berdatangan tuh di bawah. Jangan lupa dandan yang cantik kayak Mbok ini. Hihihi. ” Mbok Susi segera turun ke bawah meninggalkan Helen yang masih bengong ditemapatnya.

Hah! Apa aku nggak salah dengar? Tamu-tamu? Maksudnya apa sih?

“CEPETAN, NON. SEMUANYA PADA NUNGGU DIBAWAH!” teriak Mbok Susi dari tangga.

Helen benar-benar penasaran apa yang sedang terjadi hari ini. Ia segera mandi dan bersiap-siap. Kata Mbok Susi, ia harus berpenampilan cantik. Teringat kembali kado yang terletak diatas tempat tidurnya. Detakan jantungnya tak karuan. Tanda apakah ini? Pikirnya. Langkah demi langkah menuruni tangga dengan perasaan yang campur aduk. Terdengar suara keramaian dibawah sana.

Helen sangat terkejut. Mewah. Benar-benar mewah. Dekorasi pesta yang lama ia idam-idamkan. Tiba-tiba, ia melihat dua sosok yang sangat tidak asing dimatanya. Dua sosok yang selalu dinantikan untuk bersama.

“Papa? Mama?” teriak Helen terhadap keduanya. Ini benar-benar sebuah keajaiban. Di peluk Papa nya dengan penuh kasih sayang. Dengan kerinduan yang luar biasa mereka rasakan. Akhirnya dihari ulang tahun Helen mereka bisa bertemu kembali. Tapi, siapa wanita asing disamping Papa ini.

“Oh iya, sayang. Perkenalkan ini Ratu. Istri papa.” Wanita itu mengulurkan tangan dan tersenyum kepada Helen. Helen membalas uluran itu. Ternyata, Papa sudah menikah lagi. Helen melirik Mama yang sedang memperhatikannya dari tadi. Mama hanya tersenyum manis walaupun  Helen yakin Mama pasti sangat sedih melihat kenyataan ini.

“Sabar ma, sabar. Aku juga akan selalu sabar menghadapi kenyataan ini.” ucap Helen dalam hati.

“Bagaimana sayang dengan dekorasi pesta kamu ? Kamu suka kan? Papa dan Mama yang merencanakannya, loh.” Kata Papa dengan penuh semangat.

“Jadi, ini rencana Papa dan Mama ? Helen sangat suka Ma, Pa. Helen sangat senang. Makasih ya Pa. Makasih ya Ma.” Sambil memeluk Mama dan Papanya.

Helen merasa bahagia dengan kehadiran mereka berdua di hari ulang tahunnya. Akhirnya, harapannya dapat terkabulkan. Dapat melihat Papa dan Mama berdiri tepat dihadapannya walaupun itu hanya sesaat. Walaupun ada wanita lain diantara mereka, Helen sudah bisa merelakannya.

****

Pesta telah selesai.Tamu-tamu akhirnya pulang satu-persatu. Papa dan Ratu pun ingin berpamitan pulang.

“Sayang, jaga dirimu baik-baik yah? Berbakti sama Mama ya.” Kata Papa sambil memeluk Helen.

“Papa, jangan pernah jauh dari Helen. Helen sayang banget sama Papa dan Mama.”

“Iya sayang. Papa juga sayang sama Helen.” Papa melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangan ke Regina.

“Regina, aku pamit dulu yah, jaga Helen baik-baik.” Ucap Papanya.

Regina hanya mengangguk dan tersenyum sedikit. Senyum pahit karena terpaksa. Senyum pahit karena merasakan sakit.

“Helen, Regina. Aku juga pamit.” Kata Ratu.

“Iya, makasih ya.”

Dikamar, Helen membuka kado-kadonya.

“Oh iya, kado yang tadi.” Ia mengingat kado di samping tempat tidurnya tadi yang tak sempat dibukanya. Di ambilnya di atas meja belajar.

“Hmm,, ini dari siapa sih, nggak ada nama pengirimnya.” Benda itu pun dibuka. Sebuah liontin emas berbentuk hati. Di bawah liontin itu terdapat kertas yang berisi surat. Helen membaca surat itu.

Helen, buah hati kami yang sangat kami sayangi. Kami tidak bermaksud menyakiti hati kamu selama ini, nak. Di ulang tahunmu yang ke -16 ini kami sangat mengharapkan kamu bisa menjadi anak yang lebih dewasa. Dapat melawan habatan dan cobaan dalam hidup ini. Papa dan Mama yakin kamu adalah anak yang tegar dan sabar. Maafkan Papa dan Mama yang tidak bisa menjadi orang tua yang baik buat Helen. Sebagai tanda maaf untuk Helen, kami memberikan liontin emas sebagai hadiah ulang tahunmu. Ini mungkin tak sebanding dengan apa yang telah kami lakukan terhadapmu, sayang. Maafkan Papa yang tak bisa berada disampingmu selama ini. Maafkan mama yang selalu sibuk dan tak pernah punya waktu untukmu.

I LOVE YOU, HELEN.

Papa dan Mama.

Helen membuka liontin emas itu. Terdapat sepasang insan yang tersenyum kepada Helen. Foto Papa dan Mama. Ia menggenggam erat liontin itu dengan air mata yang bercucuran diatas pipi lembutnya sambil berkata “I love you too Dad, I love you too Mom.” Haruskah aku menengadah agar air mata ini tidak jatuh lagi. Terima kasih Tuhan kau telah memberiku banyak keajaiban.

Ahad,18 November 2012.

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *