Uncategorized

Dan Ternyata Mimpi Itu

Benda apa yang paling kalian sayangi? Laptop? Blackberry? iPhone? Atau benda-benda lain yang sangat kalian sayangi hingga berkata “I can not live without it”? Lantas, apa yang terjadi jika benda-benda kesayangan kita itu rusak, atau hilang? Dan bagaimana jika kita kehilangan sahabat atau kekasih tercinta? Mungkin teman-teman dapat menyimak sebuah kisah yang dialami oleh sepasang kekasih ini. Baca yuk! Sederhana tapi mengharukan.

Aku terjaga ditengah malam. Nafasku terengah-engah dan wajahku basah oleh keringat yang bercucuran akibat energi  yang terkuras tanpa kusadari. Aku tengah bermimpi buruk lagi. Entah mengapa mimpi buruk ini terus datang menghantuiku.
Apakah maksud dari semua ini? Oh Tuhan, berilah aku petunjukmu. Aku takut akan terjadi apa-apa padanya. Kulirik jam weker, waktu masih menunjukkan pukul 02.00 pagi. Aku tak dapat memejamkan mata sampai adzan subuh berkumandang.

Aroma masakan Mama mulai menyebar disetiap sudut ruangan. Benar-benar masakan yang membangkitkan selera. Tetapi, aku tak punya selera makan. Pikiranku hanya terfokus pada mimpi semalam. Aku kini bersiap-siap ke kampus.

“Eh, Dina. Udah bangun, sayang? Makan yuk,” sapa Mama ketika aku baru saja turun dari tangga.

“Nggak ah Ma. Dina udah mau berangkat, nanti terlambat,” kataku sambil tersenyum. “Aku berangkat dulu, ya Ma.” Mobil Jeep merah telah lama terparkir dihalaman rumah.

*

Aku duduk disebuah taman belakang kampus sambil membaca majalah pemberian sahabatku, Dara. Tiba-tiba aku mendengar seseorang yang memanggil namaku dari kejauhan.

“Dina,” teriaknya. Aku menoleh kearah sumber suara. Itu suara Denis, kekasihku. Ia melambaikan tangan dan segera menghampiriku. Aku, Dara, dan Denis telah lama menjalin persahabatan sejak SMP. Akan tetapi, ketika kami mulai beranjak remaja, entah mengapa timbul benih-benih cinta diantara aku dan Denis. Cinta dan persahabatan memang beda tipis bahkan tidak bisa dipisahkan. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Di sampingnya, aku merasa nyaman dan membuatku terus ingin bersamanya.

“Hai, kok sendirian aja. Dara mana?” sapa Denis kepadaku.

“Dara lagi ke kantin. Sebentar lagi datang kok.” Tak lama kemudian, Dara kembali membawa dua botol air mineral.

“Nih buat kamu, Din.” Sebotol minuman diberikan kepadaku.

“Loh, buat gue mana?” tanya Denis protes.

“Hehe, maaf. Siapa suruh datang terlambat,” ujar Dara cuek dan kemudian duduk disampingku sambil meneguk air mineralnya.

“Memangnya kamu haus? Nih, buat kamu aja.” Aku menyodorkan botol air mineralku ke Denis.

“Nggak sayang, aku Cuma bercanda kok. itu buat kamu aja.” Lagi-lagi senyuman itu membuat aku benar-benar luluh. Kau benar-benar manis Denis. Ungkapku dalam hati. 

“Hmm, Dina, Dara. aku pamit pulang dulu ya, tadi aku dapat telepon dari bibi katanya mama mau dijemput di bandara.” pamit Denis yang segera bangkit dari tempat duduknya.

“Hati-hati ya sayang. Aku… aku harus ikut sama kamu. Kalau kamu kenapa-napa bagaimana? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu.” kataku khawatir dengannya.

“Aku nggak papa kok sayang.Tidak usah khawatir, aku pasti baik-baik saja.”

 Langkah Denis makin lama makin jauh. Aku terus memperhatikannya sampai ia benar-benar telah hilang dari pandanganku. Tiba-tiba Dara mengagetkanku.

“Oi. Kok ngelamun? Lo kenapa Din?”

“Nggak kenapa-napa kok.”

“Ya kalau aku perhatiin, kamu itu perhatian banget sama Denis. Khawatir sampai sebegitunya.”

“Wajar aja, dia kan pacar gue.”

“Iya, gua tau.”

“Hmm, Ra. Aku mau cerita sesuatu sama kamu. Ini menyangkut dengan mimpi aku semalam yang berkaitan dengan Denis.” Aku kembali mengingat detail peristiwa mimpiku semalam. Sebenarnya aku tak sanggup menceritakan mimpi buruk ini. Ketika aku mengingat mimpi ini, aku seakan berada dalam kesakitan yang abadi. Dan itu membuat jantungku berdetak kencang. Aku meremas botol air mineral yang berada ditanganku dan mulai bercerita.

“Aku melihat diriku sedang berada di sebuah tempat yang sunyi entah dimana itu. Tempat yang menurutku tidak asing dan sering aku kunjungi. Dari kejauhan aku melihat Denis sedang berjalan ke arahku, memandangiku dengan senyuman terindahnya. Aku membalas senyuman itu. Tapi senyuman itu mulai surut ketika sebuah mobil melaju kencang disertai cahaya putih yang menyeruak dan menabrak Denis. Darah kental mengalir dari mulut, telinga, dan hidungnya. Aku berteriak sekencang mungkin. Kejadian itu terus berulang-ulang dalam mimpiku, sehingga aku merasa ini bukan mimpi belaka.” Air mataku mengucur deras hingga kini aku berada dipelukan Dara.

“Itukan cuma mimpi sayang. Kamu harus yakin, Denis akan baik-baik saja. Percaya deh sama aku.”

“Tapi kan ini bukan mimpi seperti yang biasa aku alami, Dara. Ini benar-benar langka dan aku merasa mimpi itu…..akan terjadi.”

“Hussh. Kamu nggak boleh ngomong gitu. Anggap semua mimpi itu hanya mimpi yang tak berarti, Dina.” Aku terisak sementara angin berbisik padaku.

*

Sore ini, aku dan Denis tengah berdua disebuah tempat yang selalu kami kunjungi, ditaman luas dekat danau. Suasananya nyaman dan sejuk. Sejak kecil kami sering bermain ditempat ini, meniupkan gelembung-gelembung yang kemudian terbang bersama angin.

“Kamu masih ingat nggak dengan masa kecil kita dulu?” Denis menatapku dengan tatapan yang membuatku semakin mengaguminya. Aku hanya tersenyum mengangguk.

“Oh iya. Aku punya sesuatu buat kamu.” Tangannya merogoh saku mengambil sesuatu. “Tunggu sebentar ya… Hmm TADAAA…” Dua botol mungil berisi air yang dapat digunakan untuk bermain gelembung. Aku mengambil satu dari tangannya.

“Udah lama ya kita nggak main gelembung ini,” ujarku sambil membuka botol mungil itu. Kami meniup gelembung itu bersama sambil tertawa lepas. Kini aku bersyukur masih bisa melihat senyum Denis. Berharap senyum itu akan selalu aku lihat.

“Dina, tunggu sebentar ya, aku mau beli minuman di seberang jalan sana. Sebentar aja ya.”

“Kamu hati-hati ya.” Jalan raya terasa sunyi. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat sebuah bis yang melaju kencang di jalan raya sementara Denis masih berjalan menuju seberang. Aku segera bangkit dari tempat duduk. “DENIS! AWAS!” teriakku panik. Aku berlari menyusul Denis. Bis semakin mendekat dan “Aaaaaakkkkk” aku menubruk jatuh terkapar dan darah terasa dingin mengucur deras dari kepalaku. Aku melihat buram orang-orang berlari mengerumuniku hingga mataku tertutup untuk selamanya.

Denis, aku melihatmu. Aku senang bisa melihatmu, Kau sedang berjongkok menatap pedih sebuah gundukan tanah makam dengan batu nisan yang bertuliskan, DINA ANDRENATA, 3 FEBRUARI 1994 – 16 DESEMBER 2011.

Aku memang telah tiada, tapi aku masih didepanmu. Aku tak membutuhkan ratap sedihmu Denis. Aku membutuhkan tatapan senyumanmu yang sering kau berikan padaku. Denis, tolong tersenyumlah untuk kali ini saja. Aku akan tenang dengan tatapan senyummu pada pusaraku.

*

Jum’at, 21 Desember 2012

dilabahar

I’m Dila Bahar. Working as a journalist, editor and freelance writer. Magister Communication Science at UGM.

Yuk, baca ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *